Sekar Anindyah Lamase | Tarassa Q.
Rectoverso (Gramedia)
Tarassa Q.

Ada banyak cara untuk menceritakan cinta. Dewi Lestari, yang dikenal dengan nama Dee, memilih cara yang cukup berbeda melalui Rectoverso. Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita pendek, melainkan sebuah karya yang mempertemukan sastra dengan musik. Di dalamnya terdapat sebelas cerita yang masing-masing memiliki pasangan lagu. Keduanya dapat dinikmati secara bersamaan maupun sendiri-sendiri, tetapi ketika dipertemukan, cerita dan lagu memberikan pengalaman emosional yang lebih utuh.

Nama Rectoverso sendiri menggambarkan gagasan tentang dua permukaan yang berada pada lembar yang sama. Konsep tersebut menjadi gambaran yang tepat untuk isi buku karena setiap cerita memiliki sisi lain yang direpresentasikan melalui musik. Pembaca diajak melihat cinta dari berbagai sudut, seperti kebahagiaan, kesepian, kecemasan, kehilangan, penantian, hingga keraguan yang sering kali sulit disampaikan secara langsung.

Sebelas kisah yang terdapat di dalam buku ini memiliki warna masing-masing. Curhat Buat Sahabat berbicara mengenai arti perhatian dalam sebuah hubungan dan menunjukkan bahwa kasih sayang tidak dapat diukur hanya melalui pemberian material. Malaikat Juga Tahu menghadirkan kisah cinta yang menyentuh tentang seorang pria dengan keterbatasan intelektual yang menyayangi seorang perempuan. Sementara itu, Selamat Ulang Tahun membawa pembaca pada cerita mengenai ketulusan dan arti sebuah momen istimewa.

Cerita lainnya juga menawarkan pengalaman emosional yang beragam. Aku Ada menggambarkan seseorang yang memilih tetap berada di sisi orang yang dicintainya tanpa banyak diketahui. Hanya Isyarat mengajak pembaca memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam perilaku seseorang. Peluk menjadikan pelukan sebagai simbol kenyamanan dan tempat kembali. Grow A Day Older berbicara mengenai perubahan yang datang bersama waktu dan proses menjadi lebih dewasa.

Kemudian ada Cecak Di Dinding, yang berangkat dari pengamatan sederhana tetapi berkembang menjadi perenungan mengenai kehidupan. Firasat menghadirkan kegelisahan ketika seseorang merasakan adanya sesuatu yang tidak beres terhadap orang terkasih. Tidur menggambarkan kelelahan emosional dalam sebuah penantian, sedangkan Back to Heaven's Light menghadirkan nuansa tentang perjalanan menuju kepulangan yang damai.

Saya sendiri tertarik membaca Rectoverso terutama karena konsepnya yang tidak biasa. Perpaduan antara cerpen dan lagu membuat buku ini terasa berbeda dari kumpulan cerpen pada umumnya. Selain itu, format cerita pendek membuatnya cukup ringan untuk dibaca. Dengan ketebalan sekitar 170 halaman, buku ini juga dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Dari sebelas cerita tersebut, Malaikat Juga Tahu dan Firasat menjadi dua kisah yang paling berkesan bagi saya karena keduanya mampu meninggalkan kesan emosional yang kuat.

Setelah membacanya, saya menangkap satu gagasan besar, yaitu cinta tidak selalu berarti mendapatkan seseorang untuk menjadi milik kita. Beberapa cerita justru memperlihatkan bahwa mencintai juga berarti menerima, merelakan, dan menemukan kebahagiaan ketika orang yang kita sayangi dapat menjalani hidupnya dengan baik. Ketulusan pun tidak selalu menghasilkan balasan yang setara, tetapi tetap memiliki nilai ketika diberikan tanpa tuntutan.

Buku ini juga mengingatkan pembaca untuk menghargai orang-orang terdekat sebelum kesempatan itu hilang. Perasaan yang terlalu lama disimpan dapat berubah menjadi penyesalan ketika keadaan tidak lagi memungkinkan untuk mengungkapkannya. Pada akhirnya, Rectoverso seperti mengajak kita memahami bahwa kehidupan memang tersusun dari dua sisi yang berlawanan. Bahagia dan sedih, bertemu dan berpisah, mencintai dan melepaskan bukanlah bagian yang berdiri sendiri, melainkan pasangan yang membuat pengalaman manusia terasa lengkap.

Identitas Buku

Judul: Rectoverso
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786231864284