Ada kalanya ketika berkunjung ke suatu tempat yang menyediakan buku-buku untuk dibeli, baik baru maupun bekas, saya tidak menemukan satu pun yang menarik minat saya. Jika itu yang terjadi, saya akan meraih buku mana pun yang ada di jangkauan saya, membawanya ke kasir, dan membayar.
Buku-buku yang saya dapat dengan cara itu biasanya akan menumpuk di pojok kamar, tidak tersentuh untuk waktu yang cukup lama. Namun yang menarik dari tumpukan ini, ketika suatu hari saya mengambil salah satunya untuk dibaca, sering kali saya menemukan hal-hal menarik yang tidak saya sangka sebelumnya. Begitu pula dengan buku ini.
Menilai dari Sampul dan Blurb
Saya, sebagaimana kebanyakan orang, cenderung menilai sebuah buku (tentunya yang ditulis oleh penulis yang namanya masih asing bagi saya) dari judul, desain sampul, dan penerbitnya. Itu untuk buku yang masih berbalut segel. Sedangkan untuk buku bekas, jika ketiga faktor itu telah terpenuhi, barulah saya akan bergulir ke blurb, identitas buku, daftar isi, serta membaca sepintas isi bagian depan, tengah, dan belakang. Dengan cara-cara itu, setidaknya saya berpeluang membawa pulang buku-buku yang sesuai dengan selera saya.
Begitu pula dengan buku ini. Nama Heri Prabowo terdengar asing di telinga saya, namun judul bukunya memang tercetak dengan begitu jelas dan cukup menggigit: Catatan Harian Seorang Mafia Pajak. Pada bagian pojok bawah sampul juga terdapat testimoni dari seorang pengajar hukum sekaligus Direktur Pusat Kajian Antikorupsi FH UGM, Zainal Arifin Mochtar. Dari situ, saya berasumsi bahwa Heri Prabowo mungkin adalah seorang mantan mafia pajak dan buku ini berisi catatan kriminalnya di masa lalu. Baiklah, itu menarik.
Namun, sampul bagian belakangnya berkata lain. Blurb-nya sendiri mengatakan bahwa itu adalah sebuah catatan bergaya fiksi. Testimoni lain yang tertera di situ juga berbunyi senada:
"Meskipun cerita fiksi, tapi kami percaya bahwa apa yang tertulis di dalam buku ini merupakan gambaran yang tidak jauh berbeda dari kehidupan nyata penulisnya."
Nah, jadi kisah di dalam buku ini, seperti apa pun kesan yang akan ditimbulkannya nanti, adalah fiksi.
Sinopsis Singkat
Buku ini bercerita tentang seorang tokoh utama bernama Dimas, 29 tahun, seorang pegawai negeri sipil di Kantor Pajak Surabaya. Cerita diawali dengan Dimas yang saat itu sedang berada di balik jeruji besi karena terlibat dalam kasus sindikat faktur pajak fiktif. Selanjutnya, cerita akan bergulir maju-mundur.
Dimas yang gagal masuk teknik sipil, diterima di STAN-PRODIP Departemen Keuangan spesialisasi pajak. Meskipun tidak pernah serius dalam kuliah, ia tetap lulus dengan indeks prestasi tidak kurang dari tiga. Selanjutnya, dengan campur tangan seorang teman indekos, Dimas diterima bekerja di Kantor Pajak Surabaya. Menurut istilah Dimas: "Tuhan terus bekerja melempengkan jalanku."
Di tempat kerjanya, Dimas mulai belajar gratis tentang korupsi dari teman-teman sekantor dan atasannya. Lebih dari itu, Dimas yang memang cepat belajar segera menguasai program komputer kantor sehingga mampu mengakali sistem. Kepandaiannya mendatangkan pujian dari atasan, rasa iri dari rekan-rekan, dan tentu saja cuan yang semakin mengalir dari hari ke hari. Meskipun demikian, di dalam buku ini beberapa kali Dimas menekankan bahwa pegawai kantor pajak yang jujur pun masih ada, kendati jumlahnya tidak banyak.
Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Itulah yang dialami oleh Dimas. Cerita dalam buku ini akan menampilkan berbagai intrik, tarik ulur kepentingan, tentang mana yang bisa diselamatkan dan siapa yang dirasa paling cocok untuk ditumbalkan.
