Kicak dan Lorong Sempit Kauman Penjaga Memori Kuliner Mataram Islam

Hayuning Ratri Hapsari | YESRUN EKA SETYOBUDI
Kicak dan Lorong Sempit Kauman Penjaga Memori Kuliner Mataram Islam
Suasana Pasar Sore Ramadan Kauman (Freepik.com)

Ramadan di Yogyakarta selalu menyuguhkan atmosfer yang berbeda, sebuah perpaduan antara kesalehan ritual dan kemeriahan budaya yang terjaga selama berabad-abad. Jika kita menepi sejenak dari hiruk-pikuk Jalan Malioboro dan melangkah masuk ke Jalan KH Ahmad Dahlan, kita akan menemukan sebuah lorong sempit yang menjadi urat nadi sejarah: Kampung Kauman. Di sini, setiap jengkal paving block dan rumah-rumah lawas yang saling berhadapan seolah menyimpan bisikan masa lalu. Lorong selebar kurang lebih dua meter ini bukan sekadar jalan pemukiman, melainkan sebuah koridor waktu yang menghubungkan masyarakat modern dengan akar peradaban Mataram Islam. Melalui tradisi kuliner yang muncul setahun sekali, Kauman menegaskan posisinya sebagai penjaga memori kolektif yang tak lekang oleh zaman.

Berbicara tentang Kauman tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Masjid Gedhe Kauman pada tahun 1773. Melansir dari catatan sejarah tata ruang Jawa, pemukiman ini pada awalnya dirancang khusus untuk para abdi dalem "kaum" atau pejabat keagamaan Kesultanan Yogyakarta. Sebagai bagian dari struktur birokrasi kerajaan, warga Kauman memiliki kedekatan intelektual dan sosiokultural dengan istana, yang kemudian tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk selera kuliner mereka. Dalam konteks inilah kita mengenal kicak, sebuah kudapan mungil yang kehadirannya di lorong sempit Kauman menjadi pertanda bahwa bulan suci telah tiba. Kicak bukan hanya urusan perut, melansir dari perspektif sosiokultural, ia adalah representasi dari adaptasi kuliner keraton yang diserap oleh masyarakat biasa.

Pedagang di Kauman berjualan kicak, Rabu (29/4/2020). Kicak merupakan kudapan khas Ramadan di Jogja yang kerap dijajakan di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Pedagang di Kauman berjualan kicak, Rabu (29/4/2020). Kicak merupakan kudapan khas Ramadan di Jogja yang kerap dijajakan di Kampung Kauman, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Keunikan kicak terletak pada kesederhanaan bahan yang diolah dengan ketekunan tinggi. Kudapan ini terbuat dari jadah atau ketan yang ditumbuk halus, dicampur dengan gula, parutan kelapa muda, potongan buah nangka, serta aroma vanili dan pandan yang harum. Menurut sejarah lisan yang berkembang di masyarakat Jogja, sosok legendaris di balik terciptanya kicak adalah Mbah Wono, atau yang memiliki nama asli Sujilah, yang mulai menjajakan makanan ini sekitar tahun 1950-an. Mbah Wono yang merupakan istri dari seorang mantri di RS PKU Muhammadiyah, awalnya membuat kicak sebagai pelengkap dagangan untuk membantu ekonomi keluarga. Siapa sangka, kreativitas dari sebuah dapur kecil di pedalaman lorong Kauman ini kemudian tumbuh menjadi ikon kuliner yang diburu oleh ribuan orang setiap tahunnya.

Ada sebuah paradoks menarik yang menyelimuti keberadaan kicak di Yogyakarta. Meskipun bahan-bahannya seperti ketan dan nangka tersedia sepanjang tahun, kicak secara "tradisional" hanya muncul selama bulan Ramadan. Berdasarkan keterangan para pedagang senior di Kauman, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa kicak adalah milik bulan puasa. Menyadur dari pengakuan Retno, anak dari Mbah Wono, kicak tetap dipertahankan dengan bungkusan daun pisang untuk menjaga aroma dan keaslian rasanya, meskipun saat ini banyak produsen lain yang mulai beralih menggunakan kemasan plastik mika. Eksklusivitas waktu ini memberikan nilai spiritual pada kicak; ia menjadi pengingat siklus tahunan yang menghubungkan kerinduan lidah dengan momen refleksi diri di bulan suci.

