Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Second Sister (IMDb)
Ukhro Wiyah

Nggak semua balas dendam bikin seseorang berubah jadi sama jahatnya dengan pelaku. Mungkin kalimat itu yang bakal saya pilih kalau harus menggambarkan tokoh utama di film Second Sister ini. Meskipun punya kesempatan untuk "menusukkan pisau" dengan cara yang sama seperti pelaku yang membuat adiknya meninggal dunia, dia lebih memilih tetap menggunakan jalur hukum resmi.

Second Sister merupakan film adaptasi novel misteri populer karya penulis Chan Ho-kei. Film ini bercerita tentang So-eun (Kang Seo-ha), seorang kakak perempuan yang merasa hancur setelah adiknya, Ji-eun mengakhiri hidupnya. Semasa hidupnya, Ji-eun menjadi korban kejahatan. Namun, ada orang yang menyebarkan rumor palsu dan fitnah kejam di internet hingga membuat opini publik terhadap Ji-eun jadi negatif.

Demi memperoleh keadilan, So-eun menemui detektif swasta bernama Seol Jun-kyung (Kim Min-gue) yang juga seorang hacker jenius. Berkat bantuan Detektif Seol, ia bisa menemukan pelaku di balik semua unggahan yang membuat adiknya berakhir bunuh diri.

Seperti yang sempat saya singgung di awal, film ini diadaptasi dari novel. Sejujurnya, saya pribadi belum membaca novelnya. Namun, beberapa penonton di media sosial dan ulasan lain mengatakan jika versi film tidak sebagus novelnya. Sebagian juga mengatakan bahwa hal itu karena keterbatasan durasi dan budget.

Meski demikian, menurut saya, film Second Sister sudah cukup bagus dari segi alur dan penceritaannya, pesan utamanya pun berhasil tersampaikan dengan baik. Hanya saja, dari sisi eksekusinya memang terasa agak kurang maksimal, menurut saya. Terutama dalam perkembangan karakter. Di awal cerita, dia seperti orang yang sangat dekat dengan adiknya hingga merasa begitu ingin balas dendam dengan pelaku. Namun, ekspektasi penonton soal kedekatan So-eun dengan adiknya seolah dipatahkan oleh karakternya sendiri yang dari awal sampai akhir tetap digambarkan seperti orang yang nggak tahu apa-apa tentang adiknya. Jadinya nggak ada kesan "wah" yang saya dapat setelah menonton. Padahal sebenarnya film ini memiliki peluang yang bagus jika benar-benar dieksekusi secara maksimal.

Sejujurnya itu juga membuat karakter So-eun terasa sangat kontras dengan tokoh Detektif Seol yang digambarkan serba tahu dan terlalu mudah menemukan petunjuk. Hal ini akhirnya membuat ketegangan yang cukup intens di awal mulai terasa memudar di tengah-tengah cerita. Selain itu, tentang balas dendam yang dilakukan oleh So-eun pada pelaku menurut saya juga terlalu lunak dan bertele-tele. Namun, hal ini justru memperlihatkan bagaimana So-eun memilih untuk tetap menjadi manusia meskipun dendam dan amarah sempat menguasai dirinya.

Secara keseluruhan, Second Sister menyoroti bahaya cyberbullying yang terasa relevan dengan masa digital sekarang. Di mana seseorang bisa mengunggah apapun yang dia ingin di media sosial dan bisa menggiring opini publik ke arah yang dia mau.

Selain itu, film ini menggambarkan situasi kita saat ini tentang sulitnya memfilter setiap informasi digital yang kita terima. Oleh karena itu, kita memang perlu lebih berhati-hati sebelum mempercayai atau menyebarkan sesuatu tentang orang lain.

Second Sister juga menunjukkan bagaimana opini publik bisa sangat berpengaruh ke pribadi seseorang. Film ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap akun dan unggahan di internet, ada manusia yang bisa terluka oleh perkataan orang lain. Karena itu, kebebasan berbicara di media sosial tetap perlu disertai tanggung jawab agar kita tidak ikut menjadi bagian dari masalah yang kita sendiri tidak pernah tahu akibat akhirnya.

Sebab, satu unggahan yang terlihat sederhana bisa saja membawa dampak besar bagi kehidupan seseorang. Mungkin kelihatannya memang sekadar berkomentar atau membagikan informasi, tetapi bagi orang lain yang menjadi sasaran, hal tersebut bisa menjadi beban yang jauh lebih berat.

Buat penggemar genre misteri, film Second Sister layak untuk ditonton. Tapi, bagi yang sudah membaca novelnya lebih dulu, sebaiknya tidak berekspektasi terlalu tinggi.