Sekar Anindyah Lamase | Taufiq Hidayat
Kedai 1001 Mimpi, Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI. (goodreads)
Taufiq Hidayat

Datang ke sini itu harus siap ‘dijajah’. Baik jiwa maupun raga!” — Yuti

Setiap kali saya membuka dan mengonsumsi lembar demi lembar karya literasi dari Valiant Budi Yogi, atau yang lebih akrab disapa Vabyo, saya selalu memasang kuda-kuda psikologis untuk menghadapi berbagai kejutan naratif.

Awalnya, saya mengira buku ini akan menyajikan pola jebakan plot fiksi yang rumit. Namun, asumsi saya keliru besar. Kali ini tidak ada jebakan imajinatif.

Buku Kedai 1001 Mimpi hadir sebagai sebuah karya nonfiksi memoar yang jujur, telanjang, dan setiap babnya bertindak bagaikan wahana emosional yang memaksa pembaca untuk tersenyum getir, sebelum akhirnya dibuat ingin menangis sejadi-jadinya.

Buku ini menyingkap tabir riwayat hidup Vabyo yang sempat "menghilang" dari panggung kesusastraan tanah air demi merantau ke Dammam, sebuah kota di Arab Saudi, untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Sembari berseloroh dalam hati, saya sempat ingin menggugat keputusannya, “Nanaonan sih, Kang! Seolah tidak ada pekerjaan lain di Indonesia.” Namun, siapa saya? Saya hanyalah seorang pembaca layar kaca yang pada akhirnya menarik napas lega dan bersyukur karena salah satu penulis favoritnya berhasil pulang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dalam kondisi selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Di Dammam, Vabyo mengadu nasib dengan berprofesi sebagai seorang barista di sebuah kedai kopi yang mengklaim diri memiliki standar internasional. Namun sayangnya, realitas di lapangan membuktikan bahwa mutu dan tata kelola manajemen kedai tersebut melompat jauh ke bawah dari apa yang diharapkan dari sebuah jenama global.

Sejak hari pertama menapakkan kaki di tanah gersang tersebut, Vabyo langsung dihantam oleh rentetan rintangan yang bertubi-tubi. Jangan pernah mengeluhkan perihal cuaca ekstrem yang menyengat kulit, karena atmosfer neraka kerja yang ia hadapi setelahnya jauh lebih membakar kewarasan jiwanya.

Ironi Komedi di Tengah Eksploitasi "Neraka" Dammam

Secara teknis kepenulisan, pada paruh awal membaca, cara bercerita Vabyo dalam Kedai 1001 Mimpi terasa agak “mengganggu” indra penceritaan saya.

Pilihan rima di setiap akhir kalimat terkadang terasa puitis yang dipaksakan, ditambah dengan sisipan gaya komedi slapstik yang rasanya kurang selaras untuk membungkus sebuah buku dokumenter bermuatan berat.

Namun, pasca menyelesaikan halaman terakhir, kesadaran saya mendadak terbentur pada sebuah kesimpulan: cara bercerita yang eksentrik itu justru sengaja diproduksi oleh Vabyo.

Menertawakan kegetiran hidup yang teramat perih melalui medium komedi satire adalah sebuah ironi tertinggi untuk bertahan hidup agar tidak gila di tengah tekanan.

Bab demi bab dalam memoar ini mengalirkan rangkaian kisah traumatis yang membuat saya beberapa kali berdoa agar semua ini hanyalah produk imajinasi fiktif semata.

Kedai kopi tempat Vabyo bekerja bertindak layaknya "neraka" duniawi dalam skala mikro. Ekositem kerjanya dipenuhi oleh rekan sejawat yang toksik, tidak memiliki etos kerja sama, dan cenderung manipulatif. Belum lagi kelakuan manajer toko yang gemar berutang serta nekat menyelewengkan uang kas hasil penjualan harian.

Penderitaan para pekerja migran ini kian paripurna dengan adanya sistem kafala, di mana paspor mereka ditahan secara sepihak oleh korporasi, mengunci ruang gerak mereka untuk melarikan diri. Dari departemen konsumen pun tidak kalah ajaib; barisan pelanggan kedai yang datang harian memiliki tabiat buruk yang rasanya sangat cocok untuk dihadiahi secangkir kopi bersianida ala Jessica Wongso.

Solidaritas Kaum Marjinal dan Gugatan Terhadap Standar Ganda

Buku ini melangkah lebih dalam dengan memotret nasib pilu para pekerja migran Indonesia lainnya yang bernasib lebih malang. Ada kisah Teh Yuti, seorang buruh domestik asal Tasikmalaya yang berkali-kali harus berhadapan dengan syahwat dan niat jahat dari sang majikan.

Beruntung, Teh Yuti dibekali kecerdasan taktis untuk melakukan perlawanan balik guna mempertahankan kehormatannya, kendati pada akhirnya takdir membawanya pada gerbang pernikahan yang tidak seindah dongeng-dongeng sebelum tidur.

Ada pula potret Mas Blitar, seorang pria yang mengadu nasib sebagai sopir pribadi, yang justru kerap menjadi korban pelecehan seksual secara verbal maupun fisik oleh majikannya. Impitan ekonomi dan ancaman struktural memaksa dirinya bertransformasi menjadi "pria pemuas komoditas" yang siap digunakan kapan saja secara bergiliran.

Jika Anda termasuk ke dalam golongan masyarakat yang mengira bahwa Arab Saudi adalah sebuah tanah suci utopis di mana seluruh manusianya mengenakan gamis dan abaya yang senantiasa melafalkan nama Tuhan, sebuah potret absolut dari para calon penghuni surga, maka saya sangat menyarankan Anda untuk membaca buku ini.

Jika Anda masih memelihara dogma bahwa di tanah tempat agama Islam ini bermula, kaum perempuan otomatis memiliki derajat kehidupan yang jauh lebih mulia dan terlindungi, saya merekomendasikan buku ini sebagai pembanding realitas.

Jika Anda percaya bahwa jazirah tersebut steril dari praktik perzinahan, bersih dari eksistensi kelompok homoseksual, atau berpikir bahwa rasisme hanyalah monopoli eksklusif orang-orang berkulit putih di belahan barat dunia, serta menganggap tidak ada pesta alkohol dan pemuasan berahi terselubung di sana: SAYA SARANKAN ANDA MEMBACA BUKU INI.

Vabyo dengan berani memaparkan fakta sosial yang memilukan di Dammam, mengenai seorang perempuan korban pemerkosaan massal yang ironisnya berujung hamil.

Ketika korban mendatangi institusi rumah sakit demi mengakses layanan aborsi kedaruratan, pihak medis justru melaporkannya ke otoritas hukum dengan delik pidana hamil di luar nikah, yang berujung pada penahanan sang korban di jeruji besi. Sebuah realitas hukum yang terasa sangat sakit dan cacat logika kemanusiaan.

Kesimpulan

"Gebleg juga ya. Aku berjanji tidak akan menceritakan pengalaman memalukan ini pada siapa pun! Dikejar-kejar pria tengah malam sambil bawa-bawa ayam goreng. Nenteng ayam disangka ‘ayam’." — Halaman 115

Sisi paling gila sekaligus menjijikkan dari memoar ini adalah fakta objektif bahwa Vabyo tidak hanya sekali atau dua kali menerima tindakan pelecehan seksual dari sesama pria di sana, melainkan berkali-kali dalam intensitas yang sering. Pengalaman traumatis dikejar-kejar pria hidung belang di tengah gulita malam hanya karena salah paham estetika komoditas adalah sebuah tamparan keras bagi martabat kemanusiaan.

Secara keseluruhan, Kedai 1001 Mimpi bukanlah sekadar catatan harian seorang barista rantau. Buku terbitan ini adalah sebuah manifesto kritik sosial, sebuah ulasan etnografi populer yang menelanjangi kemunafikan sistemik, rasisme struktural terhadap paspor dunia ketiga, serta standar ganda moralitas yang terjadi di balik megahnya arsitektur Timur Tengah. Sebuah karya wajib baca bagi siapa saja yang ingin merawat kewarasan berpikir dan melihat dunia secara apa adanya.

Identitas Buku:

  • Judul: Kedai 1001 Mimpi, Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI
  • Penulis: Valiant Budi
  • Penerbit: Gagas Media, 2011
  • Tebal: xii + 444 halaman
  • ISBN: 979-780-497-6