Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Seribu Senyum dan Setetes Air Mata (Dok. pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Bacalah dua buku dalam sebulan. Buku non-fiksi untuk makanan otak, dan buku fiksi untuk nutrisi hati,” begitulah salah satu quotes JS Khairen. Lebih dari dua bulan saya tidak pernah membaca buku non-fiksi; kedatangan saya ke perpustakaan hanya untuk meminjam buku-buku fiksi sebanyak-banyaknya. Ujung-ujungnya saya merasa tumpul, kebanyakan khayal yang tidak masuk akal.

Dalam menulis pun, kalau tidak dipadukan dengan riset secara non-fiksi, jadinya akan aneh. Maka dari itu, ketika menemukan kumpulan esai Myra Sidharta yang berjudul Seribu Senyum dan Setetes Air Mata, saya harus tamat baca ini meski tidak secepat membaca fiksi.

Myra Sidharta dikenal dengan sebutan "Tante Moy", wanita penulis kolom terhebat pada masanya dengan latar belakang pendidikan yang tinggi serta pergaulan yang luas. Memiliki perhatian besar pada masalah sosial, Tante Moy adalah peneliti sejarah Peranakan Tionghoa, psikolog, sinolog, dan antropolog—mengerikan sekali latar belakang penulisnya.

Isi buku ini memuat lebih dari 50 catatan Tante Moy tentang fenomena sosial budaya yang muncul di sekitar kita dengan garis merah kehidupan orang-orang kalangan menengah ke atas.

Di sini, jarang sekali Tante Moy mengambil sudut pandang dari sisi-sisi proletar; semuanya adalah pandangan tentang bagaimana orang-orang kaya menghabiskan hidup mereka, lengkap dengan beragam permasalahan karena terlalu banyak uang sampai bingung bagaimana menghabiskannya. Kumpulan esai ini terbagi menjadi empat bagian yang masing-masing bagian terdiri dari berbagai kolom yang pernah terbit di pelbagai koran tahun 90-an dengan tema yang serupa.

Dari sekian banyak catatan tersebut, ada beberapa esai yang sangat mengesankan dan membuka mata saya terhadap dinamika kaum borjuis. Pertama, dalam esai berjudul Mencari Rumah Nenek Moyang di Tiongkok, Myra mengisahkan perjalanan spiritual dan genealogisnya mencari keluarga dari kakeknya yang sangat jauh di Tiongkok.

Hanya berbekal buku silsilah yang tidak lengkap, ingatan kota yang samar-samar di masa lalu, serta sedikit privilege, perjalanan itu berbuah manis dengan sambutan hangat dari keluarga besarnya di sana. Esai ini menunjukkan bagaimana identitas dan akar keluarga tetap menjadi pencarian batin yang kuat di tengah modernitas kaum berada.

Esai berikutnya, Lelucon Erotis, menyoroti sisi kultural yang unik ketika orang-orang berkumpul, terutama ibu-ibu, yang kerap menceritakan lelucon paling mutakhir yang berbeda dari sekadar gosip biasa. Lelucon tentang sesuatu yang menjuru ke arah erotis menjadi hal yang lucu dan normal di ruang-ruang sosial tertentu, berbeda jika seseorang menggosip secara terang-terangan. Kalau tentang lelucon erotis ini, saya juga mengamininya, sebab dinamika humor semacam itu bahkan bisa cair terjadi hingga ke kalangan bawah.

Kritik sosial terhadap kelas elit semakin terasa dalam Romantika Istri Konglomerat. Ada adagium bahwa di balik laki-laki sukses ada wanita hebat, namun esai ini menyoroti pergulatan gaya hidup istri konglomerat generasi pertama yang masih susah menyesuaikan diri dengan kemewahan—mulai dari gaya berpakaian, perhiasan, hingga tas-tas bermerek mahal macam Bulgari.

Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan generasi kedua yang sangat biasa dan mudah saja dalam menghambur-hamburkan uang.

Menariknya, para istri generasi pertama ini kadang justru merasa bosan dan muak dengan gaya hidup yang diwajibkan tersebut; jika dulu mereka sering disuruh hemat oleh suami mereka saat merintis dari bawah, sekarang mereka dipaksa harus membelanjakan apa saja demi prestise.