Eksistensi kicak didukung kuat oleh keberadaan Pasar Sore Ramadan Kauman yang kini telah berusia tiga dekade. Mengutip dari data sejarah lokal, pasar tiban ini mulai dikelola secara resmi oleh pengurus RW setempat pada 1 Ramadan 1416 Hijriah atau bertepatan dengan 22 Januari 1996. Bermula dari inisiatif para tokoh kampung untuk mengoordinasi ibu-ibu yang berjualan secara terpencar, pasar ini bertransformasi menjadi pasar Ramadan tertua dan paling autentik di Yogyakarta. Berdasarkan fakta terbaru di tahun 2026, setidaknya terdapat sekitar 60 stan yang berjejer rapat di sepanjang gang sepanjang 200 meter tersebut. Keterbatasan ruang di lorong sempit ini justru menciptakan keintiman sosial yang unik, di mana pembeli harus berjalan perlahan dan saling bertegur sapa, sebuah kontradiksi dari budaya belanja modern yang serba cepat dan individualis.

 Analisis mendalam mengenai fenomena kuliner di Kauman menunjukkan adanya upaya resiliensi budaya yang luar biasa. Selain kicak, lorong ini juga memperkenalkan kita pada songgo buwono, sebuah kue sus isi ragout ayam yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Melansir dari penjelasan ahli sejarah pariwisata, kehadiran makanan seperti songgo buwono dan kicak di tengah masyarakat menunjukkan betapa cairnya batas budaya antara tembok keraton dan pemukiman warga. Kuliner di sini bertindak sebagai instrumen demokrasi budaya, di mana rakyat biasa dapat mencicipi "kemewahan" rasa yang dahulu mungkin hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan, namun tetap dalam koridor nilai-nilai lokal yang sederhana.

Secara ekonomi, perputaran uang di lorong sempit Kauman selama Ramadan memberikan dampak signifikan bagi UMKM lokal. Berdasarkan data ekonomi terbaru di tahun 2026, harga sebungkus kicak masih dipertahankan pada rentang yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 saja. Meskipun harganya ekonomis, kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama. "Kicak Mbah Wono tetap yang paling dicari karena rasanya beda, ada ruh sejarahnya," ujar seorang pengunjung setia yang sudah belasan tahun rutin datang ke Kauman. Hal ini membuktikan bahwa di era gempuran kuliner viral yang sering kali hanya mengandalkan estetika visual, kekuatan narasi sejarah dan konsistensi rasa tetap memiliki pangsa pasar yang setia di hati masyarakat.

Menariknya, tantangan terbesar bagi kelestarian memori kuliner di Kauman bukan terletak pada persaingan modal, melainkan pada regenerasi. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pembuat kicak asli yang memahami teknik pengolahan tradisional semakin berkurang. Namun, harapan muncul dari semangat warga lokal yang tetap menjaga standar kurasi di Pasar Sore Kauman. Berdasarkan keterangan pengurus pasar, syarat utama untuk berjualan di sini adalah kehalalan dan keaslian produk, guna menjaga marwah Kauman sebagai kampung religius. Upaya ini memastikan bahwa setiap bungkus kicak yang dibawa pulang oleh pembeli adalah pesan dari masa lalu yang berhasil diselamatkan untuk masa depan.

Pada akhirnya, kicak dan lorong sempit Kauman adalah pengingat bagi kita semua bahwa identitas sebuah bangsa sering kali tersimpan dalam hal-hal kecil yang kita anggap remeh. Kicak mengajarkan tentang kesabaran dalam menumbuk ketan, kelembutan rasa nangka, dan kehangatan aroma pandan yang semuanya berpadu dalam syukur setelah seharian berpuasa. Ramadan 2026 ini, lorong Kauman kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar tempat berburu takjil, melainkan sebuah museum hidup bagi memori kuliner Mataram Islam. Selama kicak masih terhidang di atas meja-meja kayu sepanjang gang sempit itu, maka selama itulah identitas budaya Yogyakarta akan tetap tegak berdiri, menolak untuk larut dalam arus modernitas yang tak berjiwa.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak