Cerita Fiksi
Teman Bicara di Lorong Sunyi
“Besok pagi, kuliahnya Sejarah Eropa. Lalu..."
Itulah suara yang terdengar di lorong gedung B Fakultas Hukum Universitas Pendidikan Norria, Anderfoy, Middleland. Suara seorang mahasiswa yang sedang merencanakan perkuliahan esok hari. Bukan dengan orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri.
“Ilmu Pendidikan Tingkat Lanjut,” lanjutnya.
Malam semakin larut saat dia berjalan melewati lorong tersebut menuju ke tempat kosnya untuk beristirahat sebelum hari perkuliahan baru tiba.
Kebiasaan mahasiswa tersebut, yaitu berbicara sendiri, sudah menjadi masalah bagi dirinya, apalagi di dalam keluarga. Pasti ia akan ditanya siapa lawan bicaranya. Sering kali ia menjawab bahwa itu merupakan rencana untuk berbicara kepada seseorang atau terkadang daftar kegiatan yang perlu ia lakukan. Menurutnya, hal ini dilakukan agar tidak repot mencatat apa saja yang akan dilakukannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Langkah mahasiswa laki-laki itu sudah hampir mencapai akhir lorong gedung B Fakultas Hukum. Itu berarti gerbang menuju wilayah kosnya sudah berada di depan mata.
“Depan sudah pintu belakang,” katanya. Seharusnya ia bergumam, tetapi kali ini suaranya terdengar terlalu keras.
Tiba-tiba…
“Ya. Kamu sudah dekat dengan gerbang belakang.”
Suara perempuan tiba-tiba terdengar di telinganya. Ia tidak tahu asalnya dari mana.
“Heh! Kamu siapa?!” kata mahasiswa semester 5 jurusan Sejarah NorUniEd (Norria University of Education), menanyakan asal suara itu.
“Saya tadi mendengar omonganmu. Kamu mau saya ajak berbicara dengan saya?”
Suara perempuan itu sangat sopan. Inilah yang membuat mahasiswa itu ketakutan hingga sekujur tubuhnya merinding dan hampir kaku.
“Maaf. Saya harus segera kembali ke kos.” Ia menolak permintaan perempuan itu untuk mengobrol.
“Loh, kan saya cuma ingin mengajakmu mengobrol.”
Tanpa membalas ucapan tersebut, mahasiswa laki-laki itu langsung berlari ke arah pintu gerbang yang tak jauh dari posisinya.
“Harus ke arah depan. Lihatlah ke depan. Jangan tengok ke belakang,” katanya dalam hati sembari mengingatkan diri sendiri agar hanya melihat ke depan. Ia takut jika perempuan yang hanya terdengar suaranya itu malah mendekatinya.
Tanpa disadarinya, salah satu kakinya terpeleset saat berusaha melompati ujung lorong gedung B Fakultas Hukum, jalur peralihan menuju akses pintu gerbang belakang fakultas tersebut.
Sontak, kedua kakinya, perut, dan pinggangnya kesakitan karena menghantam lantai semen dengan keras. Kepalanya pun hampir saja terbentur. Selain itu, tas punggung hitamnya hampir terlepas, dan tas selempangnya terjatuh menimpa perutnya, walaupun tidak sampai menekannya.
“Waduh. Aku harus bagaimana, nih?” ia bergumam dalam keadaan panik.
Tak jauh dari pandangannya, sosok hantu perempuan mendekatinya. Semakin dekat sosok itu, detak jantungnya berdebar kencang sekali, seperti seseorang yang baru selesai berolahraga berat. Mahasiswa tersebut hampir berputus asa untuk kabur karena tubuhnya terasa kaku setelah terjatuh tadi.
“Tolong. Jangan lakukan perbuatan buruk kepada saya,” katanya memohon kepada hantu itu.
Akan tetapi, tidak ada jawaban. Sosok itu hanya terdiam saja. Akhirnya, ia memejamkan kedua matanya dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Beberapa saat kemudian…
“Silakan buka kedua matamu.”
Suara hantu perempuan itu menyuruh mahasiswa jurusan Sejarah NorUniEd tersebut untuk membuka mata. Namun…
“Kamu siapa?!”
Mahasiswa itu spontan terkejut melihat sesosok hantu perempuan berpakaian serba putih dengan rambut cokelat tua pendek dan bermata hijau muda.
“Saya tadi menolongmu agar kamu tidak tergeletak di lantai.”
“Menolong saya? Padahal kamu hantu.”
“Saya bisa menyentuh manusia kalau mereka memerlukan pertolongan.”
“Oohh…”
Setelah itu, hantu tersebut berusaha mengangkat sang mahasiswa. Pakaian pemuda itu agak kotor setelah terjatuh ke atas lantai semen yang ternoda oleh jejak kaki orang-orang. Hantu itu memposisikannya duduk di pelataran lorong, tempat yang biasanya digunakan mahasiswa sebagai meja saat mereka duduk lesehan.
“Oke. Bagaimana kondisimu?” tanya hantu perempuan itu.
Mahasiswa tersebut kebingungan sembari menahan sakit di kakinya. “Mungkin… masih agak pusing. Dan juga, kedua kaki saya agak sakit.”
“Lekas pulih kembali.”
“Terima kasih.”
“Maafkan arwah saya kalau tadi membuatmu ketakutan dan sampai jatuh begini.” Hantu perempuan itu meminta maaf atas kejadian tadi.
“Saya tahu kalau saya takut dengan hantu sepertimu. Tapi karena kamu telah menolongku, ya… saya tidak takut lagi. Saya terima maafmu,” kata mahasiswa itu.
Setelah beristirahat selama beberapa menit…
“Maaf. Bolehkah saya tahu namamu?” tanya hantu perempuan yang kini ingin mengetahui nama mahasiswa yang baru saja ia tolong.
“Hah?” Mahasiswa tersebut kaget. “Berarti saya bisa berbicara kepadamu? Tidak hanya kamu yang mendengarkan saya?”
“Ya.”
“Oke, lah,” kata mahasiswa itu menerima tawaran tersebut. Lalu, mereka mulai saling berkenalan.
“Namamu siapa?” tanya hantu perempuan itu lebih dahulu.
“Saya Benedict. Ben panggilan saya.”
“Saya Maura.”
Ternyata mahasiswa tersebut bernama Ben, sedangkan hantu yang sempat membuatnya takut adalah Maura.
“Kamu menghuni tempat ini?”
“Ya.”
“Untuk menakuti manusia?”
“Tidak, Ben,” bantah Maura. “Mungkin kamu saja yang ketakutan saat melihat saya.”
“Ya, sih.”
Setelah itu, Maura menyarankan Ben untuk mengobrol dengannya saja seandainya Ben ingin berbicara sendiri lagi.
“Ben, seandainya ada yang perlu dibicarakan, tidak apa-apa kalau kamu berbicara kepada saya. Apa pun itu. Kalau ada yang perlu dibantu, saya akan berusaha membantumu sekuat tenaga arwah saya.”
“Ya, Maura. Terima kasih.”
“Daripada kamu berbicara sendiri, takutnya kamu malah berbicara kepada setan penghuni lain yang jahat dan mengusirnya pun sulit. Karena saya satu-satunya hantu yang menghuni tempat ini.”
“Yang lainnya pada ke mana, Maura?”
“Saya ada penugasan dari pemakaman saya. Jadi, hanya saya yang di sini. Yang lainnya menyesuaikan penempatan tugas masing-masing.”
“Oohh…”
“Jadi, kalau ada yang perlu dibicarakan, bicara kepada saya saja. Tidak perlu bicara sendiri.”
“Oke, Maura. Karena saya perlu teman juga.”
“Siap, Ben.”
Melihat jam di gawainya yang hampir menunjukkan pukul 22.00, Ben pamit kepada Maura karena ingin bergegas kembali ke kosnya.
“Maaf, Maura. Saya harus kembali ke kos. Sudah terlalu malam.”
“Oke, Ben. Seandainya kamu mau mengobrol dengan saya, silakan saja. Tapi… jangan pada siang hari.”
“Karena kamu tidak akan kelihatan.”
“Benar sekali, Ben.”
Ben berpamitan dengan Maura dan segera bergegas kembali ke kosnya.
“Maura, saya pamit dulu.”
“Ingat ya, Ben. Kalau ada yang perlu dibicarakan, panggil saja saya. Tidak perlu khawatir dan takut.”
“Siap, Maura.”
Ben mulai berjalan meninggalkan Maura menuju kosnya.
“Syukurlah. Sekarang saya punya teman lagi, walaupun hanyalah hantu,” ucap Ben saat meninggalkan kampus NorUniEd. Ia berjalan dengan rasa takut dan sakit yang sudah hilang menuju gerbang belakang Fakultas Hukum yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Semarang, 1 Februari 2026