Banyu selalu mengira bahwa menjadi dewasa berarti harus memiliki punggung sekeras baja, yang tidak boleh melengkung meski beban dunia diletakkan di atasnya. Ia tumbuh dengan ketakutan. Namun, hari itu, di hadapan ayahnya, seluruh pertahanan yang dibangunnya bertahun-tahun menguap hanya karena sebuah tatapan.
Langkah kakinya terasa sangat berat saat memasuki halaman rumah panggung yang masih setia dengan atap rumbia. Daun-daun rumbia yang tersusun rapi itu tampak kecokelatan, memberikan kesan teduh yang tidak pernah ditemukan di balik gedung-gedung kaca kota besar. Bau tanah basah dan aroma khas perdesaan menyerbu indra, memicu memori-memori lama yang sempat terkubur dalam diam.
Di beranda rumah, Pak Usman sedang duduk tenang. Beliau tidak mengenakan jas atau pakaian mahal, hanya kaus usang dan celana yang warnanya sudah mulai pudar. Di mata Banyu, ayahnya bukan lagi sekadar orang tua; beliau adalah sebuah pelabuhan. Pelabuhan yang akan membawanya berlayar kembali hingga ke ujung dunia.
Banyu mendekat dengan suara yang pecah, “Ayah, bolehkah aku menangis?”
Tanpa sepatah kata pun, Pak Usman menarik anaknya itu ke dalam pangkuannya. Di sana, di antara aroma baju tua yang selalu terasa seperti masa kecil, Pak Usman berbisik bahwa pundaknya adalah rumah yang tidak akan pernah roboh hanya karena basah oleh air mata. Ia mengingatkan bahwa rumah yang sejati tidak menuntutmu untuk selalu utuh; rumah yang sejati justru tempatmu menyatukan kembali kepingan-kepingan yang hancur.
Pak Usman menyadari bahwa putranya berbeda. Ia paham bahwa cara otak Banyu berkembang dan memproses informasi memang berbeda sejak awal. Sebuah dunia unik bernama Autism Spectrum Disorder (ASD) Level 1 sudah menguasai diri Banyu sedari kecil. Pak Usman masih ingat dengan jelas bagaimana Banyu kecil menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyusun ranting pohon kelapa dengan presisi yang luar biasa, atau bagaimana ia akan menutup telinga rapat-rapat hanya karena suara mesin parut kelapa dan bunyi bel di sekolah.
Namun, beliau juga ingat binar mata Banyu setiap kali berhasil memecahkan teka-teki logika yang rumit. Meskipun Banyu memiliki riwayat autisme, semangatnya untuk sukses tidak pernah padam. Banyu berhasil bekerja di sebuah perusahaan besar di Ibu Kota Jakarta.
Beberapa tahun ini, Banyu berhasil menyembunyikan jati dirinya. Ia tahu kapan harus mengangguk, bagaimana mengatur nada bicara agar tidak terdengar datar, dan cara menghindari kontak mata tanpa terlihat tidak sopan. Namun, pertahanan itu runtuh dalam sebuah rapat besar.
Siang itu, pendingin ruangan berdesis terlalu nyaring, lampu lobi berkedip dengan ritme yang tidak teratur, dan rekan-rekan kerjanya berbicara bersahutan. "Ding... dong..." Bunyi bel notifikasi proyektor berulang kali menghantam sarafnya. Banyu mengalami apa yang ia takuti: sensory overload. Ia mendadak kaku, menutup telinganya dengan kedua tangan, dan menunduk dalam-dalam di tengah presentasi.
Sarah tidak sengaja melihat dokumen riwayat kesehatan Banyu yang tertinggal di meja. Seketika, kabar itu pun menyebar dengan cepat.
“Banyu, sang jenius data yang dingin itu, memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD) Level 1.”
Keesokan harinya, suasana kantor terasa berbeda. Rekan kerja yang sebelumnya menyapa dengan rasa segan, kini menatapnya dengan rasa kasihan dan canggung.
"Oh, pantas saja ya dia agak aneh kalau diajak bicara," bisik seseorang di dekat mesin kopi, tanpa tahu Banyu berdiri di balik pilar.
