Langit sore itu berwarna jingga lembut ketika Daniel duduk di tepi tempat tidurnya, menatap jam di dinding. Pukul lima lewat empat puluh lima. Lima belas menit lagi waktu berbuka. Ramadan pertamanya sebagai mualaf.
Masih terasa asing menyebut dirinya Muslim. Baru tiga bulan lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid kecil dekat kantor. Bukan karena paksaan siapa pun, bukan pula karena ingin terlihat berbeda. Keputusannya tumbuh perlahan, dari rasa ingin tahu yang tak kunjung padam.
Namun memeluk keyakinan baru ternyata tak serta-merta membuat semuanya mudah.
Keluarganya belum sepenuhnya memahami. Ibunya hanya berkata pelan, “Kamu yakin, Nak?” tanpa amarah, tapi juga tanpa benar-benar mengerti. Ayahnya memilih diam. Daniel tahu, mereka butuh waktu.
Ia menghela napas dan berjalan ke dapur kosnya yang sempit. Di atas meja ada segelas air putih dan sepiring kurma yang ia beli siang tadi. Teman sekantornya, Faris, bilang berbuka cukup dengan yang manis dan sederhana.
Hari itu terasa panjang. Pukul dua siang, kepalanya sempat berdenyut. Ia hampir menyerah dan ingin minum. Tapi ia teringat pesan ustaz saat kelas pengenalan Islam yang ia ikuti, “Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi melatih hati agar lebih kuat dari keinginan sesaat.”
Kalimat itu terngiang hingga sore.
Tiba-tiba suara azan magrib berkumandang dari masjid di ujung jalan. Suaranya merambat pelan ke jendela kamar Daniel. Ia terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Ini dia,” bisiknya.
Ia mengangkat gelas, membaca doa berbuka yang masih ia hafal terbata-bata, lalu meneguk air. Sederhana. Hanya air putih. Tapi ada sesuatu yang hangat mengalir, bukan hanya di tenggorokan, melainkan juga di dadanya.
Air matanya jatuh tanpa diminta. Bukan karena lapar yang akhirnya terbayar. Bukan pula karena ia merasa hebat berhasil menahan diri seharian. Tangis itu datang karena ia merasa diterima.
Seolah-olah, di tengah segala keraguan dan perubahan besar dalam hidupnya, ada ruang yang terbuka dan berkata, “Kamu tidak sendiri.”
Malam itu Faris menjemputnya untuk salat tarawih berjamaah. Daniel mengenakan kemeja putih sederhana. Di pelataran masjid, ia melihat anak-anak berlarian, para ayah bercengkerama, dan ibu-ibu membawa sajadah kecil.
Ia merasa canggung. Gerakan salatnya belum lancar. Bacaan Al-Fatihahnya masih terbata. Ia takut salah.
Saat salat dimulai, Daniel berdiri di samping Faris. Ia mengikuti setiap gerakan dengan hati-hati. Ketika imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdu, Daniel tidak mengerti seluruh artinya. Namun entah mengapa, ia merasa tenang.
Di antara sujud dan duduk, ia berbisik dalam hati, “Tuhan, aku masih belajar. Jangan lelah membimbingku.”
Usai tarawih, beberapa jamaah menyalaminya. Faris memperkenalkan Daniel sebagai mualaf baru. Alih-alih memandang aneh, mereka tersenyum hangat.
“Semangat ya, Mas. Ramadan pertama pasti berkesan,” kata seorang bapak paruh baya.
Daniel mengangguk, hatinya bergetar.
Di perjalanan pulang, ia membuka ponselnya. Ada pesan dari ibunya.
“Sudah buka puasa? Jangan lupa makan yang cukup.”
Sederhana, tapi cukup membuatnya tersenyum. Mungkin keluarganya belum sepenuhnya memahami, tapi mereka tetap peduli.
Sesampainya di kamar, Daniel duduk menghadap jendela. Angin malam membawa suara tadarus dari masjid. Ia teringat dirinya setahun lalu—masih bingung mencari arah, sering merasa kosong meski hidup tampak baik-baik saja.
Kini, ia masih sama-sama manusia dengan segala kekurangan. Masih belajar. Masih sering ragu. Tapi ada satu hal yang berubah: ia merasa memiliki tujuan.
Ramadan pertamanya bukan tentang kesempurnaan ibadah. Ia masih harus membuka catatan kecil untuk membaca doa. Masih harus melihat tutorial wudu agar tidak salah urutan. Namun justru di situlah maknanya.
Setiap kesalahan adalah pelajaran. Setiap rasa lelah adalah pengingat bahwa iman tidak datang dalam semalam.
Daniel tersenyum kecil.
Azan yang tadi ia dengar bukan hanya penanda waktu berbuka. Itu adalah panggilan untuk memulai hidup yang baru—pelan, bertahap, dan penuh harapan.
Ramadan pertamanya mungkin sederhana. Tanpa keluarga besar, tanpa hidangan istimewa. Tapi di kamar kos kecil itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Daniel merasa pulang.