Dilihat dari luarnya, Dignitate mungkin terlihat seperti film remaja pada umumnya.
Ada cowok ganteng yang dingin dan susah didekati. Ada murid baru yang ceria dan berbanding terbalik dengannya. Ada pertengkaran kecil yang perlahan berubah menjadi rasa suka. Ditambah masa lalu, orang ketiga, dan drama keluarga yang membuat semuanya menjadi jauh lebih rumit.
Formula seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Tapi mungkin justru karena hal itulah Dignitate menarik untuk dilihat kembali. Sebab, di balik kisah cinta Alfi dan Alana, film ini sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih berat, yaitu tentang luka yang tidak selesai hanya karena seseorang datang dan mencintai kita.
Alfi, yang diperankan oleh Al Ghazali, digambarkan sebagai siswa SMA yang dingin, galak, sarkastis, dan sangat fokus pada prestasi akademiknya. Ia bahkan mendapat julukan GGS alias "ganteng-ganteng seram."
Kemudian datang Alana, murid baru yang ceria, polos, dan memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan Alfi. Keduanya sering bertengkar sebelum akhirnya hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman sebangku.
Sampai kemudian muncul Regan. Dan sejak saat itu, cerita yang awalnya terasa seperti romansa remaja perlahan berubah.
Regan bukan sekadar mantan Alana. Kehadirannya membawa kembali pengalaman buruk yang berusaha ditinggalkan Alana. Bahkan, semakin jauh cerita berjalan, semakin banyak rahasia yang terbuka tentang hubungan Regan dengan Alana dan Alfi.
Di sinilah saya merasa Dignitate sebenarnya punya ruang yang cukup besar untuk dibicarakan. Karena sering kali kita melihat cinta seperti obat untuk segala sesuatu.
Ketika seseorang sedang terluka, kita berpikir ia hanya membutuhkan orang yang tepat. Ketika seseorang takut membuka hati, kita menganggap cinta baru akan membuatnya kembali percaya. Ketika seseorang memiliki masa lalu yang buruk, kita berharap kehadiran seseorang yang mencintainya dapat membuat semuanya menjadi lebih baik.
Padahal, tidak sesederhana itu.
Alana mungkin menemukan seseorang yang ingin melindunginya. Tetapi rasa takut tidak otomatis hilang hanya karena ada orang baru di sampingnya. Dan menurut saya, itu salah satu bagian yang membuat konflik dalam Dignitate terasa cukup emosional.
Alfi sendiri juga bukan karakter yang sepenuhnya mudah dipahami. Sikap dinginnya seolah menjadi dinding yang ia bangun untuk memisahkan dirinya dari orang lain. Ia bukan tipe laki-laki yang mudah mengatakan apa yang dirasakan. Bahkan ketika mulai peduli kepada Alana, caranya menunjukkan perhatian tetap terasa kaku.
Menariknya, justru Alana yang perlahan membuat sisi lain Alfi terlihat. Mungkin memang seperti itu cara manusia bekerja. Kadang kita terlihat kasar bukan karena tidak punya perasaan, tetapi karena tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.
Kadang kita terlihat tidak peduli karena terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Dan kadang, orang yang paling sulit kita pahami justru adalah orang yang sedang berusaha paling keras menyembunyikan sesuatu.
Namun, kalau ada satu hal yang menurut saya membuat Dignitate tidak sekadar menjadi kisah cinta anak SMA, itu adalah persoalan keluarga.
Hubungan Alfi dengan Regan membuat persoalan menjadi jauh lebih kompleks. Regan ternyata bukan orang asing dalam kehidupan Alfi. Ia adalah kakaknya. Fakta ini kemudian membuat konflik mereka tidak hanya berbicara tentang persaingan dua laki-laki terhadap seorang perempuan, tetapi juga tentang keluarga, rahasia, dan konsekuensi dari masa lalu.
Di titik ini saya jadi berpikir, seberapa jauh seseorang bisa bertanggung jawab atas kesalahan orang yang ia sayangi?
Kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang kita dapatkan. Kita tidak bisa memilih keluarga seperti apa tempat kita dilahirkan. Kita bahkan tidak bisa menghapus kesalahan orang lain yang kebetulan memiliki hubungan dengan kita.
Yang bisa kita pilih hanyalah bagaimana kita bersikap setelah mengetahui semuanya.
Secara keseluruhan, film ini justru membuat kita bertanya:
“Setelah semua luka itu terjadi, apakah kita masih bisa belajar mencintai tanpa terus dihantui masa lalu?”
Mungkin, jawabannya tidak pernah sesederhana jatuh cinta. Kalau pendapatmu setelah menonton film ini, bagaimana?
Baca Juga
-
Ulasan Toy Story 5: Ketika Gadget Perlahan Mengambil Alih Masa Kecil Anak
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Kim Garam Unggah Foto Profil Baru, Siap Comeback dan Debut Jadi Aktris
-
Mantra untuk Cinta dan Brengseknya Dunia: Ketika Sebuah Buku Jadi Penyelamat
-
Memaknai The Stoic Way of Not Giving A Damn: Kita Terlalu Banyak Peduli
Artikel Terkait
-
Dibintangi Dinda Hauw dan Rey Mbayang, Intan Kieflie Bawa Film Ritual Gaib Tayang di 38 Negara
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah