Sekar Anindyah Lamase | Ken Hitana
Cover Buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Goodreads)
Ken Hitana

Apa yang membuat laki-laki dicap 'jantan'? Apakah harus kuat? Pandai berkelahi? Atau yang bisa membuktikan secara seksual?

Pertanyaan tersebut melekat pada karakter Ajo Kawir di novel Eka Kurniawan berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Ajo Kawir dikenal sebagai pria jagoan yang tak takut mati. Di balik itu, ia menyimpan rahasia besar. Kelaminnya tak bisa 'berdiri' setelah melihat persetubuhan Rona Merah dengan oknum aparat saat ia kecil. 

Karenanya, Ajo merasa dirinya bukan seorang lelaki seutuhnya. Lewat Ajo Kawir, Eka Kurniawan menggambarkan bagaimana tuntutan maskulinitas tertentu dapat menjadi tekanan bagi laki-laki.

Impotensi Meruntuhkan Kejantanan Ajo Kawir

Ilustrasi boneka kayu (unsplash/Giorgio Trovato)

Bagi Ajo Kawir, impotensi bukan sekadar persoalan fisik. Kondisi tersebut membuatnya merasa kehilangan salah satu hal yang selama ini dianggap sebagai bukti kejantanan seorang laki-laki. Karena itu, Ajo memilih menghadapi rasa malu dan frustrasinya dengan cara yang keras, termasuk melalui perkelahian. 

Ia menjadi jagoan yang menantang semua orang sebagai topeng yang menutupi kejantanannya yang layu. Ajo percaya cara ini bisa mempertahankan harga dirinya sebagai laki-laki. Ketika seorang lelaki tak bisa membuktikan kejantanan lewat seksualitas, maka kekuatan fisik yang dipertaruhkan.

Menghadapi Tuntutan Bahwa Laki-laki Tidak Boleh Lemah

Ilustrasi pria berotot (unspalsh/KirstenMarie)

Ajo Kawir dikenal sebagai jagoan yang tidak gentar menghadapi perkelahian dan justru mendapatkan pengakuan dari kemampuannya bertarung. Namun, jika dilihat lebih jauh, keberanian tersebut juga berkaitan dengan cara Ajo membangun citra dirinya sebagai laki-laki yang kuat.

Dikaitkan dengan kondisi impotensinya, mekanisme ini membuat Ajo tetap diakui sebagai lelaki jantan. Dari sini Ajo justru terikat dengan citra laki-laki yang harus selalu terlihat kuat. Ia tidak ingin terlihat lemah, sementara kebutuhan untuk terus membuktikan kekuatan justru membuatnya semakin terjebak dalam maskulinitas yang keras.

Karakter Iteung dan Peran yang Terbalik

Ilustrasi meninju (unsplash/Sarah Cervantes)

Dalam novel ini, Ajo mempunyai lawan yang seimbang, yaitu Iteung. Meskipun perempuan, ia merupakan petarung tangguh yang sanggup mengalahkan Ajo. Lambat laun, mereka justru terjebak dalam hubungan cinta yang rumit.

Dalam hubungan mereka, posisi Ajo dan Iteung terasa seperti mengalami pembalikan. Ajo yang dikenal kuat dan jago berkelahi justru menyimpan kerentanan yang berkaitan dengan seksualitasnya. Sementara itu, Iteung tampil lebih berani dalam mengungkapkan keinginan dan mengambil keputusan atas dirinya sendiri. Hal-hal yang biasanya dilekatkan pada laki-laki dan perempuan pun menjadi tidak sesederhana itu.

Iteung mengetahui kondisi Ajo. Ketika mereka melakukan hubungan intim, Iteung membantu menentukan apa saja yang bisa dilakukan Ajo tanpa alat kelaminnya. Hal ini menunjukkan posisi Iteung yang lebih dominan daripada Ajo.

Novel ini merupakan karya Eka Kurniawan pertama yang saya baca. Saya takjub dengan premis dan bahasa lugas yang digunakan untuk menggambarkan karakter-karakter dan situasi yang mereka hadapi. Melalui tokoh Ajo Kawir, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menunjukkan bahwa tuntutan untuk selalu kuat dapat menjadi beban bagi laki-laki. Ketika kekuatan, keberanian, dan kemampuan seksual dijadikan ukuran kejantanan, kerentanan justru dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.