Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi buku (unsplash/Dominika Walczak)
Ken Hitana

Menurutmu, cinta harus dihadapi pakai hati atau akal sehat? Pertanyaan yang kelihatannya sederhana ini nyatanya menjadi rumit jika benar-benar menjalaninya. Seperti dalam kisah Elinor dan Marianne dalam novel Jane Austen, Sense and Sensibility, yang terbit pertama kali pada tahun 1811.

Novel ini berkisah tentang kakak beradik yang memiliki pandangan berbeda saat sedang jatuh cinta. Elinor, sang kakak, percaya bahwa cinta harus diterima secara rasional. Di sisi lain, adiknya, Marianne, sangat mengedepankan hasrat dan perasaannya saat berhadapan dengan seseorang yang dicintainya. Dari perbedaan ini, kira-kira mana yang lebih baik saat berbicara soal cinta?

Sinopsis Sense and Sensibility

Cover Buku Sense and Sensibility (Goodreads)

Sense and Sensibility bercerita tentang Elinor dan Marianne Dashwood yang harus menghadapi kehidupan baru setelah ayah mereka wafat dan meninggalkan keluarga dalam kondisi finansial yang sulit. Keduanya kemudian pindah bersama ibu dan adik mereka ke sebuah rumah sederhana di Devonshire. Di tengah kehidupan barunya, Elinor jatuh cinta kepada Edward Ferrars, tetapi memilih menyimpan perasaannya karena berbagai keadaan. Sementara itu, Marianne menjalin hubungan dengan John Willoughby dan yakin bahwa dirinya telah menemukan cinta sejati.

Namun, hubungan Marianne tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Willoughby tiba-tiba meninggalkannya dan memilih perempuan lain, membuat Marianne harus menghadapi kenyataan bahwa perasaan yang begitu ia percaya ternyata tidak menjamin akhir yang bahagia. Di sisi lain, Elinor juga menyimpan kesedihan ketika mengetahui Edward ternyata telah bertunangan dengan perempuan lain. Lewat pengalaman keduanya, novel ini memperlihatkan bagaimana kakak beradik ini sama-sama belajar tentang cinta, kehilangan, dan pentingnya menyeimbangkan perasaan dengan akal.

Menurut Elinor, Cinta Harus Masuk Akal

ilustrasi sticky note bergambar (unsplash/AbsolutVision)

Sesaat setelah keluarga Dashwood pindah ke Devonshire, Elinor diam-diam jatuh hati pada pandangan pertama kepada Edward Ferrars. Masalahnya, keluarga Ferrars berasal dari keluarga kaya yang terpandang. Zaman itu, perbedaan kasta seperti ini sangat mempengaruhi hubungan interaksi apalagi kalau sampai menikah. Karena ini, Mrs. Ferrars menentang hubungan anaknya dengan Elinor.

Elinor memilih untuk mengurungkan perasaannya karena tahu akan konsekuensi ini. Ia paham semua akan rumit jika ia mengedepankan hatinya. 

Namun, sikapnya yang dianggap dewasa ini ternyata malah menuntunnya pada kekecewaan. Edward diketahui telah bertunangan dengan Lucy Steele. Meski begitu, Elinor tetap tenang dan tak menunjukkan emosi bergejolaknya. Ia memilih untuk memendam sendiri kesedihannya tanpa boleh orang lain tahu.

Bagi Marianne, Hati Tetap Nomor 1 Waktu Ngomongin Cinta

ilustrasi gambar hati (unsplash/Jamez Picard)

Berbanding terbalik dengan kakaknya, Marianne sangat terbuka soal perasaannya. Seperti saat ia jatuh cinta dengan John Willoughby, ia percaya ia harus menunjukkan dengan jujur dan kuat. Hubungannya berkembang sangat cepat karena mereka memiliki banyak kesamaan. Marianne pun sangat yakin kalau hubungannya akan sampai ke altar pernikahan.

Suatu hari, Willoughby harus pergi ke London. Tak kunjung ada kabar, Marianne menunggu kepulangannya dengan perasaan resah. Masalah makin panjang saat Willoughby akhirnya pulang. Sikapnya kepada Marianne tak lagi sama. Usut punya usut, Willoughby telah menjalin hubungan lain dengan Ms. Grey yang memiliki kondisi finansial lebih baik daripada Marianne.

Marianne benar-benar hancur karena selama ini ia menganggap kedekatannya dengan Willoughby sebagai sesuatu yang tulus. Tertekan dan sulit menerima kenyataan, Marianne akhirnya jatuh sakit. Di sini, Marianne mulai sadar kalau cinta akan menghancurkannya jika tak dibarengi dengan logika.

Cinta Itu Sense and Sensibility, Bukan Sense vs Sensibility

ilustrasi orang berpelukan (unsplash/Gemali Martinez)

Setelah ditempa kerasnya hubungan percintaan, keduanya sadar. Dengan selalu memendam dan tidak mempedulikan perasaannya sendiri tak akan membuat suasana membaik. Dan yang selalu mengedepankan hati serta ketulusannya akan rapuh.

Elinor memang logis. Tapi sikapnya yang acuh tak acuh malah tak membuatnya terlihat dewasa. Padahal, menyembunyikan perasaan bukan berarti perasaan itu hilang.

Begitu juga dengan Marianne. Ketulusannya dalam mencintai Willoughby memang terlihat indah, tetapi ia terlalu percaya bahwa perasaan yang kuat akan selalu membawa hubungan pada akhir yang ia inginkan. Ketika kenyataan berkata sebaliknya, ia justru menjadi sangat rapuh dan sulit menerima keadaan.

Setelah selesai membaca, saya merasa kalau kisah cinta Elinor dan Marianne ini diwarnai keberuntungan meskipun harus mengalami progres yang cukup lambat. Ferrars dan Willoughby yang sudah berpaling masih bisa kembali ke pelukan mereka berdua. Begitu juga dengan Ferrars dan Willoughby, mereka kembali saat Elinor dan Marianne mulai belajar cara mencintai. Timing-nya pas!