Baru-baru ini, industri perfilman Korea Selatan tengah mencetak sejarah baru dengan The King's Warden yang menjadi film terlaris Korea sepanjang masa. Sukses menarik lebih dari 10 juta penonton, The King's Warden mengangkat kisah nyata sejarah dari Raja Danjong (Park Ji-hoon), raja ke 6 Dinasti Joseon yang memerintah pada tahun 1452 - 1455.
Uniknya, alih-alih mengambil sudut pandang dari sang raja sendiri, film ini justru berpusat pada tokoh Eom Heung-do (Yoo Hae-jin), kepala desa Gwangcheon, Yeongwol, tempat Danjong diasingkan. Menurut sejarah, kisah Raja Danjong menjadi salah satu cerita sejarah yang paling pilu. Ia diangkat dan dimakzulkan di usia yang masih sangat belia. Lantas, siapa sebenarnya Raja Danjong dan bagaimana kisah menyedihkan di balik pemerintahannya?
Raja Danjong, Raja Termuda Joseon
Yi Hong-wi nama lahir Danjong, lahir pada tahun 1441 M. Yi Hong-wi atau Pangeran Nosan merupakan putra sulung dari Raja Munjong yang memimpin selama 2 tahun dari 1450 - 1452 M. Wafat di usia muda, mau tak mau putranya yang masih kecil, Pangeran Nosan harus menggantikan tahta ayahnya.
Pangeran Nosan pun naik tahta di usia 12 tahun dan bergelar Raja Danjong. Raja Danjong merupakan cucu dari Sejong The Great, raja terbesar Joseon yang menciptakan aksara Hangeul.
Danjong menjadi raja di usianya yang belum mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Karenanya, pemerintahan Danjong banyak 'diusik' oleh pejabat negara dengan dalih membantu sang raja.
Pengaruh Pangeran Suyang di Era Pemerintahan Raja Danjong
Dari situasi kepemimpinan Danjong saat itu, kondisi politik istana carut-marut. Apalagi, Pangeran Suyang, adik Munjong sekaligus paman Danjong, punya ambisi kuat untuk mengambil alih kekuasaan. Danjong seakan powerless saat berhadapan dengan pamannya itu.
Keadaan istana semakin memanas saat akhirnya Pangeran Suyang mengkudeta Danjong pada 1453 yang dikenal sebagai Pemberontakan Gyeyujeongnan. Pemberontakan berhasil, pejabat dan orang-orang Danjong disingkirkan, kemudian Danjong terpaksa turun tahta. Pangeran Suyang naik tahta menjadi Raja Sejo, raja ke-7 Joseon.
Inilah yang menjadi awal penceritaannya dalam film The King's Warden sebagai mantan raja.
Kehidupan Danjong di Yeongwol
Tak seperti raja lain yang dimakzulkan, Danjong diasingkan ke wilayah terpencil Joseon sebagai hukuman. Desa Yeongwol terpilih yang akhirnya mempertemukan Danjong dengan sang kepala desa, Eom Heung-do. Ia tinggal di Cheongnyeongpo, wilayah terpencil di Yeongwol yang dikelilingi tebing curam dan sungai yang lebar.
Danjong tidak tinggal lama di sana. Selama di pengasingan, diketahui Pangeran Geumseong, paman Danjong, diam-diam berniat melakukan kudeta untuk mengembalikan tahta Danjong. Rencana ini ternyata terendus oleh Raja Sejo dan Pangeran Geumseong ditangkap lalu dijatuhi hukuman minum racun.
Hal ini rupanya mengancam keberadaan Danjong yang juga kemudian menjadi buronan istana. Ia pun akhirnya dieksekusi setelah 4 bulan diasingkan di Yeongwol pada 1457 di usianya yang ke 16 tahun.
Seperti dalam film, jenazah Danjong dilarang untuk dikebumikan dan dilakukan ritual pemakaman. Akhirnya, jasadnya hanya diletakkan di tepi sungai. Eom Heung-do yang merasa kasihan, tak peduli dengan aturan tersebut dan memakamkan Danjong dengan layak. Kesetiannya ini membuatnya mendapat jabatan Menteri Pekerjaan Umum yang berikan secara anumerta. Selain itu, ia dibuatkan Paviliun Peringatan Eom Heung-do di kawasan Makam Kerajaan Gangneung.
Kisah Raja Danjong menjadi salah satu bagian paling tragis dalam sejarah Dinasti Joseon. Naik tahta di usia belia, kehilangan kekuasaan, hingga harus menjalani pengasingan membuat hidupnya jauh dari gambaran seorang raja pada umumnya. Melalui The King's Warden, kisah tersebut kembali diceritakan dengan sudut pandang berbeda, sekaligus memperkenalkan sosok Danjong kepada generasi baru.
Baca Juga
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Pembalut Kena PPN, Perempuan Harus Bayar Lebih untuk Kebutuhan Biologisnya?
-
7 Slang Gen Z yang Masuk KBBI, Bukti Bahasa Indonesia Terus Berkembang!
-
5 Pelajaran Hidup dari Novela Metamorfosis: Hargai Diri Sendiri, Yuk!
-
Kenapa Tulisan dengan Tanda Baca Em Dash Sering Dianggap AI? Ini Faktanya!
Artikel Terkait
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
Review Unlocked: Satu Ponsel Hilang, Seluruh Kehidupan Berubah Jadi Teror
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
-
The Roundup: Punishment, Kejahatan Makin Canggih dan Hukum Tak Boleh Kalah!
Entertainment
-
Keanu Reeves Kembali ke Semesta John Wick Lewat Prekuel Animasi Terbaru
-
Sinopsis The Palace Stewardess, Dracin Ding Yu Xi dan Song Zu Er di WeTV
-
Lama Tertunda, tvN Ungkap Jadwal Resmi Penayangan Sekuel The Second Signal
-
Film Sal Saeng Bu Rilis 2027, Ini Daftar Pemain Utama yang Penuh Bintang!
-
Mundur ke Era 1950-an, Netflix Garap Prekuel Stranger Things: Other Worlds
Terkini
-
GJLS: Berapi-Api, Aksi Pemadam Kebakaran Paling Konyol dan Menghibur!
-
Dari Jurnal Hilang, Berakhir dengan Jatuh Hati: Dilema di Novel Obliviate
-
Sisi Gelap Tren Renting Generation: Hemat di Awal, Boncos di Akhir?
-
Fenomena Chat saat Butuh: Teman atau Sekadar Tempat Mencari Bantuan?
-
Komedi Negara Hukum: Mengapa Urusan Ijazah Selalu Berakhir Jadi Lelucon?