"Iya, jenius sih, tapi ternyata 'berkebutuhan khusus'. Kita harus ekstra sabar ya kalau sama dia," sahut yang lain dengan nada pelan namun tajam bagi pendengaran Banyu.
Percakapan itu jauh lebih menyakitkan daripada dengingan bel mana pun. Banyu merasa keberhasilannya selama ini di perusahaan besar itu seolah-olah terhapus hanya oleh satu label. Mereka tidak lagi melihat prestasinya; mereka hanya melihat "kekurangannya".
Sarah menghampirinya dengan raut wajah yang dibuat-buat prihatin. "Banyu, kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu ASD? Kita kan bisa maklum kalau kamu tidak fokus atau tidak mau kumpul-kumpul. Kamu tidak usah paksa diri jadi pahlawan di sini."
Banyu hanya diam. Kalimat "maklum" itu terasa seperti penghinaan bagi semangatnya yang selalu ingin sukses. Ia ingin diakui karena karyanya, bukan dikasihani karena kondisinya. Di saat itulah, ia merasa gedung kaca yang megah ini mendadak menjadi penjara yang terlalu sempit untuk dunianya yang unik.
Malam itu, Banyu menatap lampu-lampu kota yang seolah-olah mengejek kesepiannya. Ia teringat kembali pada pundak ayahnya di kampung halaman. Ia menyadari bahwa di kota ini, orang hanya akan menerimanya jika ia bisa berpura-pura menjadi "normal". Sedangkan di rumah beratap rumbia itu, Ayah sudah tahu segalanya sejak ia masih kecil, dan tak sekali pun Ayah memintanya untuk berubah.
Maka, dengan sisa keberanian yang ada, ia mengepak tasnya. Ia tidak melarikan diri dari kesuksesan; ia sedang melarikan diri dari penghakiman dunia yang sempit. Ia pulang untuk menjemput kembali harga dirinya yang sempat terkoyak oleh "permakluman" orang-orang kantor.
Keesokan harinya, di pangkuan Pak Usman, Banyu akhirnya berbisik lirih, "Mereka tahu, Yah. Mereka tahu aku berbeda, dan tiba-tiba semua usahaku tidak lagi berharga di mata mereka."
Pak Usman hanya mengeratkan pelukannya. "Biarkan mereka melihat kegelapan. Tapi kau, tetaplah menjadi cahaya yang melihat warna-warni kehidupan dengan caramu sendiri. Di sini, kau tidak perlu dimaklumi karena di sini kau sangat dicintai."
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan, Banyu," gumamnya, seolah-olah ia bisa membaca setiap getaran di hatiku tanpa perlu aku mengejanya menjadi kata-kata.
Tangan Pak Usman yang kapalan dan kasar—tangan yang telah menghidupi Banyu dengan peluh yang tidak pernah ia keluhkan—kini mengusap kepala Banyu dengan kelembutan yang menyakitkan untuk dirasakan. Rasanya menyakitkan karena ia sadar betapa seringnya ia menjauh hanya karena ingin terlihat hebat, padahal yang ia butuhkan hanyalah sentuhan ini.
"Kau tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang memang milikmu," lanjutnya lagi. "Pundak ini, rumah ini, dan doa-doa yang Ayah langitkan setiap malam... itu semua rumahmu. Jangan pernah merasa asing di sini."
Banyu semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Pak Usman. Di saat dunia luar menuntutnya untuk selalu memiliki jawaban atas segala hal, di sini, di pelukan Pak Usman, menjadi bodoh dan rapuh adalah hal yang sah-sah saja. Ketakutannya tentang hari esok, tentang bagaimana jika pundak ini tidak lagi ada, perlahan memudar, digantikan oleh kekuatan baru yang merayap perlahan ke dalam nadiku.
"Jika suatu saat Ayah tidak lagi bisa kau raih," bisiknya seakan-akan menjawab kekhawatiran yang tadi tertahan di lidahku, "ingatlah rasa pelukan ini. Ingatlah bahwa kau pernah dicintai begitu hebat sehingga kau punya cukup keberanian untuk mencintai dirimu sendiri."
Di teras itu, waktu seolah-olah berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi seorang anak yang sedang menjahit kembali jiwanya di atas pundak ayahnya. Pundak yang kini disebut sebagai "rumah".