Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir semakin berani mengangkat profesi atau tradisi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Pemandi Jenazah, garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu dengan skenario karya Lele Laila.
Dibintangi Aghniny Haque, Djenar Maesa Ayu, Ibrahim Risyad, dan Amara Sophie, film berdurasi 107 menit ini mencoba memadukan horor supranatural, misteri pembunuhan, dan drama keluarga dalam satu cerita.
Sinopsis Pemandi Jenazah
Yang membuat Pemandi Jenazah berbeda sejak awal adalah profesi tokoh utamanya. Lela (Aghniny Haque) merupakan putri dari Bu Siti (Djenar Maesa Ayu), satu-satunya pemandi jenazah perempuan di desanya. Sejak kecil, Lela telah membantu sang ibu menjalankan tugas yang bagi sebagian orang dianggap sakral sekaligus menegangkan. Namun, berbeda dengan harapan ibunya, Lela sebenarnya tidak ingin meneruskan profesi tersebut. Ia ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.
Keinginan itu berubah ketika tragedi datang secara tiba-tiba. Bu Siti meninggal secara misterius dalam kondisi mengenaskan. Dengan hati yang masih dipenuhi duka, Lela harus melakukan tugas paling berat dalam hidupnya: memandikan jenazah ibunya sendiri. Dalam proses itulah ia menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin bahwa kematian sang ibu bukanlah kematian biasa.
Tidak lama berselang, satu per satu perempuan di desa itu meninggal dengan pola yang serupa. Setiap kali memandikan jenazah, Lela menemukan benda-benda aneh di dalam tubuh korban yang mengarah pada dugaan praktik santet. Dari sinilah film berkembang menjadi kisah investigasi supranatural yang membawa Lela menelusuri rahasia kelam di balik kematian para korban.
Kekuatan terbesar film ini justru terletak pada bagaimana ia memperlakukan profesi pemandi jenazah dengan cukup hormat. Penonton diajak melihat tahapan memandikan, mengafani, hingga memperlakukan jenazah sesuai adab yang berlaku. Adegan-adegan tersebut bukan hanya menjadi latar cerita, tetapi juga mengingatkan bahwa kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Kelebihan dan Kekurangan
Film ini juga menyisipkan gagasan menarik melalui karakter Bu Siti yang memiliki kemampuan merasakan datangnya ajal seseorang. Alih-alih menjadi kekuatan yang membanggakan, kemampuan itu digambarkan sebagai beban hidup yang terus mengingatkannya pada kematian orang lain. Djenar Maesa Ayu berhasil menghadirkan aura mencekam sekaligus penuh belas kasih dalam memerankan sosok tersebut.
Aghniny Haque pun tampil cukup meyakinkan sebagai Lela. Ekspresi kehilangan ketika harus memandikan jenazah ibunya menjadi salah satu adegan paling emosional dalam film ini. Tangisan Lela saat menutup mata sang ibu dan memohon agar ia ikhlas dimandikan menjadi momen yang jauh lebih menyentuh daripada sebagian besar adegan horornya.
Dari sisi horor, Pemandi Jenazah menawarkan variasi jump scare yang cukup efektif. Jenazah yang tiba-tiba membuka mata, tubuh yang bergerak tanpa sebab, hingga suasana ruang pemandian yang sunyi berhasil membangun ketegangan. Beberapa sisipan komedi melalui karakter marbot masjid juga membuat ritme film terasa lebih ringan di tengah suasana kelam.
Sayangnya, kekuatan tersebut tidak sepenuhnya bertahan hingga akhir cerita. Setelah misteri mulai diungkap, alur terasa repetitif. Polanya hampir selalu sama: ada korban baru, Lela memandikan jenazah, menemukan petunjuk santet, lalu kembali menyelidiki. Pengulangan ini membuat intensitas horor justru menurun karena penonton mulai bisa menebak arah ceritanya.
Pesan Moral
Babak penutup sebenarnya menghadirkan identitas pelaku beserta motif balas dendam yang menjadi pemicu seluruh tragedi. Namun, penyelesaiannya terasa kurang memuaskan. Beberapa keputusan tokoh tampak dipaksakan, sementara pesan moral yang ingin disampaikan mengenai siapa sebenarnya pihak yang bersalah menjadi kurang tegas. Konflik yang sejak awal dibangun dengan cukup menarik akhirnya kehilangan daya ledaknya.
Meski demikian, film ini tetap memiliki nilai lebih dibanding sekadar horor penuh teriakan. Pemandi Jenazah mengajak penonton merenungkan kematian, rahasia yang dibawa seseorang hingga akhir hayat, serta pentingnya menjaga kehormatan orang yang telah meninggal. Nuansa religiusnya tidak terasa menggurui, melainkan hadir melalui pekerjaan tokoh utamanya yang begitu dekat dengan ritual terakhir manusia.
Pada akhirnya, Pemandi Jenazah adalah film yang memiliki premis unik dan sejumlah adegan emosional yang berhasil menyentuh. Horornya efektif di awal, atmosfernya cukup mencekam, dan profesi pemandi jenazah berhasil diangkat sebagai sesuatu yang layak dihormati.
Namun, ketika misterinya mulai dibuka satu per satu, film ini kehilangan sebagian kekuatannya. Tetapi tetap menjadi tontonan yang mengingatkan bahwa kematian selalu menyimpan pelajaran bagi mereka yang masih hidup.
Identitas Film
- Judul: Pemandi Jenazah
- Tanggal rilis: 22 Februari 2024
- Sutradara: Hadrah Daeng Ratu
- Durasi: 1 j 47 m
- Produser: Tony Ramesh, Jody Bany Wicaksono, Clarissa Eunike Dris
- Perusahaan produksi: Visual Media Studio (VMS)
- Skenario: Laila Nurazizah
Pemeran Utama:
- Aghniny Haque sebagai Lela
- Ibrahim Risyad sebagai Arif
- Amara Sophie sebagai Amara
- Djenar Maesa Ayu sebagai Siti
Baca Juga
-
Peternak Kecil Terjepit di Tengah Monopoli dan Kebijakan
-
Mitos Bahwa Indonesia Tidak Kekurangan Orang Pintar
-
Pajak Dana Pensiun: Benar Secara Hukum, Adilkah dalam Praktik?
-
Mengakhiri Warisan Luka dalam Pola Asuh Anak Perempuan
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
Artikel Terkait
Ulasan
-
Obsession Membuktikan Hollywood Mampu Mengemas Mitos Pelet Begitu Memikat
-
Berlari Bersama Forrest Gump: Mengapa Ketulusan Adalah Senjata Terkuat Menghadapi Dunia yang Kejam
-
Yang Masih Lajang: Ujian Wanita Karier yang Berhadapan Tuntutan Pernikahan
-
Kimi Ni Todoke: Pentingnya Dukungan dan Lingkungan Sehat bagi Introvert
-
Review Hungry: Potret Bahaya Alam Liar melalui Serangan Predator Mematikan!
Terkini
-
Piala Dunia 2026,Babak 32 Besar, dan Pertemuan Brasil dengan Jepang yang Terjadwal Terlalu Dini
-
Bingkai Tanpa Subjek
-
Webtoon Hit Hero Killer Diadaptasi Jadi Anime, Ungkap Sutradara dan Studio
-
Teman Curhat AI dan Kesepian Gen Z: Solusi Praktis atau Sekadar Pelarian?
-
Tagihan Paylater Diam-diam Jadi Beban: Tanggal Tua Terasa Makin Menakutkan?