Cerita Fiksi
Wajah di Balik Tangis Bayi
Ini salahku. Mengapa kejadian seperti ini harus terulang lagi? Aku ingin menjerit sekeras mungkin, seolah-olah suaraku mampu memekakkan telinga-Nya. Namun, aku hanyalah manusia yang hidup bergelimang dosa, berdiri dengan tubuh rapuh di hadapan takdir yang tak bisa kutolak.
Allah… masih adakah kesempatan dia hidup lagi?
Aku duduk di kursi besi di teras depan ruang persalinan rumah sakit. Lampu-lampu putih menyilaukan mata, seolah setiap cahaya sengaja memaksaku tetap terjaga bersama rasa bersalah yang tak kunjung padam. Di balik pintu itu, anak perempuanku, Rusady, sedang berjuang menaruh nyawa demi melahirkan bayinya.
Dia hamil di luar nikah. Fakta itulah yang terus memukul kewarasanku sejak beberapa bulan yang lalu. Aku merasa gagal sebagai ibu. Gagal menjaga hidup anakku agar tidak jatuh ke lubang hitam yang sama, seperti yang pernah kulalui.
***
Beberapa bulan lalu, ketika usianya baru menginjak sembilan belas tahun, Rusady datang kepadaku dengan wajah pucat. Tangannya gemetar ketika meremas ujung bajunya. Dia berdiri lama di ambang pintu sebelum akhirnya duduk di depanku.
“Ibu… aku harus bilang sesuatu.” Aku masih ingat bagaimana suaranya pecah saat itu. “Aku hamil.”
Dunia seakan berhenti berputar. Tidak ada suara, tidak ada udara, tidak ada apa-apa selain rasa dingin yang menjalar dari dada hingga ke ujung jari.
Saat itulah, kenangan lama yang selama dua puluh tahun berusaha kukubur, tiba-tiba bangkit dari dasar ingatan. Kenangan yang kupaksa hilang, tetapi ternyata masih hidup dan bernapas di dalam diriku.
***
Dua puluh tahun yang lalu, aku berdiri di rumah Aldo, mantan kekasihku. Rumahnya kecil dan sederhana, berdinding papan tua yang mengeluarkan aroma kayu lembap. Namun, rumah itu selalu terasa hangat karena Aldo adalah lelaki yang saleh.
Ya, Aldo miskin, tetapi hidupnya sarat ketenangan yang dulu membuatku jatuh cinta. Hari itu aku datang dengan tubuh gemetar, membawa kabar yang menghancurkan segalanya. Menghancurkan kami.
“Aku bingung, Al….” Suaraku hampir tidak terdengar.
Aldo menatapku lama sekali. Matanya tidak marah, tetapi memancarkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dari kemarahan: kekecewaan yang teramat dalam.
“Tolong aku,” kataku lagi.
Beberapa detik berlalu tanpa respons. Aku mencoba menyentuh punggung telapak tangannya, berharap dia akan menggenggamku seperti dulu. Namun, belum genap sedetik, Aldo menarik tangannya menjauh.
“Kau tidak mau menolongku?” tanyaku lirih, meski aku sudah tahu jawabannya.
Aldo menggeleng perlahan dan menunduk. Dia berjalan menjauh ke sudut ruangan, memberi jarak yang begitu nyata di antara kami. “Allah tidak pernah tidur,” katanya pelan, tetapi entah mengapa terasa bak ketukan palu hakim. “Apa kau tidak kasihan pada janin di kandunganmu itu? Kelak segala perilakumu akan tampak pada generasimu. Anak itu akan menjadi cermin hidup orang tuanya.”
Aku menggeleng keras, menolak kata-katanya. “Allah tidak sekejam itu. Daripada aku harus menggugurkan kandungan ini, lebih baik aku mencari bapak untuknya.”
Aldo menatapku lagi, kali ini dengan sorot yang jauh lebih tajam. “Kau salah orang.”
Aku terdiam.
“Apa aku ini pilihan terakhirmu? Kau mengakhiri hubungan cinta kita demi laki-laki itu. Lalu dia menghamilimu dan sekarang lari dari tanggung jawab, dan kau datang padaku?”
Aku tidak mampu menjawab. Napasku tercekat.
“Begitukah perempuan di dunia ini?” lanjutnya, suaranya naik satu oktaf. “Tahu rasanya dikhianati?”
Aku menunduk semakin dalam.
“Jawab!” bentaknya.
Aku tetap diam membisu. Aldo memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya berkata dengan suara yang patah, “Perih. Iya, sangat perih.”
Kata itu menancap di telingaku seperti duri beracun yang tidak pernah bisa dicabut.
***
Ingatan masa lalu itu luruh seketika saat seorang perawat berlari keluar dari ruang persalinan. Wajahnya tegang. Beberapa dokter menyusul masuk dengan tergesa-gesa. Jantungku berdetak memburu. Aku mencoba berdiri, tetapi kakiku terasa seperti bukan milikku lagi.
Beberapa menit yang terasa seperti neraka berlalu, sebelum dokter persalinan keluar. Dia melepas masker dan menatapku dengan mata penuh simpati. Tanpa perlu mendengar rentetan kalimatnya, aku sudah tahu jawabannya.
“Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Dunia seakan runtuh menimpaku begitu saja saat menyadari maksud ucapannya.
Aku melangkah gontai masuk ke ruang persalinan dengan tubuh gemetar hebat. Rusady terbaring diam di ranjang, wajahnya pucat pasi bak kertas. Rambut poninya menempel lepek di kening yang berkeringat. Di samping tempat tidur, Aldo berdiri membelakangiku sambil menggendong bayi kecil yang baru saja lahir.
Aldo. Suamiku. Pria yang akhirnya sudi menikahiku bertahun-tahun setelah kejadian kelam itu, ketika hidup kami sama-sama telah dipatahkan oleh banyak hal.
Dengan suara lembut yang menggetarkan udara ruangan, dia mengumandangkan azan ke telinga bayi itu. “Allahu akbar… Allahu akbar….” Suaranya begitu tenang, tetapi entah mengapa, mendengar itu dadaku justru kian sesak.
Tangisku pecah saat perhatianku tertuju kembali pada Rusady yang tak lagi bernapas. Anak di dalam perutku yang dulu kugendong menghadap Aldo, anak yang kubesarkan dengan penuh harapan, kini pergi sebelum sempat melihat bayinya sendiri tumbuh.
Aldo selesai mengumandangkan azan. Ia menatap bayi itu dengan sorot mata yang sulit kuterjemahkan. Lalu, dia berbalik dan mengulurkan bayi itu kepadaku.
“Lihat cucumu,” katanya pelan.
Tanganku bergetar hebat saat menerima tubuh kecil yang terbungkus kain itu. Hangat. Sangat hangat. Aku menunduk dan menatap wajah suci di dekapanku.
Saat itulah jantungku seolah berhenti berdetak. Mataku terbelalak.
Hidungnya. Bentuk alisnya. Lekuk bibirnya. Semua terasa sangat familier. Sangat persis. Sangat mirip dengan… Aldo.
Aku mendongak, menatap suamiku dengan napas tercekat. Aldo tidak berkata apa-apa. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada raut kehilangan. Tidak ada pertanyaan. Hanya tatapan panjang yang terasa terlalu tenang untuk sebuah tragedi kematian.
“Aldo….” Suaraku menguap di udara, nyaris tak terdengar.
Aldo tersenyum kecil. Senyum ganjil yang menyiratkan sebuah pembalasan dendam yang telah ia semai dengan sangat sabar selama dua puluh tahun. Senyum yang menusuk hatiku berjuta-juta kali lipat lebih perih.