Pernah bertanya-tanya mengapa konten orang membeli barang mewah, menginap di hotel mahal, naik jet pribadi, atau memamerkan rumah seharga miliaran rupiah bisa ditonton jutaan kali?
Hampir setiap kali membuka media sosial, kita bisa menemukan kehidupan yang tampak jauh lebih mewah daripada kehidupan kebanyakan orang. Belum lagi konten pamer belanja barang bermerek dengan harga yang mungkin setara dengan gaji beberapa bulan.
Menariknya, penikmat konten semacam ini tidak selalu berasal dari kalangan kaya. Justru, banyak orang yang menontonnya adalah mereka yang mungkin tidak punya akses terhadap gaya hidup tersebut.
Di tengah harga kebutuhan yang terus naik dan kehidupan yang semakin sulit, mengapa konten flexing justru menjadi hiburan yang begitu diminati?
Ketika Media Sosial Menjadi Tempat untuk Kabur dari Realita
Konten flexing tidak pernah sepi peminat. Di balik ramainya orang menonton artis, influencer, atau selebgram memamerkan kekayaan, alasannya mungkin tidak selalu sesederhana rasa iri atau keinginan untuk menjadi kaya.
Sebagian orang mungkin memang ingin memiliki kehidupan seperti yang ditampilkan, sementara yang lain hanya penasaran atau ingin mencari hiburan. Namun, ada kemungkinan bahwa konten semacam ini juga menawarkan kesempatan untuk sejenak menjauh dari realita.
Dalam psikologi media, kecenderungan menggunakan media sebagai pelarian sementara ini dikenal sebagai escapism.
Mengutip dari penelitian University of St. Gallen, escapism di media sosial tidak hanya berkaitan dengan keinginan untuk mencari kesenangan, tetapi juga dengan kebutuhan psikologis untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, konten flexing bisa menjadi bentuk hiburan sekaligus pelarian yang murah dan mudah diakses.
Semakin Jauh dari Realita, Semakin Menarik untuk Ditonton?
Ada hal menarik dalam popularitas konten flexing. Semakin tidak masuk akal gaya hidup yang ditampilkan, kadang semakin banyak pula orang yang tertarik menonton.
Kehidupan sehari-hari yang biasa cenderung tidak menarik perhatian di media sosial. Namun, ketika seseorang menunjukkan bagaimana puluhan juta rupiah dihabiskan hanya untuk satu kali makan, banyak orang mendadak ingin melihatnya.
Hal itu bisa terjadi karena kehidupan tersebut terasa asing bagi sebagian besar penonton. Ada rasa penasaran terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka alami.
Bagaimana rasanya tinggal di rumah sebesar itu? Seperti apa rasanya berbelanja tanpa harus melihat harga? Apa yang dilakukan orang kaya setiap hari?
Kesenjangan antara kehidupan penonton dan kehidupan yang ditampilkan justru dapat menjadi daya tarik. Bahkan, kesenjangan sosial itu sendiri dapat berubah menjadi hiburan.
Konten Flexing yang Dibumbui Jualan Mimpi
Masalahnya, konten flexing tidak selalu berhenti sebagai hiburan. Dalam banyak kasus, gaya hidup mewah juga bisa menjadi bagian dari industri yang menjual mimpi.
Kita sering melihat narasi bahwa seseorang dulunya hidup susah, kemudian berhasil menjadi kaya. Cerita seperti ini tentu bisa menginspirasi.
Namun, yang kadang mengganggu adalah ketika kisah tersebut dikemas seolah-olah semua orang memiliki peluang yang sama untuk mencapai hasil serupa hanya dengan "kerja keras".
Padahal, kehidupan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kerja keras. Ada pendidikan, kesempatan, koneksi, kondisi keluarga, modal, lingkungan, dan berbagai faktor lain yang turut menentukan, yang dikenal dengan istilah privilege.
Bagi penonton yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, gambaran semacam ini bisa menjadi hiburan. Namun, di saat yang sama, ia juga dapat menjadi fantasi yang terus dijual.
Kita boleh menikmati konten flexing sebagai hiburan. Namun, kita juga perlu berhati-hati ketika kemewahan mulai dijual sebagai bukti bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kaya.
Sebab, tidak semua orang gagal karena kurang bekerja keras. Ada yang memang sejak awal harus berlari lebih jauh hanya untuk mencapai garis start.
Baca Juga
-
Shadow Education di Balik Antrean Bimbel: Benarkah Sekolah Kehilangan Peran?
-
Tubuh Perempuan Bukan Aib: Mengapa Hal yang Normal Masih Dianggap Memalukan?
-
Republik Makan Siang: Keselamatan yang Tersisih demi Perut yang Kenyang
-
The Golden Spoon: Hasrat Keluar dari Kemiskinan dan Obsesi Mengubah Nasib
-
Negara Rawan Bencana: Mitigasi Terabaikan, Dana Penanggulangan Dipangkas
Artikel Terkait
-
Ini 5 Strategi Jitu Raup Cuan dari Media Sosial ala Pakar Marketing
-
Masa Depan di Atas Lantai Kaca: Saat Krisis Global dan Politik Hancurkan Mental Gen Z
-
Heboh Gaji MagangHub Disebut Dipotong, Kemnaker Buka Suara
-
Netizen Ubah Nama Tokoh Jadi Kosakata Baru, Lengkap Arti Gibran hingga Prabowo
-
Kisah Sulaiman Albasyari, Taklukkan Algoritma TikTok Hanya Bermodal Ponsel Android
Kolom
-
Sampah Produk Tak Hanya Urusan Pemerintah, Produsen Harus Bertanggung Jawab
-
Apa Itu Eggshell Parents? Tipe Orang Tua yang Bikin Anak Hidup dalam Kecemasan Kronis
-
Islam ala Prabowo dan Problem Politisasi Kesalehan dalam Bernegara
-
Tambang Boleh Mengeruk Bumi, tetapi Wajib Mengembalikan Lahannya
-
Dilema Mahasiswa Kerja Sambil Kuliah: Pilih Cuan atau IPK?
Terkini
-
Cuma Rp20 Ribuan! 5 Conditioner untuk Rambut Halus, Lembut & Mudah Diatur!
-
Aroma Buku dan Aroma Vanila
-
Tubuh Sudah Kasih Tanda! Awas Serangan Jantung yang Sering Bersembunyi di Balik "Masuk Angin"
-
Mau Lolos MagangHub? Siapkan 5 Hal Ini, Fresh Graduate!
-
Review Parasomnia: Ketakutan Bikin Obsesi Mengendalikan Segalanya, Ngeri!