Lintang Siltya Utami | Muhammad Rafi Hanif
Sang Maha Sentana Karya Filiananur (Mediakita)
Muhammad Rafi Hanif

Sang Maha Sentana (2023) oleh Filiananur adalah karya sastra fiksi yang mengangkat latar kehidupan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda, sekitar pertengahan abad ke-19. Cerita ini mengajak kita menyelami kehidupan seorang pemuda bangsawan yang terjebak dalam benturan antara kebebasan pribadi, ikatan adat, tanggung jawab, dan perasaan hati. 

Sinopsis

Cerita berpusat pada Sentana Aptodarmo, putra bungsu keluarga bangsawan dan tuan tanah terhormat di Yogyakarta. Lahir pada 22 Mei 1866, Sentana memiliki kehidupan yang serba berkecukupan, namun dibatasi oleh kondisi kesehatannya yang lemah. Sejak usia 17 tahun, ia menderita kelainan darah yang membuatnya sulit berhenti berdarah jika terluka. Karena itu, ia harus selalu dijaga dan tidak boleh beraktivitas berat. Selain itu, ia telah dijodohkan sejak usia muda dengan Saraswati, putri bangsawan lain yang dikenal lembut, setia, dan terdidik.

Segalanya berubah ketika Sentana meminta izin untuk pergi ke Solo selama tiga hari guna membeli buku dari pedagang Belanda. Perjalanan yang dimulai hanya untuk memenuhi rasa penasaran dan keinginan bebas dari kungkungan rumah, justru membawanya pada pertemuan yang mengubah seluruh hidupnya.

Dalam perjalanan, ia bertemu Lembah, seorang penari di rumah bordil bernama Nyi Satirah yang dijuluki "Mawar Merah". Lembah memohon pertolongan agar dibebaskan dari tempat itu, karena ia dijual oleh ayahnya sendiri untuk membayar utang judi, dan tubuhnya penuh luka akibat perlakuan kejam pelanggan.

Tergerak rasa iba dan rasa ingin melindungi, sesuatu yang jarang ia rasakan karena selama ini justru ia yang selalu dilindungi, Sentana menggunakan seluruh uang dan barang berharga yang dibawanya, termasuk tusuk rambut langka dari Dinasti Qing, untuk menebus kebebasan Lembah serta putrinya yang masih bayi bernama Angling. Sejak saat itu, timbul perasaan cinta di antara mereka. Sentana berjanji akan menjaga dan menikahi Lembah, mengabaikan status sosial dan masa lalunya.

Namun, kenyataan tidak semudah kata-kata. Ketika mereka kembali ke rumah keluarga Aptodarmo, keduanya dihadapkan pada penolakan keras dari Geni ayahnya, Diajeng ibunya, dan kakak tertuanya, Kangmas Dewa. Masyarakat dan adat pada masa itu memandang rendah latar belakang Lembah, dan Sentana sudah terikat janji pernikahan dengan Saraswati.

Masalah makin rumit ketika diketahui Saraswati tidak pernah mengalami haid dan kemungkinan besar tidak dapat memiliki keturunan. Di sisi lain, kondisi keluarga juga memburuk, ayahnya jatuh sakit, dan Kangmas Dewa mulai bertindak sewenang-wenang, bahkan bekerja sama dengan pedagang Belanda untuk menguasai harta keluarga.
 
Cerita berlanjut dengan perjalanan batin Sentana yang penuh gejolak. Ia harus memilih antara mempertahankan rumah tangga yang sah dengan Saraswati, atau menepati janji pada Lembah. Di tengah segala keputusan yang menyakitkan, ia mulai menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk memecahkan masalah, dan setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung bersama.

Kelebihan dan Kekurangan

Selama memahami cerita, saya merasa penulis menggunakan bahasa yang santai namun tetap terjaga kehalusannya, diselingi istilah - istilah Jawa yang dijelaskan maknanya, sehingga pembaca tetap bisa mengikuti alur cerita tanpa kesulitan. Deskripsi perasaan dan suasana disampaikan dengan puitis namun tidak berlebihan.

Saya juga meyakini Sentana sebenarnya menjadi gambaran tokoh yang ideal karena ia tidak terjebak pada pandangan feodal yang membedakan derajat manusia. Ia melihat Lembah bukan sebagai "Wanita dari Rumah Bordil", melainkan sebagai manusia yang memiliki hak atas kebebasan dan martabat. Ia juga memperlakukan pelayannya (Jaka, Asih, Seto) dengan hormat meskipun mereka hanya penyedia obat dan kusir, bahkan mengizinkan mereka duduk satu meja makan bersama saat di Batavia, sesuatu yang unik dan jarang dilakukan oleh kaum bangsawan pada masa itu.

Kekurangan buku ini sepengamatan saya saat Saraswati melihat suaminya menyuapi Lembah makanan buatannya sendiri, saat Lembah berusaha menggantikannya di acara penting, atau saat ia tahu dirinya mungkin mandul semua reaksinya tetap pasrah dan bahkan membela mereka. Tidak ada pergulatan batin menerima kenyataan, sikapnya yang terlalu ikhlas membuat semakin memperlancar konflik agar Sentana tidak perlu memilih secara tegas.

Pesan Moral

Setiap tindakan memiliki konsekuensi, keputusan yang diambil dengan emosi atau tergesa - gesa, sekalipun didasari rasa iba, akan membawa tanggung jawab yang harus ditanggung dalam jangka panjang. Sebagai manusia, kita terikat pada perkataan dan kewajiban yang kita buat, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.

Identitas Buku

  • Penulis: Filiananur
  • Penerbit: Mediakita
  • Tebal: 320 Halaman
  • ISBN: 9789797947880
  • Tanggal Terbit: 30 Oktober 2023