Orang hidup bisa berbohong. Saksi bisa lupa. Pelaku bisa menyusun alibi. Sementara itu, tubuh seseorang yang sudah meninggal masih menyimpan jejak yang jauh lebih sulit dimanipulasi. Luka, lebam, kondisi organ, hingga zat tertentu yang ditemukan dalam tubuh bisa menjadi potongan informasi untuk membongkar sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Gagasan tersebut menjadi fondasi menarik dalam Autopsy: Dead Body Can Talk, film Indonesia produksi Karya Kreatif Utama yang membawa dunia kedokteran forensik ke dalam thriller kriminal.
Film berdurasi ±112 menit ini disutradarai Ozan Ruz dengan skenario karya M. Nurman Wardi. Fariz Stanzah dan Marsa Moesa bertindak sebagai produser, sementara Rina Sry Nirwana Tarigan menjadi executive producer. Masayu Anastasia didapuk jadi bintang utama, serta diperankan Teuku Rifnu Wikana, Samuel Rizal, Indra Frimawan, Abdurrahman Arif, Nagra Pakusadewo, Zidni Hakim, Riyuka Bunga, Ge Pamungkas, dan Andrew Suleiman.
Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026 dengan klasifikasi Dewasa 17 Tahun.
Kisahnya terkait Hastry, polwan sekaligus dokter forensik yang menjadikan sains dan fakta sebagai pegangan dalam pekerjaannya. Karakter tersebut terinspirasi dari sosok nyata, Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F., dokter forensik Polri yang terkenal melalui penanganan berbagai kasus kematian nggak wajar.
Dalam pekerjaannya, Hastry berhadapan dengan berbagai jasad yang menyimpan jejak kematian masing-masing. Salah satu kasus penting berkaitan dengan jasad perempuan korban mutilasi yang belum diketahui identitasnya. Pemeriksaan tubuh korban kemudian membuka rangkaian petunjuk yang membuat penyelidikan berkembang semakin rumit.
Hastry juga dibantu Yatna dan Mojo yang diperankan. Di tengah proses penyelidikan, Hastry juga mengalami berbagai firasat dan pengalaman yang sulit dijelaskan secara ilmiah. Unsur tersebut kemudian memberikan lapisan psikologis sekaligus supernatural dalam perjalanan Hastry mengungkap kebenaran di balik kematian para korban. Asli, menarik banget unsur misterinya!
Gagasan Orang Mati Bisa Menjadi Saksi Paling Jujur
Korban sudah kehilangan suara. Dia nggak bisa memberikan kesaksian, menunjuk pelaku, atau menjelaskan kejadian terakhir dalam hidupnya. Tubuhnya pun hanya terbaring diam di meja autopsi.
Namun, diamnya ternyata full informasi. Lebamnya menjadi petunjuk. Lukanya menceritakan kekerasan yang terjadi. Kondisi organ pun membantu mengungkap penyebab kematian. Zat tertentu dalam tubuh juga bisa memberikan petunjuk penting mengenai apa yang terjadi sebelum seseorang meninggal.
Di sinilah Hastry mendapatkan peran yang menurutku sangat dekat di mata penonton. Dia jadi semacam penerjemah bagi korban yang sudah nggak mampu berbicara.
Pelaku mungkin bisa menyusun alibi. Saksi bisa salah mengingat detail kejadian. Orang-orang yang terlibat dalam kasus tertentu bisa memiliki kepentingan masing-masing. Jasad korbanlah yang meninggalkan jejak dari apa yang pernah dialaminya.
Karena itu, ruang autopsi dalam film ini lebih dari sebatas tempat pemeriksaan mayat. Ruangan tersebut menjadi tempat ketika cerita korban perlahan dibaca kembali melalui tubuhnya sendiri.
Aku suka gagasan seperti ini karena membuat profesi dokter forensik punya sisi heroik yang berbeda. Hastry nggak mengejar pelaku dengan pistol atau melakukan interogasi dramatis. Dia bekerja dalam kesunyian, membaca sesuatu yang bagi orang biasa mungkin hanya terlihat sebagai luka.
Sampai di sini paham, ya? Film Autopsy: Dead Body Can Talk memperlihatkan bahwa kematian nggak selalu menjadi akhir dari sebuah cerita. Ketika seseorang sudah nggak mampu memperjuangkan dirinya sendiri, tubuhnya masih bisa meninggalkan bukti. Dan selama masih ada seseorang yang mau membaca bukti itu, suara korban belum tentu lenyap ditelan tanah.
Nah. Buat Sobat Yoursay pecinta film model beginian, yakin deh, kamu nggak akan salah judul untuk merasakan keseruan film ini. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Hope: Ketika Ketidaktahuan Manusia Jadi Kekacauan yang Mematikan
-
Review Chronovisor: Saat Kebenaran dan Teori Konspirasi Sulit Dibedakan
-
Review The Girl in the River: Misteri Pembunuhan yang Kehilangan Taringnya
-
Review Film By Any Means: Ketika Hukum Gagal, Kekerasan Layak Bicara?
-
Review Film Mayday: Ketika Musuh Jadi Orang yang Paling Bisa Dipercaya
Artikel Terkait
-
Sinopsis Film Hungry Ghost Festival: Petualangan Aci Resti hingga Fajar Nugra Berujung Teror Arwah
-
Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Lagi Berbohong, Pencitraan Mulai Berantakan
-
Bintangi Film 'Urang Bunian', Dimas Aditya 'Tersesat' di Hutan Sumatra
-
Belajar Mencintai Alam dari Film David Attenborough: A Life on Our Planet
-
Munafik: Melawan Iblis, Kisah Ustaz Menghadapi Teror Gaib
Ulasan
-
I Am Not Happy!: Cerita Quokka tentang Perasaan yang Sering Disalahpahami
-
Ulasan Detective Conan: Fallen Angel of the Highway, Aksi Motor Misterius
-
Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah
-
Ulasan 18 Again: Penyesalan yang Mengajarkan Arti Memahami Keluarga
-
Ulasan Lalu, Baton Diserahkan: Ketika Keluarga Dibentuk oleh Kasih Sayang
Terkini
-
Sinopsis Fragments of Truth, Drama China Terbaru Huang Jun Jie di Youku
-
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
-
Anti-Kilap Seharian! 4 Sunscreen SPF 50 Matte Finish untuk Kulit Berminyak
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Rilis PV Baru, Anime PSYREN Hadirkan Misteri Bertema Kekuatan Psikis