Sepenggal Kisah dari Tanah Persinggahan

Sekar Anindyah Lamase | Tika Maya Sari
Sepenggal Kisah dari Tanah Persinggahan
Ilustrasi rumah pedesaan (Unsplash/Joshua Earle)

“Dia menghinaku, Paman. Hanya karena dia sudah berhasil membeli rumah pribadi,” ucap Marina seraya menangis tersedu-sedu.

Firda melongo kebingunan. “Tunggu!” Dia mencoba mencerna ucapan Marina, “Aku tidak bicara apapun!”

Marina kembali terisak. Kali ini dia mengacungkan jari pada Firda. “Aku tahu aku belum ada rezeki untuk beli rumah pribadi. Tapi janganlah kamu menghinaku…”

Sumardi, ayah kandung Firda tersulut emosi ketika mendengar pengakuan keponakannya. Dia langsung melemparkan makian kepada anak sulungnya. “Anak tidak tahu diri! Berani kamu menghina Marina?!”

“Sumpah, Yah. Aku tidak pernah menghina Marina sama sekali. Aku bahkan tidak bicara apapun sejak tadi,” kata Firda membela diri.

“Pergi! Minggat kamu dari sini!” 

Firda masih berusaha menjelaskan kesalah pahaman. Sejak tadi, dia duduk di bawah pohon pundung, sibuk memisahkan lidi dari dedaunan kelapa kering untuk diikat dan dijadikan sapu lidi. Ketika mendapati Marina bertamu ke rumah, dia menyapa sepupunya itu dengan biasa dan santai saja.

Namun, Sumardi kadung kepalang emosi. Entah apa yang terjadi pada kepalanya sehingga dia melemparkan makian kepada putrinya sendiri.

“Anak tidak tahu malu! Tidak tahu diri!”

Firda mulai menangis tersedu-sedu. Isakannya lirih, tetapi dipenuhi rasa kecewa. Ayahnya lebih membela Marina, padahal perempuan itu berbohong. Firda sama sekali tidak berkata apa-apa, tetapi langsung dituduh begitu.

Sedangkan Marina, tersenyum kecil di balik tangan.

“Aku tidak mau melihatmu lagi! Minggat kamu dari sini! Jangan tunjukkan wajahmu di desa ini!” Sumardi kian mengamuk seraya mengacungkan jari. “Minggat!”

Di tengah situasi memanas, Halimah langsung memeluk Firda erat. Kemudian berbisik lirih. “Nduk, lebih baik kamu pergi saja. Ayahmu sudah gila.”

Sumardi masih mengamuk dan mengacungkan jari. Mulutnya kian berisik mengeluarkan makian, kutukan, bahkan bahasa hewan. Beberapa tetangga tampak mengintip, atau bahkan menonton terang-terangan.

Firda yang masih menangis kecewa, segera meraih sepeda kumbang dan kabur bersama anaknya yang masih berusia empat tahun, Friska. Bocah itu menyaksikan segalanya. Merekam setiap momentum yang terjadi, dan terdiam sepanjang perjalanan pulang ke rumah kontrakan mereka.

Sepanjang jalan, Firda menunduk. Berusaha menyembunyikan air mata yang tidak mau berhenti menetes. Kata-kata Sumardi terlalu menghujam jantung, dan mulut Marina terlalu menyakitkan. Firda nyaris tidak menyapa beberapa tetangga di dekat kontrakan, dan memilih mengunci pintu rapat-rapat.

Seminggu kemudian, ada banyak orang yang datang ke rumah kontrakan Firda. Sebab, keluarga kecil itu akan pindahan ke kecamatan lain, di arah timur laut.

“Sialan kamu, Bahri. Mau pindahan kok tidak kasih kabar!” gerutu Rofiq, salah satu kawan Bahri sambil membantu mengangkat perkakas rumah ke atas truk. “Kamu memang sialan!”

Bahri tertawa. “Kan ini namanya kejutan.”

“Kejutan gundulmu!” Rofiq kemudian menoleh pada Santoso alias Gepeng. “Kamu juga diam saja, Peng? Kamu sudah tahu kan kalau Bahri pindahan hari ini?”

Gepeng tertawa. “Halah, yang penting sekarang kamu sudah tahu kan?”

Rofiq terus menggerutu sambil ikut gotong royong mengangkut perkakas rumah Bahri yang tidak seberapa. Dia kemudian melihat ke arah istrinya–Arumi–yang memeluk erat Firda. Istri Bahri itu kemudian bersalam-salaman dengan tetangga kanan kiri, dan juga pada pemilik kontrakan, Mbah Ren.

“Nduk, maafkan Mbah Ren yang tidak bisa ikut serta,” kata Mbah Ren dengan bercucuran air mata. “Mbah ingin ikut. Tapi kondisi tidak memungkinkan. Kamu tahu sendiri Mbah sudah sakit-sakitan. Sudah tidak kuat jarak jauh.”

Firda mengangguk. Dia menangis haru, dan dadanya terlalu sesak untuk berpisah dengan Mbah Ren.

“Mak, aku yang ikut mengantar Mbak Firda kok,” imbuh Mbak Irene, anak Mbah Ren.

Firda kemudian memaksa membuka mulut. “Mbah…terima kasih...selama ini saya ditolong. Terima kasih... Mbah sudah mengizinkan kami tinggal disini…” Firda menelan ludahnya payah. “Saya ingin meminta maaf kalau-kalau...selama ini saya bersalah, atau membuat Mbah kurang nyaman…”

Mbah Ren memeluk Firda.

“...saya ingin meminta maaf untuk saya, suami saya…dan terlebih untuk bocah kecil saya yang suka usil…”

Mbah Ren kemudian ganti memeluk Friska. Bocah kecil itu tersenyum menampilkan gigi. “Anakmu tidak usil apalagi nakal, kok. Dia hanyalah anak yang hobi bercerita.”

Itu benar. Friska memang bocah yang suka bercerita. Entah soal tanaman cabai dan terong yang berbuah lebat, kucing, atau tentang hal-hal sedih. Bocah itu sudah pandai memainkan perasaan orang dewasa.

“Nduk, jangan pernah lupa sama Mbah Ren ya. Walau kita bakal terpisah jauh,” mohon Mbah Ren. “Mbah juga minta maaf bila selama ini pernah menyakitimu. Kamu juga jangan lupa sama Mbah ya, Friska.”

Friska mengangguk dan tertawa kecil. Dia kemudian berlari seraya meloncat-loncat menghampiri Bahri.

“Dek, kita berangkat sekarang?” tanya Bahri pelan. “Ini jauh, nanti kemalaman.”

Firda mengangguk. Dia kemudian menoleh ke belakang sekilas. Tampak Mbah Ren, suaminya, tetangga kanan kiri, dan beberapa kerabat jauh Bahri melambaikan tangan. Dalam hati Firda berharap, sebentar saja, dia ingin melihat ayahnya–Sumardi–datang. Namun, tidak ada yang hadir. Tidak Sumardi, atau Halimah, atau bahkan perwakilan dari keluarganya sendiri.

Dan berangkatlah rombongan tersebut ke timur laut. Satu truk pengangkut barang bawaan yang dinaiki Rofiq sebagai supir, Gepeng, dan Bahri yang memangku anaknya, Friska.

Sedangkan di belakang, ada satu angkot yang disewa untuk dinaiki Firda, Mbak Irene dan anaknya, mertua, dan keluarga Bahri.

“Bahri memang sialan! Yang sialan namanya Bahri!” gerutu Rofiq. Dia merasa terkhianati karena baru sore hari mendapat kabar Bahri hendak pindahan. “Memberi kabar di sore hari?! Teman sialan!”

“Yah, ‘sialan’ itu apa?” tanya Friska polos.

“Jangan didengarkan. Pak Rofiq sedang kesurupan,” bisik Bahri. “Kalau mengantuk, kamu tidur saja.”

Friska mengangguk. Dia sangat antusias sepanjang jalan. Bahkan sesekali bernyanyi, terpesona dengan kendaraan-kendaraan besar, hingga berceloteh.

Dan begitulah, malam itu mereka pindah ke sebuah desa pinggiran di timur laut. Dari geografisnya, desa itu cukup strategis dan memiliki akses cepat ke tempat-tempat penting seperti kantor kecamatan, dukcapil, polres, hingga rumah sakit umum daerah.

“Dek, mulai hari ini, kita mulai hari yang baru ya,” ucap Bahri setelah rombongan yang mengantar pulang. “Ibarat kita menulis di lembaran yang baru. Kita lupakan apa yang di ‘belakang’.”

“Iya. Kita mulai yang baru.”

Bahri lalu mengelus rambut anaknya yang sudah tertidur. “Aku tahu darah tidak bisa serta merta di putus. Namun, kumohon agar kamu tetap di sisiku. Tetap di sampingku.”

Firda tersenyum, kemudian menatap Friska yang memeluk guling. “Aku juga mohon agar kamu tetap disampingku.”

Setahun kemudian, mereka mendengar kabar bahwa Sumardi–ayah Firda–meninggal dunia. Mereka juga datang melayat, dan tangis Firda pecah seketika. Sedangkan Bahri berusaha tegar, mencoba tampak baik-baik saja.

Sedangkan Friska…dia tersenyum tipis. Entahlah, dia tidak bersedih sama sekali dengan meninggalnya sang kakek. Sama sekali.

Pun setelah dua dekade berlalu, Friska masih sama. Dia tidak peduli kalau kedua orang tuanya sudah kembali akrab dengan keluarga besar dari pihak ibu. Atau ketika dia mendapati ibunya berceloteh riang dengan Bibi Marina, atau ayahnya yang bergurau dengan Paman Ranto–suami Bibi Marina.

Friska tetap sama. Diam, menyimpan luka. Baik pada sang kakek yang mungkin sudah membusuk di makamnya, atau pada Bibi Marina yang tampak menua. Padahal usianya lebih muda dari ibunya. Mungkin karena beban pikiran karena menghadapi anak tunggalnya yang keras kepala, ambisius, dan selalu ingin tampil yang terbaik tanpa mengerti situasi keluarga.

Friska tidak pernah bicara, atau bercerita. Dia hanya suka mengawasi dalam diam. Dan membenci dalam senyap. Friska mungkin tersenyum atau sekadar bersalaman sebagai wujud kesopanan. Namun, dia tetap sama. Memendam luka.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak