Jujur, saya tidak tahu dari mana saya harus memulainya. Mungkin, lebih tepat kalau kisah ini dimulai pada saat saya mulai berbuka puasa.
Seperti biasa, sebagaimana bulan Ramadan berlangsung, umat Islam pasti langsung mengenal istilah "buka puasa", "buka bersama", "takjil", dan "salat tarawih" (yang entah mengapa, dibuat bercandaan menjadi "1024 gigawih". Bapak saya bahkan tidak paham letak lucunya walaupun beliau bekerja di perusahaan komputer).
Saya dan teman sekolah saya sudah merencanakan salah satu lokasi tempat berbuka puasa. Lebih tepatnya, saya mengajak beberapa teman sekolah dasar dan beberapa kawan sekolah menengah atas untuk makan-makan di sebuah restoran Cina di suatu mal di Jakarta Utara. Tenang saja, restoran itu sudah bersertifikasi halal dan kami sudah merencanakannya sepekan sebelum puasa dimulai. Maklum, kami ingin bertemu setelah lama hidup di dunia sendiri-sendiri.
Tidak salah, kan? Memang tidak salah, kecuali jika Anda memutuskan untuk makan sampai lupa salat magrib.
"Salat magrib, yuk." Sulaiman, biasa saya panggil Sule, langsung berjalan keluar dari restoran.
"Lah, Le. Bubur dan cumi goreng tepungnya sebentar lagi sampai, lho!" Joko menjawab ajakan Sule dengan mulut sedikit menganga. Saya pun hanya menggaruk kepala kala itu.
Ada-ada saja. Bukannya menikmati makanannya dan bicara bersama teman, ia malah pergi ke masjid. Masjid, bukan musala mal yang jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan masjid di lantai bawah mal. Sudahlah paling pendiam, ia juga sok saleh mengajak orang untuk salat duluan. Menyebalkan.
Benar saja, tiga menit setelah Sule (dan beberapa "anak kurang gaul" lainnya yang memutuskan ikut dengannya) pergi dari restoran, makanan yang mengepul panas pun tersaji di meja. Dimsum udang, bubur ayam, dan cumi goreng tepung menghias meja kami yang berisi sepuluh orang (sekarang tersisa enam orang, tanpa Sule dan tiga anak lainnya).
Kami pun mengobrol mengenai kehidupan setelah sekolah dan kuliah, lalu terhenti cepat begitu Sule si "sok saleh" itu mulai membuat iklan layanan masyarakat mengenai salat, lagi.
Kenyang sekaligus tidak begitu berminat duduk lama-lama dengan Sule, saya pergi meninggalkan teman-teman. Sebenarnya, ada alasan lain mengapa saya meninggalkan mereka: ditanya Ibu.
"Kau di mana, Nak? Sudah salat?"
Saya jawab saja dengan "Sudah" bernada enggan. Sekarang, Ibu juga mau mengganggu?
"Langsung pulang dan salat tarawih, ya."
Hah? Setelah itu, Ibu hanya mengucap salam dan menutup telepon tanpa memberi saya kesempatan bicara. Ibu pun memotret nasi dengan kornet plus keju, lalu muncul di media sosial saya, lengkap dengan kalimat, "Nak, jangan lupa, ada makanan di rumah."
Astaga. Kan, sudah saya bilang saya berbuka dengan teman! Benar-benar, deh, Ibu ini!
Naik motor, saya pun segera memarkir motor di dekat masjid rumah dan duduk di baris pertama. Beberapa menit lagi, kalian akan melihat alasan mengapa saya pulang cepat.
Ya, Ibu melihat dari pintu masjid, memastikan anaknya berada di masjid untuk salat isya dan tarawih berjamaah. Saya mengikuti salat isya, namun memutuskan untuk tidak ikut salat tarawih. Bagaimana caranya? Tentu saja kabur diam-diam bersama orang-orang dewasa yang kembali pergi untuk bekerja pada malam hari, entah menjadi pegawai mal atau pekerja restoran.
Untung saja Ibu dan Bapak tidak sadar. Saya kemudian kembali ke mal dan berharap bertemu kembali dengan teman-teman bukber. Memang, hanya tersisa dua orang, Joko dan Jodi, di mal.
"Walah, sudah pada pulang, Joni! Ke mana kau?" tanya Joko. Kebetulan dia yang mentraktir kita semua di restoran Cina tersebut.
"Gila! Pulang dulu kau habis ditelepon Emak kau? Anak Mami!" ledek Jodi. Bocah dengan rambut diikat itu memang pelawak yang sedikit urakan. Lihat saja sandal hitamnya yang sedikit aus itu. Ia tidak peduli; "yang penting percaya diri" adalah moto hidupnya.
Kami bertiga akhirnya lanjut mencari warung mi instan dekat mal. Mi kuah atau goreng yang dilengkapi kornet sapi, telur orak-arik, sawi, keju, dan emping dengan harga dua puluh ribu rupiah menjadi "camilan" kegemaran kami. Bahkan, kalau kami bertiga disuruh membuat negara sendiri, mungkin mi instan warung ini akan jadi makanan nasional kami.
Makan dan minumlah kami (lagi) sampai kenyang hingga jam tangan menunjukkan pukul 21.30 WIB.
Tunggu, 21.30 WIB? Sial! Harus segera pulang!
Dengan langkah (dan gerak motor) terburu-buru hingga banyak klakson berbunyi, saya sampai di rumah lima belas menit kemudian. Pintu terbuka; Bapak dan Ibu spontan memberi saya "wejangan dua jam" sampai saya bosan mendengarnya.
Masuk kamar, matikan lampu, langsung tidur. Bosan saya dimarahi orang tua terus. Mengapa saya tidak bisa bebas seperti Joko dan Jodi, ya?
Entah mengapa, saya terbangun lagi beberapa menit kemudian. Tahu-tahu, waktu berjalan sangat cepat. Tiba-tiba, saya sudah dekat waktu magrib.
Ya, kali ini saya berbuka di rumah. Makan nasi dengan kornet sapi dan telur ayam, ditambah keju dan siraman kuah kari ayam khas Jepang. Seharusnya, ini menjadi makanan favorit saya. Mengapa saya merasa kembung setelah selesai makan, ya?
Setelah salat magrib dan mendengar azan salat isya, saya salat isya berjamaah di masjid. Anehnya, perut saya terasa seperti diare. Saya memang untungnya tidak punya keinginan buang air besar. Namun, perut saya terasa sakit sekali, melilit, dan rasanya seperti habis ditinju preman jalanan.
Rasa sakitnya makin menjadi setelah selesai salat tarawih. Saya langsung lari ke rumah dan menuju kamar mandi. Lagi, aneh sekali. Rasanya mulas, tetapi tidak ada keinginan buang air besar.
Rupanya, keanehan itu berlanjut keesokan harinya. Joko dan Jodi mengajak saya salat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah mereka. Ya, Joko dan Jodi bertetangga dekat dan mereka berdua berteman sejak SD.
Kami berboncengan tiga di motor Jodi. Begitu melewati perempatan, saya hanya sempat mendengar klakson kencang dari sisi kanan sebelum kami bertiga tiba-tiba terlempar dari motor.
Ah! Hanya mimpi! Tetapi, seram sekali akhir mimpinya! Setelah "tertabrak", kepala saya "menghantam aspal" dan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang.
Entah mengapa, sampai sekarang saya masih terbayang kekacauan perempatan jalan yang terlalu mengerikan untuk masuk televisi.
Tunggu, mengapa ada bendera kuning dan keranda di depan rumah?