Lampu-Lampu yang Tak Pernah Padam

Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Lampu-Lampu yang Tak Pernah Padam
Ilustrasi cahaya lilin di sepanjang jalan (AI/Nano Banana)

*Ramadan selalu datang dengan cara yang sama, pelan tapi mengubah segalanya*

Di kampung kecil tempat Raka tinggal, bulan suci itu seperti lampu-lampu yang dinyalakan serentak. Jalanan yang biasanya lengang selepas magrib mendadak ramai oleh anak-anak yang berlarian membawa petasan korek, ibu-ibu menenteng piring takjil, dan suara azan bersahutan dari surau tua di ujung gang.

Namun, tahun ini berbeda bagi Raka. Ini Ramadan pertamanya tanpa Ayah. Sejak Ayah meninggal pada akhir tahun lalu, rumah mereka terasa lebih luas sekaligus lebih sepi. 

Meja makan yang dulu penuh cerita kini hanya diisi tiga piring milik Ibu, Raka, dan adiknya, Lila. Tidak ada lagi suara Ayah yang bercanda soal siapa yang paling kuat menahan lapar, atau kisah-kisah masa kecilnya yang selalu diulang tiap Ramadan.

Sore itu, Raka duduk di teras sambil memperhatikan langit yang berwarna jingga. Tangannya memutar-mutar gelang kayu pemberian Ayah dua tahun lalu. Gelang itu sederhana, tapi Ayah pernah berkata, “Kalau kamu merasa sendirian, ingat, doa itu lebih dekat dari yang kamu kira.”

“Ayo, Kak, bantu Ibu potong timun!” teriak Lila dari dapur yang sukses membuyarkan lamunan Raka. 

Raka bangkit. Di dapur, aroma kolak pisang memenuhi ruangan. Ibu berdiri di depan kompor, wajahnya berkeringat tapi tetap tersenyum.

“Takjil sederhana saja tahun ini,” kata Ibu pelan.

“Yang penting bareng,” jawab Raka cepat, sebelum sempat berpikir. Ia melihat mata Ibu yang sedikit berkaca-kaca, lalu kembali sibuk mengiris timun.

Menjelang magrib, suara beduk dari surau terdengar bertalu-talu. Raka membantu mengantar sepiring kolak ke rumah Pak Rahmat, tetangga sebelah yang sudah sepuh dan tinggal sendirian. Dulu, itu tugas Ayah.

Pak Rahmat membuka pintu dengan senyum hangat. “Wah, sekarang Raka yang gantikan Ayah, ya?”

Raka mengangguk, berusaha tersenyum. “Iya, Pak. Semoga Bapak suka.”

“Terima kasih. Ayahmu pasti bangga.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Raka terasa penuh. Dalam perjalanan pulang, ia menyadari sesuatu—mungkin kehilangan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk—menjadi kenangan, menjadi doa, menjadi kekuatan yang tak terlihat.

Malamnya, Raka pergi tarawih ke surau. Saf terasa lebih rapat dari biasanya. Anak-anak kecil berlarian sebelum salat dimulai, sementara para orang tua berbincang pelan. Raka berdiri di saf kedua, tepat di tempat Ayah biasa berdiri.

Saat imam membaca ayat-ayat suci, Raka memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak Ayah tiada, ia tidak merasa kosong. Ada rasa hangat yang menjalar perlahan. Seolah-olah, setiap doa yang dipanjatkan bersama-sama itu membentuk jembatan yang menghubungkan yang ada dan yang telah pergi.

Sepulang tarawih, listrik di kampung mendadak padam. Gelap menyelimuti jalan. Beberapa anak kecil menjerit kaget, lalu tertawa. Dari kejauhan, seseorang menyalakan lilin. Disusul yang lain. Dalam hitungan menit, gang kecil itu berubah menjadi lautan cahaya kecil yang berkelip.

Raka berdiri memandangi lilin-lilin itu. Ia teringat ucapan Ayah tentang doa yang selalu dekat.

Mungkin Ramadan memang seperti ini, pikirnya. Ia tidak menghapus kehilangan, tapi menyalakan cahaya di tengah gelapnya.

Di rumah, Ibu dan Lila sudah duduk di ruang tengah dengan satu lilin di atas meja. Bayangan mereka menari-nari di dinding.

“Kok lama, Kak?” tanya Lila.

“Lihat lampu-lampu kecil di luar,” jawab Raka pelan. “Indah banget.”

Ibu tersenyum. “Kadang kita baru sadar cahaya itu ada, justru saat gelap datang.”

Raka duduk di antara mereka. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak harus selalu kuat. Ia boleh rindu. Ia boleh sedih. Tapi ia juga boleh bahagia.

Di luar, suara orang-orang masih terdengar, saling menyapa dalam gelap yang tidak lagi menakutkan.

Ramadan tahun ini mengajarkan Raka satu hal: kehilangan mungkin memadamkan satu lampu di hidupnya, tapi selalu ada lampu-lampu lain yang dinyalakan—oleh keluarga, oleh tetangga, oleh doa-doa yang tak pernah putus.

Dan di antara cahaya lilin yang kecil itu, Raka percaya, cinta Ayah tetap menyala.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak