Lintang Siltya Utami | Gita Fetty Utami
Novel Wuthering Heights (dok.pri/Gita)
Gita Fetty Utami

Sebuah kisah dikatakan klasik karena memuat persoalan yang tak lekang oleh zaman. Demikian pula novel Wuthering Heights yang ditulis oleh Emily Brontë ini, yakni mengangkat tema kasih tak sampai akibat perbedaan status sosial yang tajam pada dua tokoh utama. Pembedanya hanyalah perkara lini masa peristiwa.  

Emily  Brontë menulis novel ini pada tahun 1847, dengan latar pedesaan di Inggris. Di masa itu, agaknya  merupakan kelaziman suatu keluarga dipandang kaya berkat kepemilikan lahan yang luas, rumah serta perabotan indah, dan tinggal terpisah dari penduduk  desa. Mereka yang punya status sosial tinggi ini amat memperhatikan asal-usul seseorang sebelum melangsungkan perkawinan.  

Alkisah keluarga Earnshaw pemilik rumah di puncak bukit, atau dinamai Wuthering Heights, punya dua orang anak laki-laki dan perempuan bernama Hindley dan Catherine. Selisih usia dua bersaudara itu adalah delapan tahun. Suatu hari ayah mereka pergi ke Liverpool selama tiga hari. Ketika sang ayah pulang, ia membawa serta seorang anak laki-laki yang tak jelas asal-usulnya. Tuan Earnshaw memberinya nama Heathcliff.  

Sejak awal, Hindley telah membenci Heathcliff karena ayahnya mengasihi anak  asing tersebut. Sebaliknya, Catherine segera akrab dan  menjadi teman bermain Heathcliff. Selama Tuan Earnshaw hidup, Heathcliff diperlakukan penuh kasih sayang. Namun, keadaan berbalik drastis kala lelaki  tua itu meninggal dan Hindley mengambil alih kepemimpinan rumah.  

Nasib Heathcliff menjadi merana. Ia diperlakukan selayaknya pelayan rumah, bahkan lebih buruk lagi. Hindley betul-betul membalas rasa sakit hatinya dahulu. Hanya Catherine yang tetap bersikap hangat dan bersahabat. Walaupun demikian, perbedaan status sosial di antara mereka berdua tak mudah diabaikan.  

Suatu hari Catherine menikah dengan Edgar Linton, teman masa kecilnya yang lain. Status sosial Edgar jelas tinggi, karena ia merupakan anak pemilik lahan Thrushcross Grange yang berjarak enam kilometer dari Wuhering Heights. Sebelum hari pernikahan tiba, Heathcliff menghilang dari rumah. Ia meninggalkan Catherine dalam kebingungan. 

Beberapa tahun kemudian, Heathcliff kembali dalam keadaan berbeda. Ia telah menjadi pria kaya, terpelajar, tetapi amat tertutup. Catherine menyambutnya dengan gembira, menggambarkan cinta yang masih tersimpan. Adapun Heathcliff diam-diam menyimpan rencana pembalasan dendam kepada keluarga Earnshaw dan Linton. 

Pada babak ini saya dibuat gemas dengan sikap yang ditunjukkan oleh Edgar Linton. Ia  sebenarnya menyadari bahaya yang akan dibawa Heathcliff, tapi tak kuasa terang-terangan melarang istrinya menemui Heathcliff. Sebab Edgar dipenuhi rasa kasih dan cinta  yang besar terhadap Catherine. Sehingga ia bersedia menahan diri dari mengusir lelaki tersebut. 

Heathcliff mulai menjalankan rencananya. Pertama, ia mendekati Hindley Earnshaw. Kakak Catherine itu telah  menjadi pecandu alkohol dan judi, semenjak istrinya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Di sinilah Heathcliff masuk secara licin. Ia berpura-pura memaafkan kesalahan Hindley di masa lalu, kemudian menawarkan pinjaman uang dengan jaminan tanah dan bangunan Wuthering Heights.  

Selanjutnya bisa ditebak, Hindley semakin berutang serta tak mampu mengembalikan pinjaman dari Heathcliff. Akibatnya, secara hukum Wuthering Heights  jatuh ke tangan pria pendendam itu. Status sosialnya pun meningkat menjadi tuan tanah.     

Balas dendam Heathcliff kepada keluarga Linton seolah mendapat kemudahan, ketika adik Edgar, Isabella yang naif, jatuh hati kepada Heathcliff. Catherine berusaha mencegah tindakan Isabella karena ia tahu watak kasar Heathcliff. Namun, gadis itu begitu keras kepala. Ia memilih lari dari rumah demi menikahi Heathcliff. Peristiwa itu memukul hati Edgar dan Catherine. 

Kisah segitiga  antara Heathcliff, Catherine, dan Edgar ini diceritakan oleh Nelly Dean kepada Lockwood. Siapa Nelly Dean? Ia adalah pengasuh Hindley dan Catherine, sekaligus pelayan di rumah Tuan Earnshaw. Ia menjadi saksi hidup lika-liku peristiwa yang dialami keluarga tersebut. Sementara Lockwood adalah pemuda penyewa rumah Thrushcross Grange, bekas kediaman keluarga Linton.  

Menurut saya, membaca novel ini membutuhkan konsentrasi tinggi. Selain memakai alur campuran, gaya bahasanya pun tidak lugas. Mengingat yang saya baca adalah versi terjemahan bahasa Indonesia, maka saya bisa membayangkan gaya bahasa asli novel lawas ini. Meskipun demikian, begitu saya sudah dapat menghapal nama-nama dan latar belakang tokohnya, maka proses menyelesaikan novel terasa lebih lancar serta menyenangkan. 

Dengan membaca novel ini sedikit banyak kita dapat mengira-ira bagaimanakah rupa Inggris di tahun 1800-an. Selain perkara status sosial, masyarakatnya secara umum masih menjunjung tinggi ajaran gereja. Nilai baik-buruk kerap dikaitkan pula dengan isi alkitab. Prasangka buruk cepat menyebar di masyarakat terhadap orang-orang tanpa latar belakang yang jelas. 

Lewat Wuthering Heights kita diajak untuk menghargai nilai kemanusiaan di atas status sosial seseorang. Kekayaan, keelokan rupa, hanyalah bungkus luar. Ada bagian penting dari manusia yang seharusnya lebih dihargai, yaitu keluhuran budi pekerti. Pada poin ini kisah Heathcliff dan Catherine menjadi sesuatu yang mendekati abadi. Novel ini cocok untuk pembaca usia dewasa. Selamat membaca, Sobat Yoursay! 

Identitas buku

  • Judul             : Wuthering Heights 
  • Penulis          : Emily  Brontë 
  • Penerjemah  : Lulu Wijaya 
  • Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama  
  • Cetakan         : pertama, April 2011 
  • Tebal              : 488 halaman  
  • ISBN               : 978-979-22-6278-9