Sebuah kota kecil selalu punya cara sendiri untuk menyimpan rahasia. Orang-orang saling mengenal, kabar menyebar cepat, dan satu tragedi bisa membuat masyarakat hidup dalam kecurigaan.
The Girl in the River memanfaatkan suasana itu lewat kasus penculikan dua saudara perempuan kembar remaja. Satu ditemukan tewas di Sungai Mississippi, sementara saudara kembarnya masih menghilang.
Film thriller garapan Brando Benetton ini berdurasi 92 menit dan dirilis di bioskop Amerika Serikat sekaligus secara digital pada 4 September 2026. Benetton menulis sekaligus menyutradarai film ini.
Produksinya melibatkan Andrew Stevens Entertainment, Black Diamond Films, Eyevox Entertainment, Dynamic Color, dan Highland Film Group, dengan Samuel Goldwyn Films sebagai distributor.
Produsernya Andrew Stevens, Joe Lemmon, dan Rick Moore. Maggie Grace memerankan Amelia Pembrock, Devon Sawa sebagai Alan Kramer, Tiffany Haddish sebagai Erica Graysmith, dan Ralph Macchio sebagai Colin Ripley.
Cerita mengenai Alan Kramer, kriminolog veteran yang dipasangkan dengan Amelia Pembrock, psikolog forensik muda sekaligus profiler yang minim pengalaman lapangan.
Mereka bekerja di bawah Captain Erica Graysmith untuk mengungkap pembunuhan gadis dan mencari saudara kembarnya yang masih hilang.
Petunjuk pada jasad korban mengarah pada pelaku yang sangat terencana. Pencarian kemudian berkembang menjadi perburuan besar ketika media ikut menyoroti kasus tersebut dan warga kota mulai saling mencurigai. Alan dan Amelia harus masuk ke pola pikir pelaku sebelum korban berikutnya jatuh. Uh, keren kali, ya?
Permainan Psikologis dan Twist Film The Girl in the River yang Kesannya Disepelekan
Jujur saja aku suka gagasan tentang profiler muda yang harus bekerja bersama kriminolog veteran dalam kota kecil.Formula ini punya ruang luas untuk permainan psikologis dan kejutan.
Sayangnya, The Girl in the River lebih sering memberi tahu penonton kalau-kalau misterinya hebat, ketimbang bikin penonton merasakan kehebatannya. Amelia disebut-sebut brilian, sementara proses investigasinya sering kurang menunjukkan kecerdasannya. Kritik ini nggak lepas dari label genrenya, lho. Katanya ini film thriller, kan? Sayangnya, film ini minim ketegangan.
Di sinilah film jadi hilang taringnya. Investigasi bergerak dari satu petunjuk menuju petunjuk berikutnya, tapi proses berpikirnya jarang memuaskan penonton. Aku ingin menyusun teori bersama karakter, lalu dibuat ragu ketika teori itu runtuh. Filmnya malah lebih sering membuat diriku menunggu jawaban.
Devon Sawa menjadi pengecualian yang asyik. Sosok Alan Kramer yang diperankannya, memang membawa banyak ciri khas detektif veteran. Mulai dari rasa lelah sampai beban pribadi, membuat semuanya lebih related.
Situasi kota kecil Mississippi juga belum dimanfaatkan maksimal. Lingkungan seperti ini seharusnya bisa jadi sumber paranoia tersendiri. Warga yang saling mengenal, sungai yang menyimpan tragedi, dan keluarga berpengaruh bisa membentuk tekanan lebih kuat.
Intinya, The Girl in the River punya fondasi cerita yang sebenarnya cukup menjanjikan. Kasus penculikan dan pembunuhan di kota kecil bisa jadi bahan yang menarik untuk membangun misteri penuh teka-teki. Ditambah pemain utama yang cukup mampu membawa karakter masing-masing serta durasi yang ringkas, film ini sebenarnya punya modal untuk menjadi tontonan kriminal yang solid.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dimaksimalkan. Eksekusi misterinya kurang menggigit karena sejumlah petunjuk dan konflik nggak berhasil membangun rasa penasaran yang kuat. Ketika seharusnya penonton dibuat terus menebak-nebak, film ini malah berjalan dengan pola yang relatif mudah ditebak.
Meski begitu, The Girl in the River masih bisa jadi pilihan buat Sobat Yoursay yang menyukai film prosedural kriminal dengan formula klasik dan cerita yang sederhana. Bagiku, film ini seperti kehilangan taringnya. Punya bahan untuk menerkam, tapi kurang mampu menciptakan gigitan yang membekas.
Tag
Baca Juga
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah