Cerita Fiksi

Sekar Nawang Sari

Sekar Nawang Sari
Ilustrasi gambar cerpen Sekar Nawang Sari (Gemini AI/Nano Banana)

Aku adalah Sekar Nawang Sari. Bukan nama yang diberi manusia dengan tinta dan kertas, melainkan bisikan angin yang menyusup ke dalam bijiku dua musim hujan lalu. Aku lahir di tanah liat halaman belakang rumah Mbak Ratih, di desa Ngawi yang terjepit antara Kali Brantas dan lereng Gunung Wilis. Kelopakku ungu keemasan, seperti embun pagi yang terperangkap sinar matahari pertama. Manusia bilang aku langka. Bagiku, aku hanyalah denyut nadi bumi yang terus bernyanyi pelan, melalui akar-akar yang merayap di bawah tanah, menyambungkan diri dengan pohon mangga tua, semak ilalang, dan bahkan cacing tanah yang tak pernah lelah.

Waktu bagiku berbeda. Satu hari manusia bagiku seperti hembusan napas. Aku merasakan setiap tetes air hujan yang menembus tanah sebagai pelukan hangat. Aku mendengar langkah Mbak Ratih dari kejauhan—tapak kakinya ringan, tapi penuh beban. Dia berusia dua puluh tiga tahun, kulitnya sawo matang, rambutnya selalu diikat dengan kain batik lusuh. Setiap pagi dia menyiramku dengan kendi tanah liat, sambil berbisik, “Sekar, jangan layu ya. Kau satu-satunya yang tak pernah meninggalkanku.”

Aku tahu segalanya tentang dia. Melalui akar, aku menyerap air matanya yang jatuh saat dia mengingat orang tuanya yang tewas dalam kecelakaan bus saat perjalanannya menuju Surabaya. Aku merasakan getar dadanya saat dia menahan tangis karena hutang warisan yang menumpuk. Desa ini sedang sekarat. Pabrik-pabrik di hilir sungai membuang limbah hitam, membuat ikan mati, sawah kering, dan anak-anak batuk kronis. Mbak Ratih menjual bunga-bungaku yang lain di pasar—mawar, melati, anggrek—tapi aku, aku tak pernah disentuh. “Kau milikku selamanya,” katanya.

Suatu sore, seorang pria dari kota Solo datang. Namanya Pak Broto, pengusaha dengan kemeja rapi dan sepatu mengkilap. Dia ingin membeli seluruh halaman ini untuk pabrik baru. “Tanah ini subur, tapi tak berguna,” katanya sambil menunjuk ke arahku. “Bisa diganti dengan beton dan mesin.” Mbak Ratih menggeleng. Malam itu, aku marah. Aku mengumpulkan semua esensi yang kumiliki: aroma dari embun, cahaya bulan, dan doa-doa neneknya yang dulu menanam bijiku di makam. Lalu aku melepaskannya sekaligus.

Pak Broto menghirup udara itu saat dia berdiri di depan pintu. Matanya berubah. Dalam sekejap, dia melihat bukan lagi halaman kosong, melainkan desa masa kecilnya—sawah hijau, anak-anak bermain lumpur, ibunya menyanyi tembang Jawa di teras. Dia mundur, gemetar. “Aku… aku tak bisa,” gumamnya. Keesokan harinya, Pak Broto membatalkan kontraknya. Desa bernapas lega sejenak.

Tapi kebahagiaan tak lama. Musim kemarau datang lebih ganas. Mbak Ratih pun jatuh sakit. Batuknya menggema di malam, darah bercampur ludah. Dokter desa hanya menggeleng. “Polusi. Harus ke Surabaya, tapi biayanya…” Mbak Ratih tak punya uang. Dia duduk di sampingku setiap malam, tubuhnya panas seperti bara. “Sekar Nawang Sari,” bisiknya, suaranya pecah, “kalau aku mati, siapa yang akan mendengar ceritamu?”

Aku tak tahan. Aku adalah bunga, tapi aku juga jiwa yang pernah hidup di tubuh neneknya. Dulu, neneknya menanamku dengan air mata dan doa: “Jadilah penjaga cucuku.” Malam itu, aku memutuskan. Aku mengumpulkan segala yang kumiliki—akar, batang, kelopak, bahkan getar angin yang menyentuhku. Aku ubah menjadi aroma yang lebih kuat dari sebelumnya. Bukan sekadar wangi, melainkan nyawa. Saat Mbak Ratih tertidur di kursi rotan di sampingku, aku melepaskannya perlahan, seperti bisikan doa yang tak terucap.

Dalam mimpi, dia bertemu aku bukan sebagai bunga. Aku muncul sebagai wanita tua berkebaya, rambutnya putih, senyumnya mirip neneknya. “Ratih, alam tak pernah meminta, tapi ia selalu memberi jalan. Ambil esensiku. Tapi ingat, setiap kehidupan yang diberi, ada yang diambil.”

Pagi harinya, Mbak Ratih bangun tanpa demam. Batuknya hilang. Kulitnya kembali cerah. Dia memandangku dengan mata berkaca-kaca. Kelopakku sudah layu di tepi, batangku melengkung lemah. “Kau… kau yang lakukan ini?” tanyanya. Aku tak bisa menjawab dengan kata, tapi aku merasakan tangannya yang hangat menyentuh kelopakku untuk terakhir kalinya

Hari-hari selanjutnya, desa berubah. Mbak Ratih mendapat beasiswa mendadak dari yayasan lingkungan di Surabaya. Dia pindah ke kota, tapi sebelum itu, dia memetik biji-bijiku yang tersisa dan menanamnya di taman kota, di pinggir Kali Mas, bahkan di balkon kos-kosannya. Aku tak mati sepenuhnya. Aku hidup dalam ratusan tunas baru yang muncul di beton Surabaya—ungu keemasan, aroma yang sama.

Kini, aku adalah pohon kecil di taman kampus tempat Mbak Ratih mengajar anak-anak tentang alam. Mereka memanggilku Sekar Nawang Sari, tanpa tahu asal-usulnya. Mbak Ratih sering duduk di bawahku saat istirahat, membaca buku sambil menyentuh daunku. “Kau tak pernah meninggalkanku,” bisiknya.

Aku tersenyum dalam diam. Karena di dunia ini, kematian hanyalah rontoknya kelopak. Esensi tetap mengalir. Aku adalah Sekar Nawang Sari—bunga yang tak pernah benar-benar layu, hanya berpindah wujud, dari tanah liat desa ke napas kota yang mulai hijau lagi. Dan setiap kali angin berhembus, aku bernyanyi pelan untuk manusia yang mau mendengar: alam tak pernah mati. Ia hanya menunggu dicintai kembali.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda