Aku tidak pernah percaya bahwa keadilan bisa lahir dari hal kecil. Dunia terlalu bising, terlalu kejam, dan terlalu sibuk untuk peduli pada sesuatu sesederhana kebaikan. Setidaknya, itulah yang kupikirkan sebelum hari itu hari ketika satu koin receh mengubah arah hidup lebih dari yang sanggup kupahami.
Pagi itu, kota terbangun dengan wajah letih. Langit sendu tanpa cahaya, Asap kendaraan menggantung rendah, seolah langit pun enggan bernapas. Aku berjalan cepat di trotoar, menunduk, membiarkan arus manusia menyeretku menuju kantor.
Di kepalaku hanya ada satu hal yakni bertahan dan melanjutkan hidup. Bukan bermimpi. Bukan berharap. Bertahan saja sudah lebih dari cukup.
Aku bekerja sebagai petugas arsip di sebuah kantor pengadilan negeri. Bukan hakim. Bukan jaksa. Bahkan bukan staf yang sering disebut namanya. Aku hanyalah bagian kecil dari sistem besar yang bergerak tanpa peduli apakah aku ada atau tidak.
Tugasku amat sederhana yakni hanya menyusun berkas, mencatat tanggal, memastikan kertas tidak hilang. Aku sering berpikir, jika suatu hari aku menghilang, mungkin hanya tumpukan map yang akan merindukanku.
Di depan minimarket dekat kantor, terlihat seorang anak kecil berdiri mematung. Seragam sekolahnya kusam, tasnya robek di salah satu sisi. Matanya terpaku pada etalase roti, tepatnya pada roti cokelat yang paling murah. Tangannya merogoh saku, lalu mengeluarkan beberapa koin. Ia menghitungnya perlahan, bibirnya bergerak tanpa suara.
Aku hendak berlalu. Sudah terlambat. Atasan tidak suka pegawai datang lewat satu menit pun. Tapi entah mengapa, kakiku berhenti. Aku menoleh lagi. Anak itu menunduk, wajahnya runtuh. Koin-koin itu kembali ke saku, seolah beratnya lebih dari sekadar logam.
Aku merogoh dompet. Di sana hanya ada uang pas-pasan. Gajiku belum turun. Aku menimbang sebentar dan keputusan itu terjadi begitu saja. Aku membeli dua roti cokelat. Satu untukku dan satu untuknya.
“Ini,” kataku sambil menyodorkan roti.
Anak itu menatapku, ragu. “Saya nggak minta kok, Kak.”
“Aku tahu,” jawabku. “Anggap saja… titipan hari baik.”
Ia tersenyum kecil, senyum yang terlalu dewasa untuk wajah sekecil itu. “Terima kasih banyak, kak. Semoga rezekimu selalu melimpah ruah.”
Aku mengangguk dan tersenyum sambil mengaminkan doa anak itu, lalu pergi. Tidak ada dialog panjang. Tidak ada perasaan heroik. Hanya sepotong roti dan langkah yang kembali tergesa.
Aku tidak tahu namanya. Tidak tahu ke mana ia pergi setelah itu. Dan jujur saja, aku mengira peristiwa itu akan menguap seperti ribuan momen kecil lain yang tak pernah tercatat sejarah.
Aku salah.
Hari-hari berlalu. Pengadilan semakin sibuk. Kasus demi kasus datang dan pergi. Aku menyusun berkas tentang pencurian, penipuan, kekerasan. Aku membaca kisah manusia yang patah dari balik kertas, tanpa pernah menyentuhnya secara langsung.
Suatu sore, sebuah berkas baru masuk ke mejaku. Kasus pencurian kecil. Seorang anak dituduh mencuri dompet di halte bus. Nilai kerugian tidak besar. Namun jaksa menuntut hukuman maksimal karena dianggap berulang dan meresahkan.
Namanya membuat dadaku mengeras.
Raka.
Usianya dua belas tahun.
Aku membuka berkas itu dengan tangan gemetar. Foto hitam-putih menampilkan wajah yang familiar. Mata yang sama. Senyum yang sama, meski kini digantikan tatapan takut. Anak di minimarket itu.
Raka ditangkap karena dituduh mencuri dompet seorang pria. Ia menyangkal, tapi tidak ada saksi yang membelanya. Gambar CCTV buram. Kesaksian sepihak. Proses berjalan cepat terlalu cepat untuk ukuran keadilan.
Aku menelan ludah. Ini bukan tugasku. Aku hanya arsip. Aku tidak boleh ikut campur. Sistem tidak menyukai simpangan.
Namun malam itu, aku tidak bisa tidur.
Aku teringat roti cokelat itu. Teringat kalimatnya, Terima kasih, kak. Semoga rezekimu selalu melimpah ruah. Terlalu sederhana. Terlalu kecil. Tapi wajah itu kini terancam oleh sistem yang besar dan dingin.
Keesokan harinya, aku mulai melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Aku membaca berkas itu lebih teliti. Jam kejadian hingga lokasi. Aku mencocokkan dengan arsip lain. Ada satu laporan kehilangan dompet di halte yang sama, waktu yang hampir bersamaan namun dengan deskripsi pelaku berbeda.
Aku mencetaknya. Menyimpannya. Jantungku berdetak keras. Aku tahu ini berbahaya. Jika ketahuan, aku bisa kehilangan pekerjaanku.
Tapi ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada itu membiarkan ketidakadilan terjadi dan berpura-pura tidak tahu.
Aku menemui seorang panitera senior yang terkenal pendiam. Aku tidak mengatakan apa-apa selain, “Pak, saya menemukan kejanggalan dari masalah ini.”
Ia menatapku lama. Lalu mengambil kertas itu.
“Kamu sadar risikonya?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ia menghela napas. “Keadilan sering kalah bukan karena tidak ada orang baik, tapi karena orang baik memilih diam.”
Sidang ditunda. Jaksa dipanggil ulang. Bukti diperiksa kembali. Saksi baru muncul seorang pedagang kaki lima yang melihat kejadian itu, tapi sebelumnya takut bicara. Perlahan, cerita berubah.
Raka dibebaskan.
Aku melihatnya keluar dari ruang sidang, matanya berkaca-kaca. Ibunya memeluknya erat. Tubuh perempuan itu kurus, tangannya kasar oleh kerja keras.
Raka menoleh. Tatapan kami bertemu. Butuh beberapa detik sebelum ia mengenaliku.
“Kak…” suaranya bergetar. “Roti cokelat.”
Aku tersenyum, kali ini dengan mata basah.
“Itu cuma roti,” kataku pelan.
“Bukan,” jawabnya. “Kalau hari itu Kakak nggak baik, mungkin hari ini saya nggak berani bilang yang sebenarnya.”
Aku terdiam.
Ternyata, roti itu bukan sekadar roti. Itu adalah pengingat bahwa ia masih manusia, bahwa dunia belum sepenuhnya menolaknya. Dan keberanian kecil itu menjalar, tumbuh, dan akhirnya menyelamatkannya.
Beberapa minggu kemudian, aku dipanggil atasan. Aku siap dengan segala kemungkinan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Kamu melakukan hal yang benar,” katanya singkat. “Tidak semua orang berani.”
Aku keluar dari ruangan itu dengan kaki gemetar. Bukan karena takut, tapi karena sadar sistem yang besar ini ternyata masih bisa digerakkan oleh satu dorongan kecil.
Aku masih petugas arsip. Hidupku tidak berubah drastis. Aku tidak menjadi pahlawan. Namaku tidak masuk berita. Tapi kini aku berjalan dengan kepala sedikit lebih tegak.
Kadang, aku kembali ke minimarket itu. Aku tidak pernah bertemu Raka lagi. Mungkin ia sudah tumbuh. Mungkin ia sedang mengejar hidup yang lebih baik.
Namun setiap kali aku melihat koin receh jatuh di lantai, aku teringat satu hal
Bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berdampak besar. Bahwa keadilan sering dimulai dari orang biasa yang memilih peduli. Dan bahwa dunia tidak selalu berubah karena teriakan kadang ia berubah karena bisikan kecil yang berani.
Seperti sepotong roti cokelat.
Seperti satu keputusan kecil.
Seperti keberanian untuk tidak berpaling.
Dan sejak hari itu, aku percaya
hal kecil tidak pernah benar-benar kecil, jika dilakukan dengan sepenuh hati.