Cerita Fiksi
Dalam Perjalanan Pulang
Bus melaju pelan menuju perbukitan. Angin pagi menerobos dari jendela yang separuh terbuka, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang seperti daun kering. Di kursi nomor 17 aku duduk diam memandang jalan yang berkelok. Aku tidak membaca, tidak tidur, tidak menatap ponsel. Aku hanya memandang ke luar, ke arah dunia yang kutinggalkan delapan tahun yang lalu.
Di pangkuanku, tergeletak plastik bening berisi sebotol air dan sebungkus roti sobek. Tanganku kadang meremas bungkus plastik itu pelan, seperti sedang menghitung waktu.
Aku tak bicara dengan siapa pun sejak naik bus ini dari terminal Kalideres. Kondektur menyapa basa-basi, dan aku hanya mengangguk. Hanya itu.
Tadi malam, saat langit Jakarta hujan ringan, aku berteduh di sebuah halte sambil menunggu angkutan umum menuju jalan pulang ke kontrakanku. Sungguh pertemuan yang tidak terduga dan sangat tidak aku inginkan. Seorang pria yang berasal dari kampung halamanku menghampiriku, bertanya kabar dan memberi kabar padaku bahwa ibuku telah meniggal satu bulan yang lalu. Banyak yang mencoba mencariku, tetapi tak ada yang berhasil. Hingga akhirnya aku bertemu dengannya. Dia mengingatkanku untuk segera pulang.
Aku tahu peralanan pulang ini bukan tentang jarak. Ini adalah perjalanan yang menyeberangi waktu. Yang memaksa aku membuka satu persatu kotak lama dalam kepala, kotak-kotak berdebu yang selama ini kusimpan rapi. Suasana malam itu di masjid, tangan yang gemetar saat mengambil uang kotak amal, suara warga yang berteriak-teriak “tangkap!”, dan ibuku yang hanya berdiri di serambi rumah, tidak menangis, tidak bicara, hanya memadangku seperti menatap sosok yang bukan anaknya.
Aku tidak sempat menjelaskan, tidak sempat bilang bahwa uang itu untuk adikku yang juga anak ibuku, yang sedang menderita demam tinggi selama berhari-hari. Aku tahu kampungku tidak pernah peduli pada penjelasan. Mereka hanya peduli pada penghakiman. Dan aku adalah seorang lelaki yang terlalu sering mabuk, terlalu sering berkelahi di jalan, dan terlalu sering mengecewakan sepertti halnya ayahku. Bedanya, aku tak pernah lari dari tanggung jawab kepada keluarga yang seharusnya dia pikul.
Bus berhenti di sebuah warung makan kecil di pinggir jalan. Beberapa penumpang turun. Aku tidak lapar, tetapi ikut turun juga, berdiri di pinggir bangku panjang menatap langit. Kurasakan setiap tarikan napas terasa seperti tidak sampai memasuki paru-paruku. Tertahan entah di bagian mana tubuhku.
Aku mencoba mengingat wajah ibu terakhir kali. Mungkin sudah samar. Yang kuingat hanya jemari ibu saat menyisir rambutku waktu aku kecil. Wajah ibuku waktu menunggu di pinggir sawah, membawa bekal dalam rantang kaleng dan suara ibu yang menggumam pelan setiap selesai salat: Tuhan, selamatkan anak-anakku.
Aku tertawa kecil. Aku tidak tahu apakah doa dari ibu untuk anak-anaknya itu dikabulkan atau tidak?
Tak lama aku kembali ke dalam bus. Bangku di sebelahku masih tetap kosong sebagaimana awal tadi. Perjalanan berlanjut menuju hutan pinus di jalanan desa. Di kursi depanku, suara anak kecil menangis karena ingin eskrim. Ibunya memeluknya, menepuk-nepuk punggung, lalu menyodorkan kue kering dari kantong plastik. Adegan itu membuatku memalingkan wajah ke jendela.
Aku teringat pada adikku. Sosok yang kusayangi tanpa syarat. Dulu, kami berbagi kasur tipis di lantai papan. Aku akan mendongeng untuknya sebelum tidur. Kisah-kisah yang kukarang sendiri. Tentang harimau yang ingin menjadi manusia, tentang anak kecil yang menemukan matahari di balik hutan bambu. Adikku akan tertawa, lalu tertidur dengan senyum.
Tapi, ketika aku kabur pada malam itu, aku tidak sempat berpamitan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada adikku sekarang. Mungkin sudah besar. Mungkin sudah melupakan aku.
Langit mulai mendung ketika memasuki kecamatan terakhir. Daerah ini kukenali dari aroma sungai, dan juga suara burung yang khas, warung kecil di tikungan yang menjual es lilin seribu rupiah. Aku memaksakan napas panjang, tanganku meraba saku celana, lalu meremas sobekan tiket.
Di halte kecil, bus akhirnya berhenti ini termial terakhir. Aku turun dengan langkah ragu. Seperti orang yang bermimpi tapi tidak tahu di mana awalnya.
Aku menapaki jalan-jalan kampung. Pohon-pohon kelapa masih berdiri di pinggir jalan. Rumah-rumah panggung sebagian besar sudah diganti tembok. Tapi jalan setapak itu masih sama. Masih seperti ketika aku kecil, berjalan pulang sekolah dengan kaki kotor dan suara ibu memanggil dari jauh, “Sini, makan dulu!”
Aku berdiri di depan rumah itu sekarang. Pagar bambu sudah reot. Pintu terbuka separuh. Di teras, sandal bekas ibuku masih ada. Aku melangkah pelan. Di dalam rumah, seorang remaja berdiri menatapku. Wajahnya tirus, matanya seperti cermin kecil yang menyimpan sesuatu yang telah lama terpendam. Aku mengenal wajah itu. Wajah adikku.
“Kak?” suara itu lirih, nyaris tenggelam. Aku mengangguk. Aku tak tahu harus berkata apa. Adikku menatapku lama. Lalu melangkah mendekat dan memelukku. Pelan. Tanpa kata.
“Ibu menunggu sampai detik terakhir,” katanya. Menciptakan kabut di kelopak mataku. “Ibu menunggu Kakak pulang, selalu.” Membuatku tenggelam dalam rasa bersalah yang semakin jauh.
Aku memejamkan mata di luar hujan mulai turun tipis. Air menetes di ujung atap. Di dalam, aku merasa seperti anak kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang, meskipun semuanya sudah terlambat.
Tapi aku tahu, perjalanan ini – dengan semua luka dan penyesalan – memang harus di jalani. Karena pada akhirnya, tidak semua orang diberi kesempatan untuk pulang.