Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Makan Siang Okta (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Dapat ditebak bahwa alasan aku mengambil buku ini dari sekian banyak deretan buku di rak adalah judulnya. Iya, sesederhana buku ini memuat namaku. Karena ketebalannya cenderung tipis, kupikir isinya juga akan ringan. Tapi ternyata, menamatkan buku ini jauh lebih berat dari dugaanku. 

Buku ini beneran mengingatkanku sama Dunia Sophie karya Jonstein G. Diambil dari sudut pandang seorang anak dan begitu rinci tiap gerakan dijelaskan dalam satu narasi panjang. Bosan, lambat, intens, itulah pengalaman yang ditawarkan Makan Siang Okta: Sebuah Cerita Tiga Bagian karya Nurul Hanafi, sebuah novel sastra yang pertama kali diterbitkan oleh Shira Media pada tahun 2019.

Novel setebal 170 halaman ini bahkan masuk dalam daftar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2020, sebuah penghargaan sastra bergengsi di Indonesia. Dan inti dari buku ini adalah sebuah kutipan singkat. Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas. 

Sinopsis Buku

Sejak halaman pertama, pembaca akan menyadari bahwa novel ini berbeda dari kebanyakan karya fiksi populer. Tidak ada konflik besar yang langsung muncul. Tidak ada petualangan spektakuler atau misteri yang harus dipecahkan. Yang ada hanyalah seorang anak laki-laki bernama Tendy yang datang ke rumah teman sekelasnya, Okta, dengan alasan meminjam buku.

Alasan tersebut hanyalah dalih. Kedatangannya didorong oleh perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami: ketertarikan polos seorang anak kepada teman perempuan yang ia anggap paling cantik di kelas.

Premisnya sangat sederhana. Bahkan nyaris tidak ada peristiwa besar yang terjadi. Sebagian besar cerita berlangsung ketika Okta sedang makan siang di beranda rumahnya. Percakapan mereka mengalir perlahan, berpindah dari satu topik remeh ke topik lainnya, mulai dari ikan bandeng, selop bergambar pesawat, buku cerita, hingga permainan bekel. Namun justru dari percakapan-percakapan sederhana itulah Nurul Hanafi membangun dunia batin tokoh-tokohnya.

Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berpusat pada pertemuan Tendy dan Okta di beranda rumah. Bagian kedua membawa pembaca masuk ke dalam rumah ketika ibu Okta ikut terlibat dalam percakapan. Sementara bagian ketiga berlangsung sekitar seminggu kemudian saat Tendy mengembalikan buku yang dipinjamnya. Secara keseluruhan, struktur cerita tetap mempertahankan fokus pada hubungan antartokoh, bukan pada perkembangan alur yang dramatis.

Kelebihan dan Kekurangan

Keunikan terbesar novel ini terletak pada teknik penceritaannya. Makan Siang Okta merupakan novel yang sangat berorientasi pada karakter (character-driven), bukan pada plot (plot-driven). Pembaca lebih banyak diajak menyelami isi kepala Tendy daripada mengikuti rangkaian peristiwa. Hampir setiap gerakan Okta memancing rangkaian pikiran, imajinasi, dan spekulasi dalam benak Tendy.

Cara Okta memegang sendok, lamanya ia makan, tawanya, bahkan benda-benda sederhana di sekitarnya menjadi bahan renungan panjang.

Sudut pandang orang pertama membuat pembaca benar-benar berada di dalam kepala seorang anak. Cara berpikir Tendy terasa lugu, spontan, sekaligus penuh imajinasi. Ia sering membesar-besarkan hal-hal kecil, menyusun berbagai kemungkinan, lalu membatalkannya sendiri. Pembaca diajak melihat bagaimana rasa kagum, cemburu, malu, dan penasaran tumbuh secara alami dalam diri seorang anak yang mulai mengenal cinta pertamanya.

Namun, justru di sinilah letak tantangan novel ini. Banyak pembaca yang mengaku kesulitan menikmati ritme ceritanya karena alurnya bergerak sangat lambat. Bahkan satu adegan makan siang dapat berkembang menjadi puluhan halaman. 

Bagi pembaca yang menyukai sastra reflektif, kelambatan tersebut justru menjadi kekuatan utama novel ini. Nurul Hanafi seolah mengajak pembaca menikmati kebosanan sebagai bagian dari pengalaman membaca. Ia menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu bergerak cepat; terkadang momen paling sederhana justru menyimpan emosi yang paling mendalam.

Rekomendasi Pembaca

Gaya bahasa yang digunakan juga menjadi daya tarik tersendiri. Kalimat-kalimatnya puitis, penuh metafora, tetapi tetap mempertahankan kepolosan cara pandang seorang anak. Beberapa dialog tampak biasa saja, namun menyimpan makna psikologis yang kuat ketika dipahami dalam konteks keseluruhan cerita.

Secara keseluruhan, Makan Siang Okta bukanlah novel yang mengejar sensasi atau ketegangan. Novel ini menawarkan pengalaman membaca yang kontemplatif, mengajak pembaca memperhatikan detail-detail kecil yang sering luput dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang menyukai karya sastra yang menempatkan karakter sebagai pusat cerita dan tidak keberatan dengan ritme yang lambat, novel ini merupakan bacaan yang layak diapresiasi.

Namun bagi pembaca yang mengharapkan alur cepat dan konflik yang intens, novel ini mungkin akan terasa menantang. Justru di situlah kekhasan Makan Siang Okta: sebuah cerita sederhana yang membuktikan bahwa keheningan pun dapat menjadi bahan sastra yang memikat.

Identitas Buku

  • Judul: Makan Siang Okta (Sebuah Cerita Tiga Bagian) 
  • Penulis: Nurul Hanafi
  • Penerbit: Shira Media
  • Penyunting Ipank Pamungkas 
  • Tata letak Werdiantoro
  • Rancang sampul Sukutangan 
  • Tahun Terbit: 2019
  • ISBN:  978-602-5868-51-1
  • Tebal: 170 halaman