Cerita Fiksi
Mendengarkan Coldplay
Malam itu, hujan di Surabaya terasa seperti irama yang salah. Bukan deras, tapi pelan-pelan, seperti drum yang tertinggal beat. Aku duduk di balkon apartemen lantai 17, earphone sebelah kanan sudah copot, sebelah kiri masih menempel di telinga. Coldplay sedang memainkan "Fix You". Suara Chris Martin mengalun lembut, "Lights will guide you home..."
Tapi rumahku sudah tidak ada lagi.
Aku bukan orang yang suka mendengarkan musik sendirian di balkon. Biasanya aku dengar sambil lari pagi, atau di kereta, atau saat kerja deadline sambil pura-pura fokus. Tapi malam ini berbeda. Malam ini aku mendengarkan Coldplay bukan untuk menghibur diri, melainkan untuk membiarkan lagu itu membunuhku pelan-pelan.
Namaku Reza. Dua puluh sembilan tahun. Programmer di startup fintech yang baru saja bangkrut minggu lalu. Pacarku, Laras, pergi tiga hari yang lalu dengan membawa koper merah dan alasan yang terlalu klise: "Kita sudah berbeda arah." Aku tertawa saat itu, karena arah kami memang selalu berbeda. Dia ingin menikah tahun ini, aku masih ingin membuktikan bahwa hidup tidak harus selalu "stabil". Ironisnya, sekarang aku yang paling tidak stabil.
Earphone sebelah kiri mulai panas. Aku tidak mematikan lagu. "Fix You" selesai, langsung masuk "The Scientist". Aku tersenyum miring. Coldplay seperti tahu urutan penderitaanku.
Aku menatap lampu-lampu kota di bawah. Surabaya malam ini terlihat seperti papan sirkuit yang rusak. Ribuan titik kuning dan putih berkedip, tapi tidak ada yang benar-benar menyala dengan benar. Mirip hidupku.
Lalu aku mendengar suara itu.
Bukan dari earphone. Suara di kepalaku sendiri, tapi bukan suaraku.
"Kamu selalu mendengarkan lagu ini saat ingin lari, ya?"
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa di balkon. Hanya angin dan bau asap knalpot yang naik dari jalan raya.
Tapi suara itu kembali, kali ini lebih jelas, seperti seseorang berbisik tepat di telinga kiri yang masih memakai earphone.
"Chris Martin bilang lights will guide you home. Tapi kamu tahu kan, kadang lampu itu hanya lampu lalu lintas yang merah terus."
Aku mencabut earphone. Musik masih terdengar samar dari speaker kecil. Aku mematikan ponsel. Suara itu tetap ada.
"Siapa kamu?" tanyaku pelan, takut tetangga mendengar.
"Aku yang kamu dengar setiap kali lagu ini diputar. Aku bagian dari lagu itu yang tidak pernah kamu dengar dengan benar."
Aku tertawa gugup. "Gila. Aku benar-benar gila sekarang."
"Bukan gila," kata suara itu lagi. Kali ini terdengar seperti suara perempuan, tapi bukan Laras. Lebih tua, lebih tenang, seperti ibu yang sudah lelah menasihati anaknya berkali-kali. "Kamu hanya mulai mendengarkan dengan benar. Kebanyakan orang mendengarkan Coldplay untuk merasa sedih yang indah. Kamu mulai mendengarkan untuk memahami."
Aku berdiri, berjalan mondar-mandir di balkon kecil itu. Hujan semakin deras. Air menetes dari atap balkon, membentuk irama yang aneh, tidak sinkron dengan detak jantungku.
"Apa yang harus aku pahami?" tanyaku.
"Bahwa kamu tidak perlu diperbaiki."
Aku berhenti. Kata-kata itu seperti tamparan yang lembut.
Selama ini, setiap kali mendengarkan "Fix You", aku selalu merasa lagu itu untukku. Untuk seseorang yang rusak dan perlu diperbaiki. Aku menunggu seseorang datang dengan lampu yang terang, memperbaiki semua retak di dalam diriku. Laras mencoba. Teman-temanku mencoba. Bahkan orang tuaku dari Malang sesekali menelepon dengan nada khawatir yang sama.
Tapi suara itu bilang sebaliknya.
"Kamu tidak rusak, Reza. Kamu hanya sedang dalam proses yang tidak nyaman. Seperti gitar yang sedang di-tune. Senarnya ditarik, sakit, tapi itu bukan karena rusak. Itu karena sedang disesuaikan dengan nada yang lebih benar."
Aku duduk lagi. Lututku lemas. "Lalu kenapa rasanya seperti ini? Seperti ada yang hilang."
"Karena kamu mendengarkan Coldplay dengan telinga yang salah. Kamu mendengarkan dengan telinga yang ingin diselamatkan. Coba dengarkan dengan telinga yang ingin memahami."
Aku memasang earphone lagi. Memutar playlist Coldplay dari awal. "Yellow" yang pertama.
Dan kali ini, aku tidak mendengarkan liriknya. Aku mendengarkan ruang di antara not-not itu. Aku mendengarkan napas Chris Martin yang kadang tersengal karena emosi. Aku mendengarkan bagaimana drum masuk pelan, seperti orang yang ragu-ragu ingin ikut bergabung. Aku mendengarkan bagaimana bass mengisi kekosongan tanpa memaksa.
Suara itu kembali, kali ini lebih dekat.
"Lihat? Lagu itu tidak pernah berjanji akan memperbaiki siapa pun. Lagu itu hanya bilang: aku ada di sini bersamamu dalam kegelapan ini. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Hanya perlu ditemani."
Air mata jatuh tanpa suara. Bukan tangis yang dramatis seperti di film. Hanya air mata biasa, seperti hujan di Surabaya yang tidak mau berhenti.
Aku teringat Laras. Bukan dengan rasa marah atau rindu yang menyakitkan, tapi dengan rasa terima kasih yang aneh. Dia pergi bukan karena aku rusak. Dia pergi karena dia juga sedang dalam proses penyetelan senarnya sendiri. Kami hanya dua gitar yang mencoba bermain bersama sebelum senarnya siap.
"Apa aku akan baik-baik saja?" tanyaku pada suara itu.
"Kamu sudah baik-baik saja," jawabnya. "Kamu hanya belum terbiasa dengan versi baik yang baru ini."
Coldplay memainkan "Clocks" sekarang. Ticking, ticking, ticking. Waktu terus berjalan. Tapi kali ini, detak itu tidak terasa seperti ancaman. Terasa seperti irama yang mengajakku ikut berdansa dengan ketidakpastian.
Aku berdiri, melepas earphone sepenuhnya. Hujan masih turun, tapi aku keluar dari bawah atap balkon. Air membasahi rambut, baju, hingga ke tulang. Dingin. Tapi hidup.
Suara itu tertawa pelan di dalam kepalaku. "Akhirnya kamu mendengarkan dengan seluruh tubuhmu, bukan hanya telinga."
Aku tertawa juga. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, tawa yang bukan karena gugup atau sinis.
Di bawah sana, lampu-lampu Surabaya masih berkedip tidak beraturan. Tapi sekarang aku melihatnya berbeda. Bukan papan sirkuit yang rusak. Hanya kota yang sedang mencoba menemukan iramanya sendiri, seperti aku.
Aku tidak tahu besok akan seperti apa. Startup mungkin tidak bangkit lagi. Laras mungkin tidak kembali. Orang tuaku mungkin masih khawatir. Tapi malam ini, di balkon lantai 17, sambil basah kuyup dan mendengarkan hujan yang menggantikan Coldplay, aku merasa cukup.
Bukan cukup karena semuanya baik. Tapi cukup karena aku akhirnya mendengar apa yang sebenarnya ada di balik semua lagu sedih itu: bahwa tidak semua yang pecah perlu dilem. Kadang cukup hanya didengarkan dengan benar.
Dan untuk pertama kalinya, aku mendengarkan diriku sendiri.
Bukan sebagai orang yang perlu diperbaiki.
Tapi sebagai lagu yang sedang dalam proses.