Dinamika kelas atas ini juga merambah ke ranah privat, seperti yang dibahas dalam Hobi Tak Sekadar Buang Waktu. Esai ini mengulas sebuah seminar khusus yang diikuti ibu-ibu kelas atas untuk mempermasalahkan hobi suami-suami kaya mereka.

Ada suami yang suka mengumpulkan barang-barang tak terpakai, ada yang senang bergaul bersama orang-orang kampung yang tidak selevel, hingga obsesi para istri agar suami mereka punya hobi berkelas seperti main golf, lengkap dengan solusi bijak dari sang profesor.

Kompleksitas hubungan pernikahan borjuis ini berlanjut dalam esai Nasihat Buat Kambing Tua, yang berisikan nasihat menohok untuk laki-laki paruh baya yang menikahi gadis muda agar tidak berlaku kekanak-kanakan atau terlalu manja.

Dalam lingkaran orang kaya, kejenuhan psikologis kerap melahirkan pencarian sensasi baru ketika mereka sudah bosan dengan pasangan yang seusia. Kadang para lelaki matang menginginkan figur gadis muda yang masih polos—meskipun, untungnya, ini murni soal pelarian kelas sosial dan bukan isu pedofilia.

Sebagai keseimbangan sudut pandang, kolom Hobi Istri, Gerutu Suami menghadirkan sisi sebaliknya, yakni ketika para suami giliran memprotes hobi istri-istri mereka yang boros.

Mulai dari istri yang keranjingan memborong barang dalam berbagai seri dan warna, hobi memasak ekstrem yang membuat sang suami kekenyangan hingga gendut, hingga hobi belajar ballroom dancing di usia senja yang menuntut mereka sering berdansa ke kelab malam dengan pakaian seksi.

Gaya hidup hedonis ini kian dikukuhkan dalam esai Lunch, yang memotret ritual makan siang wanita borjuis di restoran dengan cara buffet atau makan sepuasnya, diselingi arisan emas dan mata uang asing, mengenakan baju batik sutra dan rok pleats, sembari memperbincangkan politik kekuasaan, belanja di mal mewah, tas desainer, hingga ponsel jenama mahal tanpa sekalipun menyinggung urusan rumah tangga kecuali membanggakan kehebatan pembantu mereka.

Bahasa Tante Moy sangatlah mudah dipahami dan memiliki nuansa khas yang jenaka. Fenomena sosial semua inilah yang saya pandang sebagai potret telanjang kehidupan orang-orang borjuis atau istri-istri pejabat yang buang-buang duit tanpa mempedulikan nasib kaum proletar.

Jika ada orang yang berjiwa agak-agak kiri membaca ini, mereka pasti akan geram sendiri melihat gaya hidup kelas tinggi yang dengan ringannya meninggalkan sisa makanan di restoran yang masih sangat banyak—suatu kontras tajam dari era sebelumnya di mana restoran masih menyediakan doggy bag (kantong anjing). Padahal, pada masa-masa itu, bagi orang kecil, sekadar bisa makan telur satu butir yang dibagi enam saja sudah merupakan sebuah kemewahan yang luar biasa.

Fenomena ini terasa bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan esai-esai dari Cak Nun yang fokus sudut pandangnya selalu berpihak kepada orang-orang kecil.

Semata-mata saya membaca buku ini untuk mencari tema dan topik dalam cerita; mungkin konflik hobi antara suami-istri kaya raya tersebut bisa saya adopsi sebagai ide segar di dalam salah satu cerpen saya kelak. Buku ini sungguh membuka mata saya bahwa riset sosiologis mengenai kelas atas tidak melulu harus disajikan secara kaku di dalam jurnal ilmiah, melainkan bisa digali secara tajam dari detail-detail kecil kehidupan sehari-hari yang menggelitik sekaligus menohok nurani.

Identitas Buku

Judul: Seribu Senyum dan Setetes Air Mata
Penulis: Myra Sidharta
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 9789797099190