Netflix tampaknya tahu satu hal yang sulit dibantah: manusia suka nonton true crime selama sudah berubah jadi cerita yang dikemas sedemikian rupa. Pembunuhan yang pernah menghancurkan sebuah keluarga bisa berganti bentuk menjadi buku, podcast, dokumenter, film, serial, lalu dibicarakan kembali oleh jutaan orang yang sama sekali nggak terlibat di dalamnya.
Nah, Monster: The Lizzie Borden Story rilis dengan gagasan yang cukup menarik tentang bagaimana seorang perempuan yang dituduh melakukan pembunuhan bisa berubah menjadi cerita turun-temurun.
Lizzie Borden bukan lagi sebatas nama dari kasus pembunuhan tahun 1892, melainkan sudah jadi bagian dari kisah true crime itu sendiri, sosok yang terus dikulik karena misteri di balik kematian ayah dan ibu tirinya. Monster kemudian mengambil kisah tersebut, menambahkan romansa, kekerasan, horor, tokoh kriminal lain, serta sejumlah dramatisasi untuk membentuk versi baru Lizzie.
Dan semakin serial ini berusaha membicarakan bagaimana masyarakat mengonsumsi kisah kriminal, semakin terasa serial ini mengeksploitasinya. Menarik memang. Tapi ini juga problematis.
Monster: The Lizzie Borden Story merupakan musim keempat dari antologi Monster di Netflix, yang tayang 17 September 2026 dengan delapan episode. Serial ini dikembangkan oleh Ryan Murphy dan Ian Brennan, dengan Brennan sebagai kreator, penulis, dan showrunner. Max Winkler menyutradarai enam episode, sementara Sarah Adina Smith menangani dua episode.
Produksinya melibatkan Prospect Films, Ryan Murphy Productions, dan Netflix. Pemerannya terdiri dari Ella Beatty sebagai Lizzie Borden, Vicky Krieps sebagai Bridget “Maggie” Sullivan sekaligus Elizabeth Báthory, Charlie Hunnam sebagai Andrew Borden, Rebecca Hall sebagai Abby Borden, Billie Lourd sebagai Emma Borden, Jessica Barden sebagai Nance O’Neil, Joey Pollari, serta Sarah Paulson sebagai Aileen Wuornos.
Ceritanya mengikuti Lizzie Borden, perempuan dari keluarga kaya di Fall River yang hidup dalam tekanan. Ayahnya, Andrew, digambarkan keras dan mengabaikannya, sementara ibu tirinya, Abby, jadi sumber kekerasan dan penghinaan. Kehidupan Lizzie berubah ketika Bridget Sullivan datang sebagai pelayan. Kedekatan mereka berkembang jadi hubungan romantis yang memberi Lizzie rasa kebebasan, sebelum keduanya merancang pembunuhan Andrew dan Abby.
Cerita kemudian melebar menuju persidangan Lizzie, kehidupan setelah kasus tersebut, kisah Elizabeth Báthory, hingga Aileen Wuornos pada dekade berikutnya. Serial ini bahkan menghubungkan legenda Lizzie dengan kisah true crime masa kini melalui cara publik mengingat dan mengonsumsi kisah perempuan yang melakukan kejahatan itu.
Menarik yang Sekaligus Problematis
Iya, serial ini seperti ingin ngajak penonton melihat kasus kriminal sering berubah jadi tontonan, legenda, bahkan komoditas budaya. Di sini, Lizzie bukan sekadar manusia dalam cerita, melainkan nama yang terus dijual melalui buku, pemberitaan, adaptasi, lagu, podcast, dan kini serial Netflix. Konsepnya jelas punya daya kritis.
Serial kemudian mengisinya dengan hubungan romantis bersama Bridget, kekerasan keluarga, pembunuhan Bertha Manchester sebagai “trial run”, serta kaitan dengan Aileen Wuornos. Beberapa unsur tersebut efektif membuat cerita lebih dramatis, tapi juga sekaligus memperlihatkan bagaimana true crime bisa dibentuk ulang sampai kenyataan dan fiksi sulit dipisahkan.
Bertha Manchester menjadi contoh paling gamblang. Dalam serial, pembunuhannya ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan Lizzie dan Bridget menuju pembantaian keluarga Borden. Dalam sejarah, Manchester dibunuh oleh orang lain dan kasusnya terjadi setelah pembunuhan keluarga Borden. Bridget juga memiliki alibi kuat dalam kasus Borden. Perubahan seperti ini menunjukkan, serial ini sedang membangun kisah baru, bukan menghidupkan kembali catatan sejarah.
Pada dasarnya persoalan utama serial ini bukan kebebasan beradaptasi. Fiksi sejarah memang membutuhkan interpretasi. Masalah muncul ketika dramatisasi menjadi mesin utama. Monster mengkritik penonton yang tertarik pada legenda kriminal, sambil menawarkan darah, seks, kekerasan, romansa, horor, dan nama-nama terkenal sebagai alasan agar penonton terus mengikuti ceritanya.
Serial ini memang jadi lebih menarik untuk dipikirkan daripada sekadar dinikmati. Begitulah industri hiburan, tahu persis kisah viral memang akan laku dijual bila dibalut bumbu fiksi. Ups!
Baca Juga
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
-
Review Film The Last Sunrise: Nikmatnya Jatuh Cinta di Detik-Detik Terakhir
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Mengupas Sisi Psikologis Film Iyus Jenius, Pentingnya Memberi Ruang Anak untuk Bersedih
-
Review Runner: Aksi Simpel tapi Menghibur Banget, Keren!
Artikel Terkait
-
Review The Great Flood: Saat Film Bencana Berubah Jadi Misteri Sci-Fi yang Bikin Pikiran Meledak!
-
Makin Bikin Penasaran, Ini Bocoran Episode Terbaru Serial Tante Sonya
-
Animals Tayang 9 Oktober di Netflix, Ben Affleck Terjebak Kasus Penculikan
-
Sinopsis Plastic Beauty, Drama Mayu Matsuoka dan Riisa Naka di Netflix
-
VISION+ Hadirkan POTE, Serial Horor Soal Kutukan Mematikan di Pulau Marunda
Ulasan
-
Sarang de Chocolate: Toko Cokelat Misterius, Tempat Cinta dan Luka Menemukan Ruang untuk Pulih
-
Review The Great Flood: Saat Film Bencana Berubah Jadi Misteri Sci-Fi yang Bikin Pikiran Meledak!
-
Take My Hand: Ketika Menjadi Anak Kelas 12 Tak Semudah yang Dibayangkan
-
Belajar Agama Lewat Layar Ponsel, Buku Gus Nadir Ingatkan Pentingnya Sanad Keilmuan
-
Ajo Kawir Ingin Terlihat Jantan atau Malah Terjebak Toxic Masculinity?
Terkini
-
Belajar dari Lee Jae Myung: Ketika Presiden Mendengarkan Kekecewaan Rakyat
-
Proses Kreatif Wregas Bhanuteja: Lawan Klise Mistik Horor di KHFF 2026
-
Hidupkan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Gelar KHFF 2026
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Menuntut Dampak Nyata BRICS: Mampukah QRIS dan UPI India Berkolaborasi demi Pedagang Kaki Lima?