Dari Salawat Dedaunan sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta merupakan antologi berisi 22 cerpen terbaik pilihan harian Kompas yang diterbitkan sebagai edisi peringatan dua dekade. Keistimewaan buku ini terletak pada kehadiran dua karya yang sama-sama dinobatkan sebagai pemenang utama, yaitu "Salawat Dedaunan" karya Yanusa Nugroho dan "Kunang-Kunang di Langit Jakarta" karya Agus Noor. Kedua cerpen tersebut menawarkan sudut pandang yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan kesan mendalam melalui tema kemanusiaan, refleksi sosial, dan kekuatan narasi.
Sejujurnya, kumpulan cerpen (kumcer) bukanlah jenis bacaan yang biasanya saya pilih. Saya lebih sering menikmati novel dengan alur yang panjang dan karakter yang berkembang secara bertahap. Namun, buku ini merupakan hadiah dari seorang kawan. Karena ingin menghargai pemberiannya, saya memutuskan untuk membacanya hingga selesai. Di luar dugaan, pengalaman membaca buku ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang saya bayangkan. Bahkan, ada beberapa cerpen yang langsung menjadi favorit saya.
Cerpen pertama yang paling membekas adalah "Salawat Dedaunan" karya Yanusa Nugroho. Kisah ini menggambarkan Haji Brahim yang dibuat terpaku oleh kesederhanaan sekaligus ketulusan seorang nenek renta. Ketika banyak orang mulai kehilangan kepedulian dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari, sang nenek justru terus melakukan kebaikan melalui tindakan nyata. Ia tidak banyak berbicara, melainkan memilih menjalani hidup dengan keteguhan, kesabaran, dan pengabdian. Usaha yang dilakukannya terasa seperti doa yang dipanjatkan melalui setiap langkah kehidupannya. Cerpen ini mengingatkan bahwa perubahan tidak lahir dari sekadar wacana, melainkan dari keberanian untuk memulai tindakan kecil secara konsisten.
Sementara itu, "Kunang-Kunang di Langit Jakarta" karya Agus Noor menghadirkan nuansa yang jauh lebih kelam dan emosional. Berlatar tragedi kerusuhan Mei 1998, cerita ini mengikuti Peter dan Jane yang tengah berada di Jakarta. Pada suatu malam, Jane menyaksikan langit dipenuhi cahaya kunang-kunang. Fenomena tersebut bukan sekadar pemandangan indah, melainkan simbol yang membawanya menelusuri jejak luka sejarah. Kunang-kunang digambarkan sebagai representasi jiwa-jiwa korban yang belum memperoleh keadilan, khususnya para perempuan yang mengalami kekerasan dalam tragedi tersebut. Melalui gaya penceritaan yang puitis, Agus Noor berhasil menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus mengajak pembaca untuk tidak melupakan sejarah.
Selain dua cerpen utama tersebut, saya juga sangat menikmati "Mar Beranak di Limas Isa" karya Guntur Alam. Cerita ini memiliki nuansa lokal yang kuat dan menghadirkan kehidupan masyarakat dengan cara yang hangat serta menghibur. Saya juga menyukai "Burung Api Siti" karya Triyanto Triwikromo yang menawarkan gaya bertutur khas dengan sentuhan simbolisme yang membuat cerita terasa unik dan memancing banyak penafsiran.
Memang, tidak semua cerpen dalam buku ini mudah saya nikmati. Ada beberapa cerita yang membutuhkan konsentrasi lebih karena gaya bahasanya cukup padat dan penuh makna tersirat. Sebagai pembaca yang tidak terbiasa membaca kumpulan cerpen, saya sempat merasa perlu beradaptasi dengan pergantian tokoh, latar, dan tema di setiap cerita. Meski demikian, kesan tersebut tidak mengurangi kualitas buku ini secara keseluruhan.
Justru keberagaman tema menjadi salah satu kekuatan utama antologi ini. Setiap cerpen menawarkan pengalaman membaca yang berbeda, mulai dari kritik sosial, kemanusiaan, budaya lokal, hingga refleksi tentang kehidupan. Karena seluruh karya yang dimuat merupakan cerpen pilihan Kompas, kualitas penulisannya pun terasa konsisten dan mampu menghadirkan sudut pandang yang kaya.
Pada akhirnya, Dari Salawat Dedaunan sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta adalah buku yang layak dibaca, bahkan bagi pembaca yang tidak terbiasa menikmati cerpen seperti saya. Melalui beragam kisah yang menyentuh dan penuh makna, buku ini membuktikan bahwa sebuah cerita pendek mampu meninggalkan kesan yang sama kuatnya dengan novel. Saya menutup buku ini dengan perasaan puas sekaligus senang karena telah menemukan beberapa cerpen favorit yang akan terus saya ingat.
Identitas Buku
Judul: Dari Salawat Dedaunan sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta: 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 2012
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9789797096519
Baca Juga
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship
-
Ulasan Sang Alkemis: Kisah Inspiratif yang Sarat Pesan Kehidupan
-
Ulasan Toko yang Buka di Kala Hujan: Novel Bestseller di Koreayang Mengajarkan Arti Kebahagiaan
-
Review Please Look After Mom: Kisah Kehilangan yang Mengajarkan Cara Mencintai Ibu Sebelum Terlambat
-
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki: Bertahan Hidup Lewat Harapan-harapan Kecil
Artikel Terkait
Ulasan
-
It Ends With Us, Novel yang Membuka Mata tentang Toxic Relationship
-
Ulasan Cek Khodam: Saat Tren Viral Berubah Jadi Komedi Horor yang Segar!
-
Lastri: Arwah Kembang Desa dan Perempuan yang Selalu Dikambinghitamkan
-
Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona
-
Belajar dari Bear di Film Obsession: Keinginan yang Tak Pernah Terpuaskan
Terkini
-
Dilema Guru Swasta: Gaji Kecil, tetapi Dianggap Sudah Beruntung
-
Ironi Kelas Menengah: Masihkah Menjadi Dokter Sebuah Mimpi yang Masuk Akal?
-
Lampaui Colony, HOPE Jadi Film Tercepat Raih 1 Juta Penonton di 2026
-
Avatar Aang Resmi Tayang Terbatas di Bioskop demi Lolos Kualifikasi Oscar
-
Escapism di Layar: Mengapa Konten Flexing Laku Keras di Media Sosial?