Gaya Penulisan yang Lugas namun Bersastra
Bagaimanapun juga, Heri Prabowo bukanlah sastrawan asli. Latar belakang beliau adalah seorang praktisi di kantor pajak. Mungkin karena itulah sebagian besar tulisannya seperti gaya bertutur tanpa filter, lebih terkesan fungsional dan lugas. Namun, justru karena gaya penulisan seperti itulah pembaca seperti saya cenderung merasa lebih terkoneksi, seolah sedang mendengarkan pengakuan langsung dari seorang pelaku. Sebagai contoh, di halaman 50 tertulis:
"Tidak terasa, lebih setahun aku bekerja di kantor pajak. Tabunganku dari hasil korupsi sudah lumayan banyak sehingga kuputuskan untuk kuliah lagi."
Terutama pada bagian awal, penulis memasukkan banyak istilah teknis perpajakan seperti faktur pajak, restitusi, keberatan, dan lain-lain. Tetapi Anda tidak perlu khawatir. Bab terakhir pada buku ini yang berjudul "Kamus Perpajakan" berisi daftar istilah-istilah itu berikut pengertiannya, sehingga Anda tidak harus googling lagi. Intinya, dengan membaca buku ini, selain mendapat kisah yang seru, kita juga sekaligus menambah ilmu.
Meski begitu, beberapa bagian terkadang terasa begitu sastra. Contohnya pada salah satu paragraf di halaman 12:
"Seakan jutaan tetes embun berhamburan menumbuk dadaku, menembusi lapisan kulit dan daging lalu bergumpal lembut dalam hatiku."
Hal ini terjadi berulang di banyak bagian. Sangat mengesankan bahwa buku ini tidak hanya ditulis oleh Heri Prabowo seorang. Atau memang ada campur tangan orang lain?
Setelah saya telisik, pada bagian informasi buku memang tercantum dua nama penulis. Heri Prabowo bertindak sebagai penulis naskah, sementara Dedi Ahimsa Riyadi bertindak sebagai penulis narasi. Dari sana kita bisa menyimpulkan bahwa Heri Prabowo kemungkinan adalah orang yang bertanggung jawab pada sumber utama cerita (alur, fakta, dan substansi). Sementara itu, Dedi Ahimsa Riyadi adalah orang yang bertugas mengolah bahan mentah dari Heri Prabowo menjadi sebuah karya tulis yang lebih enak dibaca. Saya rasa itu cukup masuk akal.
Siapa Sebenarnya Heri Prabowo?
Membaca buku ini tentu saja membuat saya penasaran pada sosok penulisnya. Apakah tokoh Dimas adalah representasi dari Heri Prabowo sendiri? Karena jikalau pun dikatakan fiksi, menurut saya ceritanya begitu gamblang sehingga membuat pembaca bertanya-tanya, "Amankah menulis seperti itu?"
Saya pun googling dan menemukan sejumlah catatan menarik. Salah satunya adalah sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Kompas.com berjudul "Dhana, Saya, dan Mafia Pajak" (8 Maret 2012). Heri Prabowo selaku narasumber berpendapat tentang sosok Dhana Widyatmika yang saat itu terjerat kasus PNS rekening gendut, juga tentang Gayus Tambunan dan mafia pajak secara umum. Sangat menarik. Di akhir artikel, media tersebut bahkan menyebut narasumbernya sebagai: Heri Prabowo, Bekas Narapidana Penggelapan Pajak.
Fakta bahwa Heri Prabowo adalah seorang mantan narapidana penggelapan pajak memberikan dimensi baru saat kita membaca kisah Dimas. Garis batas antara realitas dan fiksi menjadi begitu kabur. Kita tidak lagi sekadar membaca novel tentang sindikat faktur pajak fiktif, melainkan sedang menyelami sebuah pengakuan dosa dan refleksi dari seseorang yang pernah terjepit di dalam sistem yang ia kritik sendiri.
Itulah yang membuat buku ini terasa begitu berbahaya sekaligus jujur. Ia ditulis oleh seseorang yang tidak hanya tahu seluk-beluk mafia pajak, tetapi juga pernah merasakan dinginnya lantai penjara akibat perbuatannya sendiri.
Kenapa Orang Perlu Membaca Buku Ini?
Pertama, karena buku ini seru dan sarat ilmu perpajakan.
Kedua, buku ini laksana jendela yang jarang terbuka bagi orang awam. Ia menawarkan pemahaman mendalam tentang celah birokrasi, cara kerja sindikat faktur pajak fiktif, dan bagaimana sistem yang korup mampu mengikis integritas seseorang dari dalam. Membaca buku ini bukan sekadar menikmati kisah kriminal, melainkan belajar mengenali "dapur birokrasi" kita yang sering kali tidak tersentuh.
Bagi Anda yang menyukai cerita true-to-life dengan bumbu intrik birokrasi nyata, buku ini sangat cocok. Juga bagi Anda yang sering bertanya-tanya, "Bagaimana sih sebenarnya cara oknum bermain di dalam sistem?", buku ini akan memberikan gambaran yang cukup gamblang—tentu dengan catatan bahwa ini adalah versi narasi dari sudut pandang pelaku.
Secara pribadi, saya berpendapat buku ini penting, terutama bagi kaum muda idealis yang punya mimpi untuk memajukan negaranya dan fokus memberantas korupsi. Dimas muda pun dulu demikian; dia ingin jadi pegawai yang jujur. Namun tengoklah seperti apa lingkungan kerja membentuknya dan sampai di titik mana ia pada akhirnya. Ambillah pelajaran berharga dari kisah Dimas: tetaplah idealis, tetaplah bermimpi, dan tetaplah berupaya untuk kesembuhan negeri ini!
Sebagai penutup, perlu saya tambahkan bahwa buku ini juga memiliki sentuhan romansa yang sederhana dan sama sekali tidak berlebihan. Ada kisah tentang Dimas dan cinta pertamanya, serta tentang Dimas dan istrinya yang sedang hamil muda sementara ia sendiri di dalam penjara. Jika romansa adalah toleransi wajib Anda dalam sebuah novel, buku ini memilikinya.
Saya harap tulisan ini mampu membujuk Anda untuk turut membacanya. Semoga keberuntungan selalu menyertai Anda, dan salam membaca!
Identitas Buku
- Judul: Catatan Harian Seorang Mafia Pajak
- Penulis Naskah: Heri Prabowo
- Penulis Narasi: Dedi Ahimsa Riyadi
- Penerbit: Edelweiss
- Tahun Terbit: 2010
- Ketebalan: 295 Halaman
- ISBN: 978-602-8672-17-7
- Genre: Novel True Story, Fiksi
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Skandal Korupsi Lingkaran Prabowo, Uji Transparansi dan Integritas Penegakan Hukum
-
Kasus Febrie Diserahkan ke Kejagung Jadi Sorotan, DPR: Kita Pantau Lewat Panja, Disupervisi KPK
-
Shortfall Pajak 2026 Bisa Tembus Rp 46,9 Triliun, Purbaya Ancam Rumahkan Pegawai DJP
-
Cegah Konflik Kepentingan, Benny K Harman Desak KPK Ambil Alih Kasus Korupsi Febrie Adriansyah
-
Prabowo Mau 800 BUMN Ditutup Tahun 2026, Bagaimana Nasib Asetnya?
Ulasan
-
Review Bobae Banjum: Creamy Jjamppong yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Korea
-
Review Film Dhamaal 4: Paket Lengkap Komedi Situasi yang Sangat Menghibur
-
Review Novel Octopus Moon: Kisah Menyentuh tentang Depresi pada Anak
-
Mengapa Remake '402 Rumah Sakit Angker' Gagal Memikat Seperti Gonjiam Versi Asli?
-
Review Series Hacked, Teror Misterius di Balik Layar Ponsel yang Diretas
Terkini
-
Membangun Optimisme Tanpa Membungkam: Kritik adalah Bagian Mandat Demokrasi
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Sinopsis Legal Beat: Gyakuten no Houtei, Drama Jepang Terbaru Suzuka Ouji
-
4 Daily OOTD Urban Streetwear ala Choi San ATEEZ, Nyaman dan Fashionable!
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden