Hikk!
Na sudah lupa, kapan tepatnya ia seringkali mengalami cegukan dalam satu hari. Cegukan yang gadis berkacamata itu tidak tahu disebabkan karena apa. Na cukup yakin, saat sahur tadi ia tidak makan sampai kekenyangan atau terlalu terburu-buru menyantap hidangan, yang merupakan salah satu penyebab cegukan yang ia tahu.
Cegukan Na itu beda. Ia bisa cegukan kapan saja, setiap saat, tak kenal waktu, tidak melulu karena kerongkongan yang terganjal makanan. Parahnya lagi, sekarang bulan Ramadhan. Jika sehari-hari saat cegukan itu terjadi, Na bisa langsung meneguk air mineral.
Hal itu tentu tak dapat ia lakukan, karena ia sedang berpuasa, walau sejujurnya gadis itu pun tergoda juga untuk membatalkan puasa. Namun, ia juga tahu, minuman tak selalu membantu, hanya meringankan saja. Sayang rasanya kalau batal puasa cuma gara-gara cegukan.
Hiikk ...!
"Duh, kasihan cucu Wak. Kapan berhentinya cegukan kamu, Na? Tidak tega Uwak dengarnya." Wak Syarif, kakek si gadis berkacamata, keluar dari kamar mandi. Mukanya basah oleh jejak-jejak air wudhu.
"Nggak tahu jugalah, Wak. Na udah capek cegukan melulu dari pagi," jawab Na, diiringi dua buah cegukan besar.
"Ujian puasa itu namanya. Kamu yang sabar. Orang lain diuji kesabaran berpuasanya dengan yang lebih berat, kamu diuji Allah dengan cegukan. Ikhlas saja menjalaninya, ya?"
Na mengangguk kecil, kembali terceguk. Azan Zuhur sedang berkumandang, Wak Syarif gegas menuju ke surau. Na pun segera melenggang ke arah kamar mandi untuk berwudhu.
***
"Lima kilo!" Pekerja Wak Syarif berteriak begitu melihat angka yang tertera pada timbangan barang.
"Tumben sedikit sekali kamu dapatnya, Jak. Apa karena puasa jadi nggak lama-lama keliling cari barang rongsok?"
"Iya, memang itu sebabnya, sih, Wak. Lagian bapak di rumah belum sehat betul, jadi nggak tega ninggalin lama-lama."
Wak Syarif manggut-manggut. Ia menyuruh salah seorang pekerjanya menurunkan barang rongsok milik anak lelaki yang dipanggilnya 'Jak' tadi dari timbangan. Lelaki setengah abad bertubuh tambun itu lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas kulit imitasi berwarna hitam dan memberikannya pada lelaki bertopi pet itu.
"Loh, kok, banyak betul, Wak? Hasil saya hari ini, kan, nggak banyak?"
"Nggak apa-apa, ambil saja. Buat tambahan berobat bapakmu, Jak."
Anak lelaki berusia dua belas tahun itu tak dapat menahan haru. Buru-buru ia meraih tangan Wak Syarif, menciumnya takzim lalu membisikkan ucapan terima kasih.
"Semoga Allah melipatgandakan rezeki Wak Syarif, memberi keberkahan dan kesehatan untuk Wak sekeluarga."
"Aamiin allahumma aamiin. Semoga bapakmu pun lekas diberi kesembuhan oleh Allah Swt ya, Jak."
Anak lelaki itu mengamini lantas berlalu dari kediaman Wak Syarif dengan suka cita.
Na mengamati semua itu dari balai bambu yang berada di bawah pohon kersen di halaman belakang rumah kakeknya, yang juga berfungsi sebagai lapak barang rongsok.
Wak Syarif memang seorang pengepul barang rongsok. Pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata, tapi usaha inilah yang telah menopang hidup Na dan keluarganya. Sejak usaha ayahnya gulung tikar dan mereka sekeluarga terpaksa kembali ke kampung halaman, Wak Syarif-lah, orangtua dari sang ayah, yang kemudian mengajak mereka tinggal bersama.
