Cerita Fiksi
CERPEN: Kutukan Raja Tanpa Wajah
Di kerajaan Eldoria yang megah, raja bernama Arvandor memerintah dengan tangan besi. Wajahnya tampan, mata birunya tajam, dan senyumnya memikat seluruh rakyat. Akan tetapi, di balik kemegahan itu, Arvandor menyimpan rahasia gelap: ia tak pernah membiarkan siapa pun melihat wajahnya tanpa topeng emas yang selalu dipakainya di depan umum.
Suatu malam, saat bulan purnama menyinari istana, seorang penyihir tua bernama Elowen datang ke gerbang. Ia adalah pengembara yang telah lama dicari karena ilmunya yang terlarang. Elowen membawa sebuah cermin hitam, benda ajaib yang konon bisa menunjukkan "wajah sejati" seseorang—bukan hanya rupa fisik, tapi juga jiwa yang tersembunyi.
"Saya datang untuk menghadiahkan ini kepada Yang Mulia," kata Elowen pada pengawal. "Cermin ini akan membuatnya abadi dalam keindahan."
Raja Arvandor, yang sedang gelisah karena usianya mulai menua, menerima penyihir itu di ruang rahasia. Ia melepas topengnya untuk pertama kali di hadapan orang asing. Wajahnya masih elok, tapi ada kerutan halus di sudut mata.
"Lihat lah," bisik Elowen sambil menyodorkan cermin. "Apa yang kau lihat?"
Arvandor menatap bayangannya. Awalnya, ia melihat wajah tampannya sendiri. Lalu, perlahan, bayangan itu berubah. Kulitnya meleleh seperti lilin, matanya menghilang menjadi lubang kosong, hidung dan bibirnya lenyap hingga hanya tulang polos yang tersisa. Tapi yang paling mengerikan: di tempat wajah seharusnya ada, muncul ribuan wajah kecil—wajah rakyatnya yang pernah ia hukum mati, yang pernah ia khianati, yang pernah ia abaikan.
"Itu... wajahku yang sejati?" tanya Arvandor gemetar.
"Bukan," jawab Elowen dingin. "Itu adalah kutukan. Mulai malam ini, setiap kali kau berbohong, mencuri nyawa, atau menyembunyikan kebenaran, satu wajah akan hilang dari tubuhmu. Hingga akhirnya, kau benar-benar tak berwajah. Dan ketika itu terjadi, kau akan abadi—tapi sebagai hantu tanpa identitas, selamanya mencari wajah yang hilang."
Penyihir itu menghilang sekejap, meninggalkan cermin yang kini retak.
Arvandor panik. Ia memerintahkan semua cermin di istana dihancurkan. Tapi kutukan itu nyata. Keesokan harinya, saat ia memerintahkan eksekusi seorang pencuri kecil tanpa pengadilan yang adil—kebiasaannya selama ini—ia merasakan sensasi aneh di wajahnya. Saat menyentuhnya, hidungnya... hilang. Hanya kulit rata yang tersisa.
Rakyat mulai berbisik. Raja kini selalu memakai topeng yang lebih tebal. Tapi kutukan berlanjut. Setiap keputusan zalim, setiap kebohongan kepada ratu yang dicintainya, setiap pengkhianatan terhadap sekutu, membuat bagian wajahnya lenyap satu per satu. Mata, telinga, bibir—semua hilang secara bertahap.
Yang membuat cerita ini berbeda adalah apa yang terjadi selanjutnya: ketika wajahnya hampir habis, Arvandor tak lagi menjadi monster. Ia justru mulai berubah. Untuk pertama kalinya, ia takut kehilangan "dirinya" sepenuhnya. Ia mulai membatalkan hukuman mati, mendengarkan rakyat, dan mengakui kesalahan masa lalu. Ia bahkan mencari Elowen kembali, memohon pengampunan.
Tapi penyihir itu muncul lagi, kali ini sebagai bayangan di cermin retak yang tak pernah benar-benar hancur.
"Kau mengira dengan berbuat baik sekarang, wajahmu akan kembali?" tawa Elowen bergema. "Tidak. Kutukan ini bukan hukuman atas kejahatanmu. Ini adalah cermin bagi dunia. Ketika kau akhirnya tak berwajah, kau akan menjadi simbol: seorang raja yang pernah ada, tapi tak lagi punya identitas karena terlalu banyak menyembunyikan kebenaran."
Malam terakhir, hanya satu bagian yang tersisa: mulut Arvandor. Ia berkumpul di balkon istana, di hadapan ribuan rakyat. Topengnya dilepas. Wajahnya kosong total, hanya mulut yang tersisa di tengah kekosongan.
"Saya... Arvandor," katanya dengan suara gemetar. "Saya pernah menjadi raja kalian. Tapi saya telah kehilangan wajah karena dosa-dosa saya. Maafkan saya."
Lalu, ia berbohong terakhir kali—mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa kerajaan akan makmur tanpa dia. Mulutnya lenyap. Kini, benar-benar tak ada wajah.
Tubuhnya tak runtuh. Ia tetap berdiri, abadi seperti yang dijanjikan. Tapi kini, setiap orang yang melihatnya akan melihat... wajah mereka sendiri di tempat wajah raja seharusnya. Bagi yang jujur dan baik, mereka melihat wajah indah. Bagi yang licik dan zalim, mereka melihat wajah mengerikan versi diri mereka.
Arvandor menjadi "Raja Tanpa Wajah" yang legendaris—sebuah patung hidup di istana yang ditinggalkan. Rakyat datang untuk melihatnya, dan apa yang mereka lihat di kekosongan itu menjadi cermin bagi jiwa mereka sendiri.
Konon, hingga kini, di reruntuhan Eldoria, ada sosok tak berwajah yang berdiri diam. Jika kau mendekat dan menatapnya, kau akan melihat wajah sejatimu—bukan yang di cermin biasa, tapi yang tersembunyi di hati.
Dan itulah kutukan terbesar: bukan kehilangan wajah, tapi membuat dunia melihat kebenaran yang selama ini disembunyikan.