Mississippi pada 1966 menjadi latar Film By Any Means, film drama kriminal yang membawa penonton ke masa ketika perjuangan hak-hak sipil berlangsung di tengah diskriminasi rasial dan kekerasan kelompok supremasi kulit putih. Di Indonesia, film garapan Elegance Bratton ini tercatat LSF (Lembaga Sensor Film) tayang pada 2 September 2026 dengan durasi 106 menit.
Film By Any Means diproduksi Thunder Road Films, Hammerstone Studios, dan Freedom Principle. Skenarionya ditulis Sascha Penn, sementara jajaran pemainnya diisi Mark Wahlberg sebagai Gregory Scarpa, Yahya Abdul-Mateen II sebagai Wayne Strider, Giancarlo Esposito sebagai Vernon Dahmer, Nicole Beharie, Josh Lucas, David Strathairn, LisaGay Hamilton, LaChanze, dan Ethan Embry. Paramount Pictures menjadi distributor untuk perilisan teatrikalnya.
Cerita film ini terinspirasi dari peristiwa nyata pembunuhan Vernon Dahmer, tokoh hak-hak sipil dan pemimpin NAACP di Mississippi. Setelah Dahmer menjadi korban serangan brutal kelompok Ku Klux Klan, penyelidikan FBI menghadapi situasi rumit karena pengaruh kelompok tersebut juga merembes ke lingkungan penegakan hukum setempat. Dalam kondisi seperti itu, FBI kemudian memanfaatkan bantuan Gregory Scarpa, mafia New York sekaligus informan FBI yang memang pernah terlibat dalam penyelidikan kasus-kasus hak sipil.
Film kemudian memasukkan Wayne Strider, agen FBI kulit hitam yang diperankan Yahya Abdul-Mateen II. Strider merupakan karakter komposit fiktif yang mengambil inspirasi dari pengalaman sejumlah agen FBI kulit hitam pada masa tersebut. Dia datang dengan keyakinan terhadap hukum dan institusi, lalu dipaksa berhadapan dengan realita Mississippi yang jauh lebih brutal dari yang dia bayangkan. Bersama Scarpa, Strider masuk ke penyelidikan yang perlahan mengaburkan batas antara penegakan hukum, pembalasan, dan kekerasan.
Daya Tarik Terbesar Film By Any Means
Dalam film, karakter Strider percaya keadilan seharusnya lahir dari hukum. Scarpa memiliki cara pandang yang jauh lebih simpel tapi brutal. Bagi dirinya, orang-orang yang melakukan kekerasan layak mendapatkan kekerasan pula. Ketika institusi berjalan lambat, Scarpa memilih mengambil jalan pintas dengan senjata, ancaman, dan pukulan.
Menariknya, film ini berhasil bikin diriku memahami mengapa cara Scarpa begitu masuk di akal. Ada kepuasan ketika orang-orang yang selama ini melakukan kekerasan akhirnya mendapatkan balasan. Film bahkan sengaja membuat tindakan Scarpa ibarat pelepasan emosi. Kekerasannya kasar, berlebihan, dan kadang seperti fantasi balas dendam. Masalahnya muncul ketika kepuasan itu mulai menggeser persoalan moral yang sebenarnya jauh lebih menarik.
By Any Means sedang membicarakan sejarah diskriminasi rasial dan perjuangan hak-hak sipil, tapi film juga ngasih spot sensasi kekerasan. Strider yang semula percaya pada prosedur hukum perlahan terseret menuju cara Scarpa. Perubahan itu membuat film ibarat perjalanan seseorang yang mulai kehilangan kepercayaannya pada institusi dan menemukan kenyamanan dalam pembalasan.
Buatku, bagian itu jadi daya tarik sekaligus kelemahan film.
By Any Means punya keberanian memperlihatkan bahwa keadilan dan pembalasan bisa terlihat sangat mirip ketika seseorang sudah terlalu lama menyaksikan ketidakadilan. Namun, film kadang terlalu menikmati kekerasan Scarpa sehingga persoalan moralnya tenggelam dari potensinya yang sebenarnya bisa diangkat di layar lebar.
Mark Wahlberg jujur saja mampu tampil eksentrik sebagai Scarpa, sementara Yahya Abdul-Mateen II ngasih keseimbangan melalui karakter Strider yang lebih tenang dan emosional. Kontras keduanya membuat konflik utama film jelas: satu percaya pada sistem, satu percaya pada tindakan.
Bisa disimpulkan, By Any Means merupakan film tentang harga yang harus dibayar ketika hukum kehilangan tanduknya. Film ini menarik karena berani membawa penonton ke wilayah abu-abu, tempat keadilan bisa begitu memuaskan sekaligus mengerikan.
Sebab ketika seseorang mulai percaya kekerasan adalah satu-satunya jalan menuju keadilan, yang berubah pada akhirnya bukan hanya sistem hukumnya, melainkan juga dirinya sendiri. Bukankah begitu, Sobat Yoursay?
Baca Juga
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
Artikel Terkait
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Pertama! Film Korea Possible Love Bawa Pulang Piala Silver Lion di Venice
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Review Dark Matter Season 1: Menjelajah Multiverse Demi Menyelamatkan Cinta Sejati
Ulasan
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan