CERPEN: Liak

M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
CERPEN: Liak
ilustrasi penulis dihantui sosok. (Gemini AI/Nano Banana)

“Kau punya selera bagus untuk sebuah tema novel,” kata Nona Wang. “Meski sejatinya ini petualangan horor, kau malah mengemasnya dengan romansa manis dan tragis. Agak menyedihkan."

Aku tersenyum. “Sebab memang ini menyedihkan. Siapa yang bakal berpikir itu bagus?”

“Para pembaca?”

Kami tertawa seraya memperhatikan sekitar. Barangkali orang yang kami tunggu, yaitu Nona Jayanti, telah berdiri di sudut kedai seperti biasanya. Tanpa suara, kemudian mengejutkanku karena hawa keberadaannya mustahil kudeteksi.

“Jadi, bagaimana perkembangan editorialnya?”

“Buruk,” kataku. “Berat.”

Nona Wang menyeruput kopinya. “Kau yang berat?”

“Ya.”

Kami lalu terdiam. Nona Wang terlihat menatap kosong suatu objek. Kukira Nona Jayanti ada di sana, tetapi rupanya itu hanya sudut ruangan yang dihuni akuarium kecil.

"Yah, bisa dibilang kau punya nyali yang besar."

“Apa sebaiknya kutarik saja?” tanyaku hati-hati. “Novel ini berbahaya dan terkutuk.”

Nona Wang tersenyum. “Nona Jayanti bakal marah. Dia begitu bersemangat dengan naskahmu.”

“Menurut Anda, bagaimana?”

“Seharusnya tidak masalah. Kalau ada kesulitan, aku akan membantumu."

Itu adalah obrolan kami sebelum kedatangan Nona Jayanti, hingga kami sibuk dalam editorial novel. Selepas pertemuan itu, aku benar-benar dilanda kekhawatiran akan apa yang telah kutulis. Naskah itu terkutuk! Begitu yang terus kuucapkan maupun kupikirkan sepanjang waktu hingga sosok-sosok menakutkan terus membayangiku.

“Tidakkah kau merasa sayang? Tema yang kau ambil sangat bagus di pasaran!”

Aku mengabaikan kata-kata manis Nona Wang yang mahir dalam hal promosi. Dia punya jabatan tinggi di penerbitan, jadi hal ini biasa.

“Entahlah.”

Nyaris setiap malam aku menjalani mimpi buruk mengenai apa yang kutulis. Pada dasarnya, itu semua memang salahku. Tidak sepatutnya aku ingin tahu akan entitas selain Wangsa Janma seperti kami. Namun, mau bagaimana lagi? Naskah itu telah berada di meja redaksi.

Seperti Zack, sosok lelaki yang berdiri angkuh dengan mata hitamnya, yang senantiasa menebarkan ketakutan serta ironi sambil menyeringai liar. “Kau kalah.” Begitu katanya.

Sering kali aku kesulitan tidur dan harus menopang diri dengan kopi dan kopi. Nyaris mengabaikan asupan makanan, hanya kopi.

“Kau hanya perlu fokus saja pada editorial. Jangan risaukan dia, mereka bakal mengurusnya,” ucap Nona Jayanti. “Nona Wang pasti sibuk sekarang.”

Aku bertemu dengan Nona Jayanti untuk melanjutkan proses editorial novel. Semula tidak ada yang aneh. Hingga kepingan bayangan pertarungan yang terus berkobar lewat begitu saja sebagai efek merasuk ke dalam naskah.

Tidak ada yang berhenti untuk sekadar menghela napas. Kedua kubu itu sama-sama bertarung dengan segenap kekuatan yang ada. Mereka yang tidak satu Wangsa, yakni tak kasatmata. Hanya ada api yang berkobar maupun suara adu senjata besi yang tak habis-habis.

“Mau istirahat dulu?” tawar Nona Jayanti. “Kita bisa melanjutkannya minggu depan.”

“Baiklah.” Aku tahu Nona Jayanti khawatir padaku sehingga membiarkanku termenung sambil membereskan naskah. “Terima kasih.”

Hingga salah satu dari mereka yang bernama Owen menatapku tanpa henti dan menampakkan diri sebagai sosok lelaki asing berwajah rupawan dalam balutan pakaian hitam. Tidak ada luka, tetapi menunjukkan mata sebagai Wangsa Jejadian.

“Kau boleh mengagumi rupanya, tetapi jangan kau jatuhkan hatimu padanya. Kalian berbeda Wangsa.”

Dia benar, seperti yang pernah Nona Wang katakan padaku. Sekali lagi aku menyesali segalanya.

“Tunggulah sebentar lagi. Mereka akan kami basmi dan setelah itu, jangan kau bermain kata-kata dengan sembrono."

“Baiklah.”

Pertempuran itu memakan waktu berbulan-bulan rupanya, sama seperti keraguanku akan naskah terkutuk itu. Hingga pertempuran itu pun usai, bertepatan dengan kutarik naskah dari meja redaksi dengan membayar sejumlah penalti.

Apakah aku menyesal?

Tentu saja. Hal itu seolah menjadi awal aku mengasingkan diri dan memblokir sejumlah kolega demi ketenangan yang kudambakan. Terkadang, aku menangis ketakutan saat bayangan Zack muncul. Namun, sekali lagi tekadku telah bulat.

“Wang bilang kau memblokir nomornya?”

Aku tersenyum canggung pada Owen. “Itu benar.”

“Yah, dia mengerti situasimu.”

Kami lantas berjalan sejenak di dekat hutan wisata hingga sosok Zack menghampiri kami dengan kabut hitam di wajahnya. Aku mencoba pergi, tetapi Owen memberi isyarat untuk diam.

“Aku akan pergi, kita selesai,” begitu ucap Zack sebelum sosoknya hilang ditelan rimbun pepohonan. Hanya sesingkat itu.

“Jangan risau, dia telah diasingkan dan dalam pengawasan kolegaku,” celetuk Owen.

Ah, untuk sejenak aku merasa lega, seakan himpitan itu tak pernah terjadi, dan aku berharap ini berlangsung selamanya.

Owen dan aku pun berpisah untuk berjalan di jalan masing-masing, meski sesekali dia berkunjung. Aku tahu dia ada di pihak Nona Wang yang kini tak pernah kudengar lagi bagaimana kabarnya. Kami tak pernah berinteraksi sama sekali semenjak penarikan naskah kala itu.

“Wang menyayangkan naskahmu,” ucap Owen suatu kali. “Padahal dia suka.”

“Sungguh?”

“Ya, Wang sempat berharap kau mengajukan kembali naskahmu. Dan dia akan senang hati menerimanya kembali.”

“Sayangnya ....” Owen menatapku lekat. “Aku sudah menghapusnya.”

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak