Lintang Siltya Utami | Chairun Nisa
Lotus Taxi. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Seringkali saya salah sangka jika melihat sampul novel Jepang, apalagi terbitan Grasindo yang sering menampilkan ilustrasi kucing yang menggemaskan, pasti isinya bakal lucu atau ringan. Saya selalu berekspektasi akan disuguhi cerita hangat tentang kehidupan kucing yang menghibur atau kisah santai yang bisa menemani waktu luang. Ternyata, saya salah besar dengan Lotus Taxi. Alih-alih cerita tentang kucing yang manis, novel ini justru menarik saya masuk ke dalam perjalanan malam yang dingin, misterius, dan terasa mencekam. Begitu membuka halamannya, saya sadar bahwa sampul itu hanyalah pintu masuk menuju sesuatu yang jauh lebih dalam dan kelam di sebuah perusahaan taksi yang tidak biasa.

Buku ini disusun dalam empat bab besar: Sanada, Todokoro kun, Ogawadou san, dan Kitsu san. Awalnya saya pikir ini kumpulan cerita pendek yang tidak berhubungan. Tapi ternyata saya salah lagi. Ceritanya benar-benar saling mengunci. Kalau kamu jeli memperhatikan dialog di setiap bab, kamu bakal menemukan petunjuk kecil yang akhirnya menjawab teka-teki besar di bab terakhir. Plot twist-nya terasa sangat pas dan tidak dipaksakan.

Perusahaan taksi ini bukanlah operator besar dengan armada yang sibuk berlalu-lalang di siang hari. Ini adalah Lotus Taxi, sebuah usaha yang sangat minimalis dan hanya dijalankan oleh dua orang saja: sang bos dan Kimura, satu-satunya sopir yang setia menyusuri jalanan kota saat orang-orang sudah terlelap. Operasional mereka pun terbatas pada jam-jam malam, di mana lampu kota mulai meredup dan batas antara dunia nyata dengan hal-hal yang tidak terlihat menjadi kabur.

Kimura tidak sekadar mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain; dia adalah saksi bisu bagi jiwa-jiwa yang sedang menempuh perjalanan terakhir mereka. Di dalam kabin yang sempit dan pengap, ia sering kali mendapati bahwa yang duduk di jok belakang bukan hanya manusia dengan beban hidup yang berat, melainkan terkadang "sesuatu" lain yang ikut menumpang tanpa permisi. Suasana sunyi di balik kemudi itulah yang membuat setiap bab dalam buku ini terasa seperti sedang mengintip rahasia gelap yang selama ini terkubur rapat di bawah permukaan kota yang tenang.

Saat membaca buku ini, saya sempat teringat suasana di drama Hotel del Luna. Ada rasa emosional yang mirip, di mana setiap penumpang yang duduk di jok belakang taksi membawa beban hidup yang berat. Mereka punya rahasia, penyesalan, atau rasa bersalah yang selama ini disembunyikan rapat-rapat. Kimura, si sopir, perannya di sini sangat pasif. Dia cuma pendengar yang baik. Dia tidak menghakimi, tidak kepo, dan tidak menuntut penjelasan apa pun. Dia membiarkan penumpangnya tumpah ruah mengeluarkan isi hatinya sampai mereka merasa lega.

Penulis juga cukup cerdas dalam memasukkan elemen budaya Jepang seperti nekomata atau tradisi permainan Kokkuri-san ke dalam cerita, sehingga meskipun temanya kental dengan nuansa supranatural, detail ini dijelaskan dengan catatan kaki yang cukup membantu pembaca agar tidak bingung. Secara keseluruhan, Lotus Taxi bukan sekadar novel J-Lit yang hanya fokus pada suasana, melainkan gabungan genre slice of life, misteri, dan horor yang terasa cukup manusiawi.

Gen Kato berhasil merangkai kisah tentang luka dan penerimaan tanpa terkesan menggurui pembacanya. Jadi, kalau kamu sedang mencari buku yang alurnya santai namun tetap bikin penasaran dengan kejutan-kejutan di tiap babnya, novel ini bisa jadi pilihan yang menarik untuk dibaca saat sedang luang.

Identitas Buku:

Judul: Lotus Taxi
Penulis: Gen Kato
Penerbit: Grasindo
ISBN: 9786020531922