Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Home School (IMDb)
Ukhro Wiyah

Apa definisi sekolah terbaik menurut Sobat Yoursay?

Banyak dari kita yang mungkin menganggap sekolah terbaik adalah sekolah yang murid-muridnya berprestasi, berhasil masuk sekolah lanjutan atau perguruan tinggi terbaik, punya kurikulum yang baik, hingga diajar oleh guru-guru lulusan universitas terbaik. Namun, Home School yang dianggap sebagai sekolah terbaik di series ini justru terasa seperti penjara bagi anak-anak. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang para siswanya belajar teori dari buku pelajaran, di Home School para siswa lebih banyak diajari tentang hal-hal penting dalam kehidupan yang tidak bisa dipelajari hanya dengan memahami teori.

Secara keseluruhan, series ini bercerita tentang sekolah asrama terbaik bernama Home School. Sekolah tersebut hanya menerima 13 anak untuk bergabung sebagai murid di GEN 6. Sebagian besar dari mereka dikirim ke sana oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup mendidik anak-anaknya. Hanya Maki (Rachanun Mahawan) yang datang dengan tujuan berbeda, yaitu mencari kakaknya yang menghilang.

Maki dan 12 temannya masing-masing memiliki karakter unik yang mereka bawa dari lingkungan keluarga masing-masing. Di Home School yang mempunyai aturan kejam, mereka dipaksa belajar dengan cara-cara ekstrem. Namun, yang belum mereka sadari, di balik semua didikan para master yang kerap mereka anggap berlebihan itu sebenarnya ada pelajaran berharga tentang kehidupan.

Sejujurnya, saya nggak banyak menonton series Thailand. Tapi kesan misterius yang saya rasakan saat melihat poster series inilah yang membuat saya tertarik untuk menonton. Dan ternyata ceritanya lebih menarik dari sekadar kisah misteri sekolah asrama.

Sama seperti anak-anak GEN 6 yang dikirim orang tua mereka untuk bersekolah di sana, saya pun awalnya merasa pendidikan yang diterapkan di Home School aneh dan wajar untuk dipertanyakan. Dari lokasinya yang berada di tengah hutan saja, siapapun bisa melihat jika sekolah itu bukan tempat biasa.

Akan tetapi, semakin banyak episode yang saya tonton, saya mulai memahami bahwa nilai pendidikan yang diberikan para master bukan untuk menciptakan murid paling pintar. Mereka ingin membentuk anak-anak yang mampu bertahan hidup, bekerja sama, jujur, dan bertanggung jawab. Cara yang mereka pilih memang terbilang ekstrem dan kadang terasa kurang manusiawi. Namun, setiap hukuman dan ujian yang mereka berikan ke para murid sebenarnya selalu menyimpan pelajaran tertentu.

Kita ambil contoh dari metode hukuman yang diterapkan di Home School. Ketika sebagian murid melakukan kesalahan, maka murid lain harus ikut menanggung konsekuensinya. Bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan, ini memang terasa tidak adil. Namun, pengalaman tersebut perlahan meruntuhkan sifat egois dan individualis dalam diri mereka. Mereka juga belajar bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh satu orang bisa berdampak ke banyak orang dan mulai bertindak sebagai sebuah tim.

Hal lain yang dipelajari para murid di sekolah ini adalah tentang kejujuran, berani mengakui kesalahan, dan memaafkan. Seseorang mungkin bisa menyembunyikan kesalahannya. Tetapi rasa bersalah akan tetap tinggal mengikuti dirinya sendiri. Seperti karakter Hugo dan Jingjai yang memfitnah Pennhung hingga membuatnya dihukum.

Namun, saat kedua temannya meminta maaf, Pennhung sama sekali tidak marah dan langsung memaafkan mereka, meskipun dirinya dirugikan. Dia justru mengingatkan mereka bahwa meminta maaf hanyalah langkah pertama merenungkan kesalahan. Yang lebih penting dari itu adalah mereka benar-benar menyesal dan tidak mengulanginya lagi.

Kemudian menjelang akhir cerita, Home School memperlihatkan luka batin yang dialami anak-anak dengan cukup gamblang. Ada di antara mereka yang membenci orang tuanya, ada yang kehilangan kepercayaan, dan ada yang menyimpan dendam. Namun, di Home School mereka perlahan belajar bahwa luka yang mereka alami di masa lalu tidak harus mengubah mereka menjadi monster.

Seperti yang dikatakan oleh Master Amin, “Seburuk apapun keadaan yang dilalui manusia selalu ada harapan di dalam hidup kita. Separah apapun orang lain menyakiti kita, cinta akan mencegah kita menyakiti siapapun. Cinta akan membuat kita memaafkan dan mulai melihat kebaikan dalam diri kita sendiri. Begitu melihat diri kita sendiri, kita tidak akan menjadi monster.” Kutipan itu terasa seperti merangkum seluruh pesan yang ingin disampaikan Home School. Dan mungkin memang itulah yang sebenarnya ingin diajarkan oleh para master kepada murid-murid di sana.

Meski hanya sebuah cerita fiksi, Home School mengajak kita mempertanyakan kembali tujuan pendidikan. Pendidikan semestinya bukan sekadar mencetak siswa berprestasi. Lebih dari itu, pendidikan juga perlu membentuk seseorang menjadi manusia yang berintegritas, memiliki empati, mampu bekerja sama, jujur, bertanggung jawab, dan bisa berdamai dengan dirinya sendiri.