Cerita Fiksi

Kemenangan yang Tak Sanggup Kami Beli

Kemenangan yang Tak Sanggup Kami Beli
Ilustrasi rumah gubuk (Pexels/Shane Kell)

Gema takbir dari pengeras suara masjid di ujung gang terdengar seperti hantaman palu yang memukul-mukul dadaku. Bagi orang lain, itu adalah simfoni kemenangan. Bagiku, itu tak lebih dari lonceng peringatan bahwa besok adalah hari saat kemiskinanku akan dipamerkan secara telanjang di bawah terik matahari.

Aku duduk di ambang pintu rumah petak kami yang atapnya mulai melengkung dimakan rayap. Di dalam, Ibu sedang sibuk memindahkan isi panci. Bukan opor ayam dengan kuah kuning yang kental, bukan pula rendang yang aromanya menusuk hidung hingga ke rumah tetangga. Hanya tempe bacem dan sayur lodeh nangka sisa pasar tadi pagi, yang harganya sudah miring karena nyaris busuk.

"Rian, sini makan dulu," panggil Ibu. Suaranya serak, khas orang yang terlalu banyak menelan debu dan air putih untuk sekadar mengganjal lapar.

Aku masuk dan melihat Ibu berusaha tersenyum. Di atas meja kayu yang kakinya diganjal batu bata, ada satu toples plastik berisi biskuit curah murah yang isinya sudah hancur. Itu adalah sisa pemberian dari majikan tempat Ibu mencuci baju dua hari lalu.

"Besok kita shalat Id di lapangan besar, ya, Nak? Pakai baju yang ada saja, yang penting bersih," kata Ibu sambil menyendokkan nasi ke piringku.

Aku menatap baju koko putihku yang digantung di paku tembok. Warnanya sudah tidak putih lagi, melainkan kekuningan di bagian kerah karena keringat yang mengerak bertahun-tahun. Kainnya sudah menipis, nyaris transparan. Sementara itu, dari balik dinding tripleks yang tipis, aku bisa mendengar suara anak-anak tetangga berteriak girang, memamerkan sepatu baru yang lampunya menyala saat dihentakkan ke tanah.

Ada rasa sesak yang naik ke tenggorokan. Rasanya ingin sekali aku berdiri, membanting piring ini, dan berteriak, "Kenapa kita, Bu? Kenapa harus kita yang selalu begini?"

Aku ingin menyalahkan keadaan. Aku ingin menyalahkan Bapak yang pergi entah ke mana sejak aku masih bayi. Aku ingin menyalahkan pemerintah yang katanya menjamin fakir miskin, tapi nyatanya kami hanya jadi angka di kertas statistik saat pemilu. Aku ingin marah pada Tuhan, kenapa doa-doa Ibu yang dipanjatkan di atas sajadah bolong itu belum juga dijawab dengan selembar daging di hari raya.

Namun, saat aku melihat mata Ibu yang sembab, amarahku menguap menjadi kepasrahan yang perih.

Pagi hari Lebaran selalu terasa lebih dingin bagi mereka yang tak punya apa-apa. Saat orang-orang keluar dengan gamis sutra dan jas rapi, aku dan Ibu melangkah perlahan menuju lapangan. Aku berusaha menyembunyikan jempol kakiku yang menyembul dari sandal jepit yang alasnya sudah nyaris rata.

Sepanjang jalan, aroma daging dan ketupat menyeruak dari ventilasi rumah-rumah di sekitar. Perutku berbunyi, tetapi aku pura-pura sibuk membetulkan letak sarungku.

Di lapangan, kami duduk di barisan paling belakang. Berdekatan dengan tempat sampah, jauh dari shaf depan yang diisi orang-orang terpandang. Saat khotbah dimulai, khatib bicara tentang kemenangan, tentang kembali ke fitrah, tentang kebahagiaan berbagi.

Aku tertunduk. Kebahagiaan berbagi? Siapa yang berbagi dengan kami? Tadi malam, aku melihat Pak RT membagikan amplop zakat, tapi rumah kami dilewati karena katanya data kami "masih diproses". Semalam Ibu hanya mengangguk sabar, sementara aku tahu, malam itu Ibu hanya minum air hangat agar tidurnya bisa tenang.

Selesai shalat, ritual yang paling aku benci dimulai: bersalaman.

Orang-orang saling berpelukan, tertawa, membicarakan rencana mudik atau menu makan siang. Aku dan Ibu berdiri di pinggir lapangan, seperti dua bayangan yang tak dianggap ada. Beberapa tetangga menyalami kami, tetapi tatapan mereka penuh kasihan—jenis tatapan yang lebih menyakitkan daripada makian.

"Sabar ya, Bu Siti. Semoga tahun depan rezekinya lancar," ucap seorang ibu yang perhiasannya berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Ibu hanya tersenyum tulus. "Amin, Bu. Terima kasih."

Aku ingin berteriak pada ibu-ibu itu: "Simpan kasihanmu! Kami tidak butuh doa yang hanya di bibir, kami butuh sesuatu untuk dimakan!" Tapi lagi-lagi, aku hanya bisa diam. Kemiskinan telah merenggut suaraku. Miskin itu bukan hanya soal tidak punya uang, tetapi juga tidak punya hak untuk marah tanpa dicap sebagai orang yang tidak bersyukur.

Kami pulang ke rumah saat matahari mulai meninggi. Jalanan sudah sepi, orang-orang sudah berkumpul di dalam rumah masing-masing, menikmati hidangan mewah keluarga.

Ibu duduk di lantai tanah, membuka tutup saji. Sayur lodeh nangka semalam sudah dipanaskan kembali. Kami makan dalam diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring plastik. Tidak ada tamu yang datang. Siapa juga yang mau bertamu ke rumah yang lantainya saja masih tanah dan udaranya beraroma lembap?

"Enak, Bu," kataku bohong, hanya agar Ibu tidak merasa gagal.

Ibu berhenti mengunyah. Beliau menatapku lama, lalu tangannya yang kasar terulur meraih pipiku. "Maafkan Ibu ya, Rian. Lebaran kali ini pun, Ibu belum bisa kasih kamu baju baru. Belum bisa kasih kamu daging."

Tembok pertahananku runtuh. Aku memeluk Ibu erat-erat, menangis sesenggukan di bahunya yang kurus. Ini bukan hanya soal baju atau daging. Ini soal rasa lelah karena terus-menerus dikalahkan oleh keadaan. Soal rasa sakit karena merasa tidak berharga di mata dunia setiap kali hari kemenangan tiba.

"Enggak apa-apa, Bu. Enggak apa-apa," bisikku, meski batinku berteriak sebaliknya.

Di hari Lebaran ini, aku belajar satu hal yang paling pahit: bahwa bagi orang miskin, kemenangan sejati bukanlah saat bisa makan enak atau berbaju baru. Kemenangan kami adalah saat kami mampu melewati hari ini tanpa harus mengutuk takdir di depan orang yang kami cintai.

Aku menatap ke luar jendela yang hanya ditutup kain perca. Di luar sana, langit biru cerah. Gema takbir masih sayup-sayup terdengar. Aku menarik napas panjang, menelan sisa rasa lapar dan amarahku, lalu kembali menyuap nasi dengan sayur nangka yang mulai terasa asam itu. Kami tidak punya pilihan selain menerima, karena di dunia ini, harapan terkadang adalah sebuah kemewahan yang tidak sanggup kami beli.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda