Film Dan Bandung (2026) merupakan adaptasi novel karya Pidi Baiq yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan diproduksi oleh Verona Films. Film drama romantis ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Dengan durasi sekitar 117 menit dan rating Remaja, film ini menghadirkan kisah cinta anak muda yang diliputi perbedaan status sosial, tekanan keluarga, serta nuansa Kota Bandung sebagai latar yang kuat.
Perjalanan Asmara Basil dan Elma yang Penuh Perjuangan
Basil (Samo Rafael), mahasiswa Seni Rupa tingkat akhir, menjalani kehidupan penuh perjuangan. Ia tinggal bersama Mang Yadi (Nugie) dan Bi Rini (Tike Priatnakusumah) setelah ayahnya, Nugraha (Arswendy Bening Swara), dipenjara akibat fitnah. Demi membiayai kuliah dan skripsinya, Basil mengelola kios kaos bersama sahabatnya, Doni (Razan Zu) dan Uu (Theo Supple), sambil menerima pekerjaan sampingan.
Hidupnya berubah ketika ia bertemu Elma (Shanna Shannon), mahasiswi Farmasi yang cantik namun pendiam dan introvert, di sebuah pertandingan Persib. Terpesona, Basil membuat desain kaos bertuliskan “Dicari: Bidadari Bobotoh” dengan ilustrasi wajah Elma. Kaos tersebut menjadi viral dan menyebar di seluruh Bandung, membuat Elma merasa terganggu. Bersama sahabatnya Susi (Keisya Levronka), Elma mendatangi Basil untuk meminta produksi kaos dihentikan. Pertemuan yang awalnya diliputi kesalahpahaman justru menjadi awal kedekatan hingga tumbuh benih cinta.
Hubungan mereka kemudian menghadapi tantangan besar. Elma berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh. Ayahnya, Wiradireja (Donny Damara), adalah sosok yang ketat dan menolak hubungan tersebut. Konflik semakin rumit karena masa lalu keluarga yang saling terkait. Bandung menjadi saksi perjuangan Basil mempertahankan cintanya di tengah perbedaan kasta dan restu yang sulit diperoleh.
Ulasan Film Dan Bandung
Kurasa film ini tidak sekadar menyajikan romansa remaja. Ia juga menyentuh isu keluarga, termasuk representasi fatherless generation melalui karakter Elma yang tumbuh di bawah kontrol ketat ayahnya, serta perjuangan Basil yang kehilangan sosok ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Samo Rafael dan Shanna Shannon (dalam debut film panjangnya) membangun chemistry yang terasa natural setelah proses pendekatan yang cukup lama. Keisya Levronka sebagai Susi memberikan dukungan yang menyegarkan, sementara Donny Damara dan Jenny Zhang memperkuat konflik keluarga dengan kehadiran yang berwibawa. Rudi Soedjarwo, dikenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? membawa sentuhan nostalgia tanpa meniru secara berlebihan. Dialog mengalir natural, visualisasi sudut-sudut Bandung—baik yang syahdu maupun yang bising—memperkuat atmosfer melankolis khas Pidi Baiq.
Salah satu momen paling menyentuh dan romantis terjadi di kolong Jembatan Alun-alun Bandung. Di tengah kebisingan kota, Elma mengajak Basil merasakan bagaimana suara kendaraan perlahan menghilangkan keresahan di pikirannya. Basil kemudian mengajak Elma ke suatu tempat yang ia yakini dapat membuatnya tersenyum kembali. Adegan ini digambarkan intim, didukung alunan piano dari lagu Dan Bandung, dan menampilkan kehadiran Basil sebagai ruang ketenangan bagi Elma. Momen kedekatan sederhana ini menggambarkan bagaimana cinta tumbuh perlahan di tengah hiruk-pikuk kota, tanpa berlebihan, tapi meninggalkan kesan hangat yang mendalam.
Adegan emosional yang kuat muncul dalam perjuangan Basil menghadapi penolakan dan masa lalunya. Salah satu puncaknya adalah ketika Basil mengunjungi ayahnya di penjara untuk mencurahkan isi hati, kemudian memutuskan meminta maaf kepada Elma dan memperjuangkan hubungan mereka. Konflik dengan Wiradireja, yang melibatkan rahasia keluarga, menambah bobot emosional.
Selain itu, terdapat adegan lari yang mengingatkan pada gaya Rudi Soedjarwo, di mana karakter berlari dengan emosi yang kuat untuk mengejar atau menghadapi situasi krisis. Adegan-adegan ini mengungkap sisi luka Basil dan tekanan yang dihadapi Elma, membuatku merasakan pergolakan batin yang intens.
Dan Bandung berhasil menghadirkan kisah cinta yang familier namun diperkaya dengan dimensi keluarga dan refleksi kehidupan. Kekuatannya terletak pada chemistry pemeran utama, dialog yang cair, serta pemanfaatan Kota Bandung sebagai elemen naratif yang hidup. Film ini tidak hanya menawarkan momen gemas, tetapi juga mengajakku dan penonton yang lain merenungkan perjuangan mempertahankan hubungan di tengah perbedaan dan tekanan eksternal. Bagi penggemar karya Pidi Baiq dan film romansa Indonesia yang bermakna, Dan Bandung layak disaksikan di bioskop mulai 20 Agustus 2026. Rating pribadi: 8.6/10.
Baca Juga
-
Melihat Batas Tipis Kebenaran dan Naluri dalam Film Ayah, Aku Mau Cerita!
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Insidious: Out of the Further, Babak Baru Ketakutan Sinematik Paling Gelap!
-
Review Film Harusnya Horror: Cerita Hantu Gagal Seram yang Sangat Menghibur
-
Nimrods: A Green Day Comedy, Nekat Road Trip demi Konser Band Punk Idola!
Artikel Terkait
Ulasan
-
Memantik Ide yang Mati Suri di Buku Boom! 8 Dinamit Kreativitas
-
Melihat Batas Tipis Kebenaran dan Naluri dalam Film Ayah, Aku Mau Cerita!
-
Ulasan Novel Heaven: Potret Kelam Perundungan dan Pencarian Makna Hidup
-
Ulasan The Sound of Magic: Melihat Standar Kedewasaan dalam Hidup Anak Muda
-
Review Toko Buku Abadi: Novel Unik dengan Alur Cerdas dan Banyak Perspektif
Terkini
-
Bikin Skill Jadi Cuan: 5 Side Hustle yang Cocok untuk Mahasiswa dan Pekerja Muda
-
Be Wise: Bagaimana Membaca Menjadi Aplikator Sosial untuk Membaca Karakter Manusia
-
Menolak Bantuan Asing di Tengah Gempa NTT: Kedaulatan Bangsa atau Sekadar Gengsi?
-
Tragedi Bencana di Luar Jawa: Saat Nyawa Korban Tersandera Birokrasi dan Rantai Pasok Pusat
-
David Alonso, Calon Rookie MotoGP 2027 Ini Ternyata Anak Didik Marc Marquez