Kalau dunia benar-benar hancur besok, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Mencari makanan? Mencari tempat aman? Atau justru mencari orang-orang yang kita sayangi?
Pertanyaan semacam itu terasa sederhana sampai kita melihat bagaimana manusia bertahan hidup dalam Badland Hunters. Film Korea Selatan yang dirilis Netflix pada 2024 ini membawa penonton ke Seoul yang sudah berubah menjadi tanah tandus setelah gempa bumi besar menghancurkan kota.
Di tempat seperti itu, air bersih, makanan, bahkan keselamatan menjadi sesuatu yang sulit didapatkan. Namun, Badland Hunters bukan hanya film tentang dunia pasca-apokaliptik.
Film ini juga memperlihatkan satu hal yang menarik, ketika segala sesuatu yang membuat hidup terasa nyaman sudah hilang, manusia justru kembali pada sesuatu yang paling dasar, yaitu bertahan hidup dan melindungi orang lain.
Cerita berpusat pada Nam-san, seorang pemburu tangguh yang hidup di tengah reruntuhan Seoul. Bersama Choi Ji-wan, yang diperankan Lee Jun-young, ia berburu untuk mendapatkan makanan yang kemudian ditukar dengan kebutuhan lain bersama para penyintas.
Ji-wan bukan sosok sekuat Nam-san, tetapi ia menjadi partner yang terus berada di sisinya. Kehidupan mereka memang jauh dari kata nyaman. Tetapi setidaknya mereka masih punya komunitas. Masih ada orang-orang yang mereka kenal. Masih ada seseorang yang bisa mereka bantu.
Sampai kemudian Han Su-na, seorang remaja yang dekat dengan Nam-san dan Ji-wan, dibawa pergi ke sebuah kompleks apartemen yang menjanjikan kehidupan lebih baik dan akses air bersih. Masalahnya, tempat tersebut ternyata berada di bawah kendali seorang dokter bernama Yang Gi-su yang melakukan eksperimen berbahaya terhadap manusia.
Dari sinilah petualangan mereka dimulai.
Kalau dilihat sekilas, premisnya memang cukup familiar. Dunia hancur, ada kelompok yang ingin menguasai sumber daya, seorang gadis harus diselamatkan, kemudian karakter utama berangkat menghajar siapa pun yang menghalangi jalan.
Dan harus diakui, Badland Hunters memang tidak terlalu berusaha menjadi film yang rumit.
Nam-san berhadapan dengan berbagai musuh menggunakan tangan kosong maupun senjata, sementara dunia di sekelilingnya dipenuhi kekerasan dan ancaman. Netflix menonjolkan koreografi pertarungan intens sebagai salah satu daya tarik utama film.
Jadi, kalau kamu mencari film yang penuh adegan berantem, Badland Hunters cukup tahu bagaimana cara membuat penonton betah. Tapi justru di tengah semua pukulan, tembakan, dan kejar-kejaran itu, ada sisi lain yang menurut saya lebih menarik untuk dibicarakan.
Kenapa mereka masih peduli kepada orang lain ketika dunia sudah tidak peduli kepada mereka?
Nam-san dan Ji-wan sebenarnya bisa saja memilih untuk memikirkan diri sendiri. Dalam dunia yang sudah kehilangan hukum dan keteraturan, bertahan hidup mungkin menjadi alasan yang cukup untuk menutup mata terhadap masalah orang lain.
Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka masih membantu warga, mencari makanan, dan ketika Su-na menghilang, mereka mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri untuk mencarinya. Hal tersebut membuat hubungan antarkarakter menjadi salah satu bagian penting dalam film.
Termasuk hubungan Nam-san dan Ji-wan.
Lee Jun-young memang tidak mendapatkan porsi sebesar Ma Dong-seok sebagai Nam-san. Namun, Ji-wan berfungsi sebagai partner yang membuat perjalanan Nam-san terasa lebih manusiawi. Netflix menggambarkannya sebagai rekan muda Nam-san yang ikut bertahan hidup di tengah dunia yang telah berubah menjadi gurun pasca-apokaliptik.
Menurut saya, justru karakter seperti Ji-wan yang membuat kita bisa melihat bahwa menjadi kuat tidak selalu berarti menjadi orang yang paling jago berkelahi. Kadang-kadang, menjadi kuat berarti tetap berdiri di samping seseorang yang kita percaya.
Tentu saja, Badland Hunters bukan film tanpa kekurangan.
Beberapa ulasan menilai ceritanya relatif sederhana dan karakter-karakternya tidak digali terlalu dalam. Fokus utama film memang berada pada aksi dan hiburan, bukan eksplorasi mendalam mengenai kehidupan masyarakat setelah bencana.
Tetapi mungkin memang itu yang ingin ditawarkan film ini.
Pada akhirnya, Badland Hunters membuat saya berpikir bahwa mungkin manusia tidak bertahan hanya karena mereka cukup kuat untuk hidup. Kita bertahan karena masih punya alasan untuk hidup. Entah itu keluarga, sahabat, atau bahkan seseorang yang kita sayang.
Seoul dalam Badland Hunters mungkin sudah kehilangan gedung-gedungnya, aturan, dan kehidupan normal yang dulu dimiliki masyarakatnya. Tetapi selama masih ada manusia yang bersedia membantu manusia lain, dunia itu belum sepenuhnya kehilangan harapan.
Dan mungkin itulah pesan paling sederhana dari film ini:
"Ketika dunia sudah tidak lagi menjadi tempat yang aman, memiliki seseorang yang ingin kita lindungi bisa menjadi alasan untuk terus bertahan."
Apa pendapatmu tentang film ini?
Baca Juga
-
Review Film Brave Citizen: Berani Melawan saat Semua Orang Memilih Diam
-
Mark Siap Comeback Kedua Usai Tinggalkan NCT, Single Baru Rilis November!
-
Maudy Ayunda Minta Maaf, Bukti Nasihat Kesehatan Mental Tak Selalu Bisa Dipukul Rata
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
-
Ulasan Your Lie in April: Tentang Belajar Hidup sebelum Semuanya Terlambat
Artikel Terkait
Ulasan
-
Series Still Single: Saat Jodoh Tidak Sesuai Ramalan Zodiak
-
Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam
-
Ulasan Shine: Ketika Gemerlap K-Pop Menyimpan Perjuangan
-
Review Film Akal Imitasi: Ketika AI Masuk Kelas, Pintar Jadi Kian Mahal?
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
Terkini
-
Di Balik Kekecewaan 5 cm, Saat Nostalgia Terbentur Realitas Prekuel
-
4 Low pH Cleanser Berbahan Probiotic Buat Perkuat Skin Barrier Kulit Kering
-
Gen Z dan Conscious Unbossing: Saat Karier Tidak Harus Naik secara Vertikal
-
Ilusi Kesantunan Pejabat: Di Balik Permintaan Maaf Wapres soal MBG
-
Kerasnya Aspal dan Tugas Domestik: Membedah Beban Ganda Ojol Perempuan