Kakeknya pula yang mengajarkan ayah Na seluk-beluk pekerjaan pengepul. Beliau juga memberikan modal usaha, agar ayahnya bisa membuka usaha yang sama di kota yang hanya berjarak dua jam perjalanan dari kampung ini.
Na dan ibunya semula ikut kembali ke kota. Tapi, sudah sebulan ini mereka berdua menetap di kampung untuk menjaga dan mengurusi keperluan sang kakek, setelah sang nenek meninggal dunia dua bulan lalu.
"Wak nggak rugi kasih uang sebanyak itu ke Jakaria?" Gadis lima belas tahun itu segera bertanya begitu sang kakek ikut duduk di balai bambu bersamanya. Lelaki tua berjenggot rapi itu terkekeh geli mendengar pertanyaan cucunya, sekaligus terenyuh, karena sang cucu terceguk-ceguk di antara pertanyaannya.
"Besok kita pergi ke rumah sakit di kota, ya. Peralatan di sana pasti lebih lengkap. Wak penasaran kenapa cegukan kamu itu tidak pernah hilang. Sejak dulu cegukanmu itu apakah tidak pernah diperiksakan, Na?"
Na menggeleng. Lantas terceguk dua kali sebelum menjawab, "Belum pernah, Wak. Paling tiap cegukan, ibu sama ayah kasih saran ini itu supaya cegukanku hilang."
"Ini itu bagaimana?" Wak Syarif mengernyitkan dahi.
"Yaa …, Na disuruh tahan napas yang lama. Lain waktu disuruh napas dari kantong kertas. Pernah juga disuruh tarik kaki ke arah dada."
"Hahh? Berhasil?"
Na cegukan sekali dengan nyaring sebagai jawabannya.
"Wak cuma khawatir ada apa-apa di balik cegukanmu itu. Soalnya kamu bisa tiap lima belas menit sekali cegukan, bahkan hari ini lebih sering. Tapi, semoga tidak ada apa-apa, ya."
Na mengangguk. Lalu sedikit merengut ketika teringat sesuatu. "Wak tadi belum jawab pertanyaan Na."
"Yang mana?"
"Soal si Jakaria tadi."
"Oh, itu." Wak Syarif tersenyum kecil. "Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali ia bertambah, bertambah, dan bertambah. Begitu kata Rasulullah. Kamu pernah dengar, kan?"
"Pernah. Tapi Wak suka begitu ke orang. Apalagi sering juga ada yang datang minta bantuan. Na takut saja kalau kebaikan Wak dimanfaatin orang."
"Huush, suudzon itu namanya. Nggak baik." Wak Syarif mengingatkan cucunya yang disambut dengan cegukan ringan.
"Allah Swt itu Maha Pemberi Rezeki, karenanya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan ataupun membuat kita menjadi miskin," lanjut sang kakek.
"Bersyukur atas segala yang kita punya, Na. Semakin kita bersyukur, semakin kita merasakan keberkahan pada harta kita."
"Iya, Wak." Na menunduk. Merasa malu atas pikiran buruk yang sempat tersemat di otaknya.
"Demikian pula kamu, harus bersyukur pada cegukan yang kamu alami ini, Na. Mungkin itu cara Allah menguji puasamu. Mungkin tadinya kamu punya niat membatalkan puasa, supaya bisa minum dan cegukanmu berhenti sesaat. Entahlah. Tapi, kamu memilih tetap menjaga puasamu dan berarti kamu sudah lulus ujian. Wak ikut bersyukur karena kamu tetap menjaga puasamu."
Semburat merah mewarnai pipi Na. Memang itulah yang sempat terpikir olehnya, tapi untungnya ia tidak melakukannya.
Angin semilir membawa aroma barang-barang rongsok. Na bersyukur atas pelajaran bersedekah yang diberikan kakeknya hari ini. Ia menjadi lebih ikhlas menjalani puasa, walaupun harus dihiasi oleh cegukan yang tiada henti.
Hiikk!