Denting sendok yang beradu dengan piring porselen putih terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahan Anisa. Ia tak menatap suaminya, Husain, yang mengunyah kurma dengan gerakan terukur, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendapati surat berkop kantor hukum tergeletak di samping gelas airnya.
Anisa menekan ujung jarinya pada permukaan meja jati yang dingin, merasakan butiran keringat dingin merembes dari telapak tangannya. Tidak ada pembukaan tentang bagaimana fajar sedang bersiap atau bagaimana kesunyian masjid di kejauhan merayu jiwa; baginya, realitas hanya hadir dalam bentuk hitam di atas putih yang menuntut sebuah pengakhiran.
“Makanlah, Mas. Waktu imsak tidak akan menunggu niatmu yang masih tersangkut di tenggorokan,” suara Anisa memecah kesunyian, datar tanpa gelombang, seolah-olah ia baru saja meminta suaminya menambah porsi nasi, bukan menyerahkan dokumen pengakhiran sebuah asmaraloka.
Husain berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya dengan presisi seperti seorang ahli bedah. Di bawah sorot lampu neon dapur yang pucat, wajah Husain tampak seperti topeng porselen yang tidak bercelah.
Ia adalah seorang lelaki yang di luar rumah dipuja sebagai mercusuar moralitas, namun di rumah ini, ia hanyalah jelaga yang telah lama mematikan cahaya di mata istrinya.
“Kau memasukkan terlalu banyak kepahitan dalam air sahur ini, Anisa,” Husain akhirnya bersuara.
Suaranya parau, bukan karena haus, melainkan karena keangkuhan yang mulai retak. Ia masih enggan menyentuh kertas itu, seolah-olah jika ia menyentuhnya, seluruh reputasi "keluarga sakinah" yang ia bangun selama sepuluh tahun akan meledak seketika.
Anisa tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang terasa lebih perih daripada goresan silet.
“Ramadan kali ini, aku hanya ingin kita berhenti berpuasa dari kejujuran, Mas. Kita sudah terlalu lama berpuasa dari kenyataan bahwa rumah ini sudah roboh sebelum rayap-rayap sempat mencicipi kayu plafonnya.”
Tangan Husain yang masih memegang gelas air putih tampak bergetar hebat secara literal. Ia menatap Anisa dengan tatapan yang berusaha mencari celah "dosa" agar ia bisa kembali menghakimi.
“Bukankah ini bulan penuh ampunan atau aksama? Kenapa kau justru memilih untuk menebar benih perpisahan tepat saat kita seharusnya saling mendekatkan diri pada Sang Pencipta?”
“Justru karena ini bulan yang suci, aku tidak ingin kita terus bersandiwara di hadapan-Nya, Mas. Kau sibuk mencari pahala dengan memberi makan ribuan fakir di luar sana, sementara istrimu sendiri kelaparan akan pengakuan di bawah atap ini. Kau adalah orang paling dermawan bagi dunia, namun paling kikir bagi jiwaku,” Anisa menggeser kertas itu tepat di bawah hidung Husain.
“Tanda tangani. Anggap saja ini adalah sedekah terakhirmu untuk kemerdekaanku.”
Suasana di meja sahur itu menjadi kaku, lebih kaku daripada kain kafan jati yang baru keluar dari lipatan. Husain meraih bolpoin yang selalu terselip di saku baju koko-nya baju yang selalu tampak rapi dan tanpa noda, simbol kepalsuan yang Anisa cuci setiap pagi dengan air mata yang ia sembunyikan.
Husain menorehkan tanda tangannya dengan satu tarikan napas yang berat. Ia tidak menoleh lagi saat ia bangkit, meninggalkan separuh nasinya yang masih mengepul, lalu melangkah menuju tempat wudhu dengan punggung yang tampak tiba-tiba membungkuk.
Anisa tetap duduk di kursinya, menatap sisa-sisa sahur yang kini terasa hambar. Ia merasakan sebuah ketajaman refleksi yang menghunjam: bahwa "Sepotong Kisah Ramadhan" miliknya tahun ini bukanlah tentang kemenangan Idul Fitri, melainkan tentang keberanian untuk menghancurkan jembatan kepalsuan agar ia bisa benar-benar bernapas kembali. Ibadah yang paling berat di bulan suci ini bukanlah menahan lapar di siang hari yang mendidih, melainkan keberanian untuk tetap jujur meski konsekuensinya adalah kehilangan perlindungan sosial yang selama ini ia nikmati.
Di luar, suara adzan subuh mulai berkumandang dari masjid desa, sebuah penanda bahwa pintu rezeki makanan telah tertutup. Namun bagi Anisa, suara itu terdengar seperti proklamasi pembebasan. Ia meraih gelas air putihnya, meminumnya perlahan hingga tetes terakhir, merasai sensasi dingin yang sejuk mengalir di kerongkongannya. Ia tidak lagi merasa masygul. Ia melihat pantulan wajahnya di permukaan gelas seorang wanita yang matanya kini tak lagi redup oleh kabut rahasia.
Anisa melipat surat itu, menyimpannya di balik kain sejadahnya yang polos. Ia berjalan menuju ruang tengah, menggelar kain ibadahnya, dan bersujud. Kali ini, sujudnya terasa lebih ringan, tanpa beban benang-benang emas kepalsuan yang selama ini mengikat lehernya. Ramadan adalah jeda, dan di dalam jeda itulah, ia akhirnya belajar bagaimana cara menjadi manusia yang benar-benar hidup tanpa perlu mencuri ampunan dari balik jubah kemunafikan.
Ketika ia mengucap salam terakhir dalam shalatnya, cahaya arunika mulai menyelinap masuk dari celah ventilasi, menerangi meja sahur yang kini telah bersih dari segala beban rahasia. Anisa bangkit dengan kepala tegak, tidak lagi menunggu "besok" untuk menjadi bahagia, karena hari ini, ia telah resmi berpuasa dari kepalsuan selamanya.