Di sebuah hutan yang luas nan hijau, banyak hewan yang hidup bahagia di dalamnya. Bintang besar dan kecil hidup berdampingan demi menjaga ekosistem hutan.
Aku adalah seekor siput.
Bukan siput yang istimewa, sebatas siput jalanan yang kumuh. Tidak bercorak indah, tidak pula cepat. Tubuhku kecil, cangkangku kusam, dan jejak lendir yang kutinggalkan sering dianggap menjijikkan. Di hutan ini, makhluk sepertiku jarang dihitung sebagai bagian dari cerita besar. Kami ada, tapi nyaris tidak pernah dianggap.
Namaku Lumi.
Hutan tempatku tinggal bernama Hutan Seruni, sebuah wilayah yang tampak damai dari kejauhan. Pohon-pohon tinggi menjulang, sungai mengalir jernih, dan hewan-hewan besar hidup dengan aturan mereka sendiri. Singa menguasai padang, rusa menguasai jalur hijau, burung elang menguasai langit, dan beruang menentukan wilayah makan.
Kami, makhluk kecil, hidup di sela-sela keputusan mereka.
Sejak lahir, aku sudah paham satu hal: aku lambat. Saat semut telah sampai sarang, aku baru melewati batu pertama. Saat kupu-kupu sudah berpindah bunga, aku masih berjuang menaiki tangkai. Dunia bergerak terlalu cepat untukku.
“Apa gunanya hidup kalau selalu tertinggal?” pernah kutanyakan pada ibuku.
Ibuku tidak menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Tidak semua yang penting harus cepat.”
Aku tidak mengerti waktu itu.
Suatu pagi, saat embun masih menggantung di ujung daun, aku merayap menuju tepi sungai kecil. Sungai itu tidak besar, tapi arusnya cukup deras bagi makhluk sepertiku. Di sanalah aku melihat seekor anak katak terjebak di antara dua batu licin. Kakinya terjepit, tubuhnya gemetar.
Ia menangis.
Bukan tangis keras, tapi isakan kecil yang hampir tenggelam oleh suara riak air.
Aku berhenti.
Aku tahu satu hal, aku tidak bisa menariknya. Aku terlalu kecil. Terlalu lemah. Terlalu lambat. Jika aku mendekat, mungkin aku justru akan terseret arus.
“Panggil bantuan,” bisik naluriku.
Tapi siapa?
Tidak ada hewan besar di sekitar. Dan aku tahu, jika aku pergi mencari bantuan, mungkin ketika kembali, anak katak itu sudah hanyut.
Akupun terdiam lama.
Lalu aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Aku merayap ke batu di atasnya dan meneteskan lendir tubuhku ke permukaan batu itu, membuatnya sedikit lebih licin, sedikit lebih basah, tapi juga sedikit lebih mudah untuk digeser.
Dengan seluruh tenaga, aku mendorong batu kecil itu perlahan, sangat perlahan.
Tak ada yang dramatis. Tak ada teriakan. Namun batu itu bergeser cukup untuk membebaskan kaki si katak.
Ia melompat
Ia selamat.
Katak kecil itu menatapku. “Kau menolongku?”
Aku mengangguk pelan.
Ia tersenyum lebar. “Terima kasih, wahai Siput.”
Lalu ia pergi. Aku tinggal di sana, basah, lelah, dan tidak yakin apakah yang kulakukan benar-benar berarti. Tapi, setidaknya hari ini aku telah berhasil membantu katak, meski tak besar.
Hari-hari berlalu. Sebagai seorang siput, aku kembali ke rutinitasku seperti makan daun, menghindari kaki besar, bersembunyi saat hujan deras. Namun sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Aku mulai memperhatikan detail kecil yang sebelumnya kuabaikan daun patah yang bisa jadi jembatan, batu kecil yang bisa jadi penghalang, celah tanah yang bisa jadi jebakan bagi makhluk lain.
Aku mulai melakukan hal-hal kecil.
Aku menutup lubang kecil dengan tanah agar kumbang tidak terperosok.
Aku memberi tanda lendir di jalur berbahaya agar semut tahu harus berbelok.
Aku membersihkan lumut licin di batu tempat burung kecil sering bertengger.
Tidak ada yang memintaku.
Tidak ada yang memuji.
Bahkan beberapa menertawakanku.
“Siput sok sibuk,” ejek seekor belalang.
“Kebaikan tidak membuatmu lebih cepat,” kata yang lain.
Mungkin benar. Aku tetap lambat. Tetap kecil dan tetap tak cantik
Namun suatu musim hujan, sesuatu terjadi.
Hujan turun tanpa henti. Sungai meluap. Jalur-jalur biasa terendam. Banyak hewan panik karena sarang mereka tergenang. Anak-anak terpisah dari induk. Kekacauan menyebar.
Dan di tengah kepanikan itu, jalur lendir kecil yang kubuat selama ini justru menjadi penanda aman.
Semut-semut mengikuti jejakku.
Kumbang tahu batu mana yang tidak licin.
Burung kecil tahu tempat bertengger yang stabil.
Aku melihatnya dengan mata terbelalak.
Hal-hal kecil yang kulakukan bekerja.
Saat banjir makin tinggi, seekor landak tua terjebak di balik semak. Tubuhnya berat, kakinya lemah. Ia kelelahan.
Aku mendekat.
Aku tidak bisa menariknya. Tidak bisa mengangkatnya.
Namun aku tahu satu jalur sempit yang aman jalur yang dulu kubersihkan sendiri.
Aku merayap di depan, meninggalkan jejak, menunjukkannya arah.
“Kenapa kau menolongku?” tanya landak itu terengah.
Aku menjawab jujur, “Karena aku pernah ditolong oleh kepercayaan kecil bahwa aku tidak sepenuhnya tak berguna.”
Landak itu mengikuti. Ia selamat.
Hari itu, banyak yang selamat.
Setelah hujan reda, Hutan Seruni berubah. Banyak pohon tumbang. Banyak sarang rusak. Namun makhluk-makhluk kecil berkumpul dan mulai membangun ulang.
Dan untuk pertama kalinya, mereka mengundangku.
“Siput,” kata seekor rusa muda, “kau tahu jalur paling aman di hutan ini tidak? Kalau kau tahu, beritahu aku”
Aku terdiam.
Aku?
Siput lambat?
Aku tidak menjadi pemimpin. Aku tidak memberi perintah. Namun aku menjadi penunjuk arah.
Sejak itu, hewan-hewan besar mulai memperhatikan hal kecil. Mereka belajar bahwa kekuatan tidak selalu keras, dan kecepatan tidak selalu bijak.
Dan aku belajar satu hal yang paling penting bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia datang dalam keputusan kecil untuk tidak berpaling.
Untuk berhenti. Untuk peduli. Meski dunia berkata, “Itu bukan urusanmu.”
Aku tetap siput. Aku tetap lambat. Namun jejak kecilku kini menjadi bagian dari peta hutan.
Dan jika suatu hari kau merasa terlalu kecil untuk mengubah apa pun, ingatlah ini hutan tidak berubah karena satu singa. Ia berubah karena ribuan langkah kecil yang memilih arah yang benar. Termasuk langkah seekor siput yang tidak pernah berlari tapi tidak pernah berhenti berbuat baik.