Dari Jeruji ke Iqomah

Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Dari Jeruji ke Iqomah
Ilustrasi bilal masjid (AI/Nano Banana)

Langit senja di kampung itu selalu berwarna jingga saat Ramadan. Dari balik jendela kecil rumah kontrakan yang baru ia tempati, Farid memandangi kubah Masjid Al-Ikhlas yang dulu begitu akrab baginya. Bedanya, kini ia kembali bukan sebagai pemuda yang penuh amarah, melainkan sebagai mantan narapidana yang mencoba menata ulang hidupnya.

Empat tahun lalu, Farid pergi dari kampung dengan kepala tertunduk dan borgol di pergelangan tangan. Kasus perkelahian yang dipicu dendam lama menyeretnya ke penjara. Ia kehilangan banyak hal: kepercayaan orang tua, hormat tetangga, bahkan dirinya sendiri. 

Di balik jeruji, Ramadan pertama ia sambut tanpa antusias apalagi euforia. Bahkan Ramadan terasa seperti hukuman tambahan. Ia berpuasa bukan karena kesadaran, tetapi karena tak punya pilihan. Namun, justru di sanalah sesuatu berubah.

***

Suatu malam Ramadan di dalam lapas, seorang ustaz relawan berkata, “Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk disentuh ampunan Tuhan.” 

Kalimat itu menancap dalam dada Farid. Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena marah, melainkan karena merasa masih diberi kesempatan.

Sejak itu, Ramadan demi Ramadan dihabiskannya dengan membaca Al-Qur’an di sudut sel. Ia belajar menahan emosi, belajar meminta maaf pada dirinya sendiri. Ketika masa hukumannya selesai, ia pulang dengan satu tekad untuk hidup sederhana tapi bersih.

***

Tiba masa hukuman Farid usai, saatnya pulang ke kamoungnya lagi. Kepulangannya tak disambut hangat. Beberapa tetangga berbisik saat ia lewat. Anak-anak kecil memandangnya dengan rasa ingin tahu bercampur takut. 

Farid tak menyalahkan mereka. Ia tahu, kepercayaan tak bisa diminta tapi harus dibangun. Kesempatan itu datang dari Pak Haji Karim, ketua takmir Masjid Al-Ikhlas. 

“Kalau kau mau berubah, bantu saya di masjid. Jadi marbot. Bersihkan lantainya, siapkan air wudu, bangunkan sahur,” katanya suatu sore menjelang Ramadan. Farid mengangguk tanpa ragu.

Sejak malam pertama tarawih, ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Tangannya yang dulu terbiasa mengepal kini terbiasa memeras kain pel dan menyusun sandal jamaah. Ia mengecek pengeras suara, menyiapkan sajadah tambahan, dan memastikan kamar mandi bersih. Tak ada upah besar, hanya uang seadanya dan kadang sebungkus nasi dari jamaah.

Namun setiap kali azan magrib berkumandang, hatinya terasa penuh.

***

Suatu malam, hujan deras mengguyur kampung tepat sebelum waktu berbuka. Listrik padam. Jamaah panik karena masjid gelap gulita. Farid berlari ke gudang, menyalakan genset tua yang lama tak dipakai. Tangannya belepotan oli, bajunya basah kuyup. Beberapa menit kemudian, lampu masjid menyala kembali, disambut takbir kecil dari para jamaah.

Di antara kerumunan itu, seorang anak kecil mendekatinya. “Om Farid hebat ya, masjidnya jadi terang lagi.”

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokannya tercekat. Dulu namanya disebut dengan nada sinis. Kini, ada pujian polos dari seorang anak.

Perlahan, sikap warga berubah. Ibu-ibu mulai menyapanya lebih dulu. Para bapak mengajaknya berbincang setelah tarawih. Bahkan, suatu sore Pak Haji memintanya menggantikan bilal yang berhalangan. Suaranya bergetar saat melantunkan iqamah, tapi ia merasakan kedamaian yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

***

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, Farid memilih i’tikaf di masjid. Dalam sujud panjangnya, ia berbisik, “Ya Allah, kalau Engkau masih memberiku kesempatan, jadikan aku orang yang bermanfaat.”

Malam itu, ia teringat wajah ibunya yang meninggal saat dirinya masih di penjara. Penyesalan itu tak akan pernah hilang sepenuhnya. Tapi ia percaya, setiap lantai masjid yang ia pel, setiap sandal yang ia rapikan, adalah doa yang diam-diam ia kirimkan untuk sang ibu.

***

Idulfitri tiba. Setelah salat, warga saling bersalaman. Farid berdiri agak di belakang, ragu untuk maju. Tiba-tiba Pak Haji menggandeng tangannya dan membawanya ke tengah jamaah.

“Kalau Ramadan ini masjid kita terasa lebih hidup, salah satunya karena Farid,” ucapnya lantang.

Hening sejenak, lalu satu per satu orang menyalami Farid. Beberapa memeluknya erat. Untuk pertama kalinya sejak ia bebas, Farid merasa benar-benar pulang.

Ramadan mengajarkannya bahwa tobat bukan sekadar janji di bibir, melainkan kerja sunyi yang konsisten. Ia mungkin tak bisa menghapus masa lalu, tetapi ia bisa menulis bab baru.

Dan di antara gema takbir yang menggema di langit kampung, Farid tersenyum. Bukan lagi sebagai mantan narapidana, melainkan sebagai marbot masjid yang menemukan cahaya di tempat yang dulu terasa paling gelap.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak