Sewaktu membaca webtoon Lovesomnia, aku lantas teringat pada Atika, sang penulis novel yang telah diadaptasi menjadi webtoon ini yang juga memiliki karya lain. Salah satunya adalah novel bertajuk Jodohku Om-Om, yang dahulu pernah nangkring di platform Wattpad sebelum diterbitkan secara fisik.
Jodohku Om-Om merupakan novel karya Atika yang mengusung genre romansa, youth, dan komedi yang diterbitkan oleh Lotus Publisher pada tahun 2020. Lewat 380 halaman ini, pembaca bakal diajak baper, ngakak, sampai dag dig dug ser ala remaja kasmaran, karena alurnya yang ringan, menawan, dan kalau nggak hati-hati malah bikin sawan.
Covernya sendiri menampilkan sepasang insan dengan background dedaunan hijau, yang seakan menjadi simbol ‘lampu hijaunya’ hubungan mereka.
Perjodohan di Abad 20
Jodohku Om-Om sendiri mengisahkan seorang gadis belia bernama Diandra Rezkalio yang sedang galau dan dilemma karena harus menerima perjodohan dari orang tuanya. Masalahnya, dia ini baru lulus SMA dan masih berusia 18 tahun. Ditambah lagi, ini sudah abad 20 dimana perjodohan rasanya kurang relevan.
Belum sampai disitu, Diandra betul-betul nyaris gila dan sawan kala tahu bahwa calon suaminya yang bernama Guntur Pranaja berusia 33 tahun. Dengan jarak usia sejauh itu, ketakutan Diandra mencuat. Manalagi, perusahaan tempat papanya bekerja ternyata adalah milik keluarga Pranaja, yang kian membuat Diandra nangis kejer.
Lantas, akankah perjodohan mereka berjalan mulus sebagaimana kisah negeri dongeng?
Judul dan Alurnya Bocor Alus, Tapi Cukup Mengisi Kebosanan
Sebagai penikmat alur cerita ringan, kuakui bahwa Jodohku Om-Om terlampau ringan bahkan nggak memiliki konflik berarti. Termasuk pada konflik utama seputar perjodohan, situasinya mulus-mulus saja. Rasanya nggak sedramatis kisah legendaris Siti Nurbaya, atau pertentangan sengit dan gejolak batin pada perjodohan Hanafi dan Rapiah dalam novel Salah Asuhan.
Kupikir, ini adalah signature khas Atika yang senantiasa mengeksekusi cerita romansa menjadi ringan, tidak jemu, dan manis. Walau kalau terjadi di real life pasti bikin sawan.
Termasuk dialog-dialog kaku dari male lead, dan dialog sok imut dan sedikit menye-menye dari female lead. Digabung dengan narasi penuh romansa, dan bumbu kemewahan duniawi berupa CEO muda, tampan, nan kaya raya, novel ini adalah khas Atika sekali.
Walau kisahnya mudah ditebak oleh pembaca karena menyajikan ritme kehidupan penuh stevia, dan naratifnya cuma berputar pada tokoh utama tanpa world building yang kuat, novel ini masih bisa dibaca di waktu senggang. Bukan karena lovey dovey-nya yang menarik bagi jomblo, tetapi alur ringannya yang nggak bakal bikin mood jatuh, dengan susupan komedi receh.
Perjodohan itu Boleh, Tapi Pendidikan Tetap yang Utama
Selain alurnya yang easy flow dan deskripsi visual yang cakep nan keren, novel ini turut menyajikan sisi yang masih belum bisa kuterima secara nalar. Secara harfiah dan logika, perjodohan memang dibolehkan. Namun, bukankah Kantor Urusan Agama kini memberikan batas usia pernikahan? Tapi dalam novel ini, Diandra dikisahkan masih berusia 18 tahun yang mana masih dibawah umur lho!
Kemudian, perbedaan usia yang jauh sebenarnya sah-sah saja. Namun, tentu ada kekhawatiran perbedaan opini, pemikiran, dan selera yang nggak bakal bisa dipungkiri kan? Maksudku, usia 18 tahun bukankah sebaiknya meneruskan studi? Apalagi, Diandra ini kan berasal dari keluarga menengah ke atas juga. Oke, aku ngerti kalau ini hanyalah kisah fiksi semata. Tapi, entah kenapa aku masih nggak terima.
Wajib Pakai Logika dan Nalar yang Baik Pas Baca
Jodohku Om-Om sebetulnya menyajikan ide yang keren dan relate seputar perjodohan. Hal tersebut memang banyak pro dan kontra dari jaman dahulu.
Namun, novel ini terkesan terlalu ringan untuk satu polemik global yang sejatinya krusial. Pembawaannya terlalu easy, kemudian disusupi scene dewasa. Betul-betul harus dijadikan sekadar bacaan luang alih-alih mengupas amanat. Karenanya, novel ini disarankan dibaca untuk usia 18 tahun ke atas, dan wajib menggunakan nalar dan logika berpikir yang baik. Bahwasanya, dunia pernikahan itu nggak bakal semulus kehidupan putri-putri Disney.
Secara keseluruhan aku memberikan nilai 7/10 untuk Jodohku Om-Om.
Identitas Buku
Judul: Jodohku Om-Om
Penulis: Atika
Genre: romance, youth, komedi
Terbit: 1 Januari 2020
Penerbit: Lotus Publisher
Negara Asal: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Jumlah Halaman: 380
Baca Juga
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
-
Isekai Via Lemari dalam Film Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe
-
Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'
Artikel Terkait
-
Hikayat Kadiroen: Mantri Polisi yang Memilih Antara Pangkat dan Rakyat
-
Ulasan Novel Halte Alam Baka, Pertemuan di Batas Dua Dunia yang Mengharukan
-
Novel Haru-Biru, Dua Kisah Menyentuh tentang Cinta dan Pengorbanan
-
Ulasan Novel Katri, di Balik Senyum Tenang yang Menyimpan Seribu Rahasia
-
Ahmad Tohari dan Realisme Magis yang Sunyi dalam Lintang Kemukus Dini Hari
Ulasan
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Urang Bunian: Mengungkap Horor Folklore Hutan Belantara Sumatra Barat!
-
Mengupas Sisi Psikologis Film Iyus Jenius, Pentingnya Memberi Ruang Anak untuk Bersedih
-
Bukan Sekadar Buku Anak, Make Believe Mengkritik Cara Orang Dewasa Membaca
Terkini
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif