"Hidup Hanya Menunda Kekalahan": Jejak Filosofis Chairil Anwar dalam Aransemen Musik Banda Neira

M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
"Hidup Hanya Menunda Kekalahan": Jejak Filosofis Chairil Anwar dalam Aransemen Musik Banda Neira
Personel Banda Neira (Youtube.com/Banda Neira)

Hidup

Hanya menunda kekalahan….

Di suatu siang saat aku terjebak dalam pikiran, sambil mendengarkan alunan lagu dari Banda Neira, sepotong kalimat berhasil menghujam hati. Tidak, menghujam sanubari dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia akan kalah pada waktunya. Suatu lirik yang meruntuhkan pertahanan diri….

Puisi dari Maestro Legendaris, Chairil Anwar

Derai Derai Cemara aslinya adalah puisi karya Chairil Anwar, yang dirilis pada tahun 1949, beberapa hari sebelum ia meninggal. Sekilas, puisi ini cenderung fokus pada satu hal yakni: pohon cemara. Namun, menelisik sepak terjang Chairil Anwar yang selalu menyisipkan nilai-nilai kehidupan dalam setiap karyanya, maka tidak mungkin puisi ini kosong.

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari akan jadi malam

Dan ketika lirik Derai Derai Cemara diaransemen oleh Banda Neira, kesan mewah, klasik, eksotis, merinding, dan membuat tangis berhasil disajikan dalam nafas-nafas dawai mereka.

Melodi Dawai dan Duet Ananda Badudu Bersama Rara Sekar

Melansir kanal Youtube Banda Neira, Derai Derai Cemara dirilis pada 7 Maret 2016. Vokalnya diisi oleh Ananda Badudu dan mantan personel Banda Neira, yakni Rara Sekar yang suaranya ‘bernyawa’ sekali disini.

Terdapat juga Trio Dawai yang turut mendampingi Derai Derai Cemara hingga menjadi lagu yang menjebak sanubari. Ada Jeremia Kimosabe di bagian cello, Suta Suma di bagian violin, dan Dwi Ari Ramlan pada bagian viola. Diimbangi juga dengan aransemen piano dan dawai oleh Gardika Gigih.

Terdengar Seperti Lullaby yang Menyesakkan

Derai Derai Cemara memang disajikan dengan melodi pelan nan kalem, beriringan dengan petikan dawai dan piano yang merasuk. Pada part Ananda Badudu di awal, vibes-nya terasa tegar, kuat, tetapi menyimpan kerapuhan. Seperti mendapati prolog cantik dari sebuah cerita.

Begitu memasuki part Rara Sekar, kita akan dibawa hanyut pada kejatuhan, dan kerapuhan yang telah ada di titik keropos. Rasanya, ketegaran yang dijanjikan sebelumnya adalah semu, tidak nyata. Tidak ada lagi prolog dan khayalan manis, melainkan realita dan konflik yang akan membekas pada entitas manusia.

Aku mengagumi bagaimana Chairil Anwar menyajikan puisi yang bisa membawa pembaca pada momentum lalu. Juga Banda Neira yang sukses mempermainkan emosi lewat dawai dan eksekusi duo vokalisnya, serta berhasil menghasut pendengar untuk paling tidak meneteskan air mata.

Terharu, dan merasai bahwa kehidupan Sang Maestro mungkin tidak sebebas orde kita sekarang.

Hidup Hanya Menunda Kekalahan

Hidup

 hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Sebelum pada akhirnya

Kita

Menyerah…

Bagiku pribadi, lagu ini berhasil menghujam hati dan seketika memutus bara kebencian yang menyala. Seperti mendapatkan peringatan, bahwa manusia tetap akan memperoleh akhir dari waktu yang tidak disangka-sangka.

Kehidupan yang singkat ini terlalu memilukan bila harus diisi dengan kebencian. Namun, benarlah bahwa aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah berapa waktu bukan kanak lagi. Namun dulu memang ada suatu bahan, yang bukan dasar pertimbangan kini…

Namun, kembali lagi pada entitas manusia yang sejatinya memiliki sisi kanan dan kiri. Dan ada beragam motif yang membuat mereka akhirnya memilih satu sisi alih-alih berjalan bersisian. Kendati demikian, Derai Derai Cemara bak memperingati bahwa setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi dan resiko sendiri-sendiri.

Pada diriku sendiri, aku selalu mematri peringatan bahwasanya: hidup hanya menunda kekalahan semata…. Namun, tetap ada kehidupan yang layak untuk diperjuangkan, dan hak-hak manusiawi yang harus selalu bertumpangan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak