Cerita Fiksi

Segala Bentuk Keajaiban

Segala Bentuk Keajaiban
Ilustrasi lampion dan harapan (Pexels.com/Hưng Phạm)

Sebelum salah satu di antara kami pergi, kami memiliki ketakutan yang sama dengan kematian. Aku dan temanku benar-benar melakukan banyak hal untuk menyangkal tentang takdir kematian kami. Terlebih, penyakit jantung bawaan yang diderita temanku membuat kami semakin giat mencari segala cara untuk menunda kematian.

Kami pernah mengikuti pelepasan lampion di Borobudur saat perayaan Waisak. Aku mendengar dari iklan di internet mengenai perayaan Waisak dan orang Budha yang percaya jika melepas lampion sama saja dengan melepas energi negatif. Segera saja kami berangkat ke Magelang dan menyerahkan diri untuk turut berpartisipasi di semua rangkaian upacara doa hari itu.

“Aku harap lampion ini sampai di tangan Tuhan,” ucap temanku tanpa melepas pandangan dari lampion yang baru kami terbangkan. Saat itu aku memikirkan hal yang sama.

Melihat lampion kami melebur bersama ribuan lampion lain seolah tengah mencuri posisi bintang membuatku diam-diam merapalkan doa semakin dalam.

“Tuhan yang mana dulu?”

“Yang mana saja.”

Percaya atau tidak, sejak hari itu kami cenderung meminta keajaiban kepada semua Tuhan, Dewa, dan seluruh kekuatan yang ada di alam semesta. Alasan kami adalah takut. Mungkin keadaanku memang tidak seburuk temanku. Aku sehat. Dan aku rasa aku masih dapat hidup hingga lima puluh tahun lagi. Namun, membayangkan kepergian teman sekaligus satu-satunya orang yang aku punya sejak di panti asuhan membuatku cemas. Kami tidak ingin meninggalkan atau ditinggalkan.

Kemudian di bulan selanjutnya, saat usia kami sudah dua puluh, kami memutuskan menyewa satu kamar sebagai indekos yang terletak di dekat kampus. Musim kemarau pada saat itu sangat menyiksa. Siang hari akan terasa panas, tetapi saat malam suhu menjadi sangat dingin.

“Angin muson sialan!”

Dengan setengah menggigil dia mengumpat seolah-olah dengan umpatannya suhu udara dapat berubah panas. Kemudian aku memberinya selimut tambahan. Aku ke dapur dan mengisi botol minum dengan air panas untuk dia peluk.

“Atau besok kita pasang Teru-Teru Bozu?”

“Untuk apa, bodoh? Memangnya ini musim hujan.”

Teru-Teru Bozu adalah boneka kecil yang terbuat dari kain lalu dibentuk menyerupai kepala atau aku lebih suka menyebutnya “menyerupai hantu” yang digantung di depan pintu atau jendela. Boneka ini berasal dari Jepang dan anak-anak di sana percaya jika boneka ini dapat menangkal hujan.

“Siapa tahu bisa jadi penangkal dingin juga,” jawabku seperti seorang yang kehilangan kepercayaan diri.

“Bakar saja kamar ini agar panas.”

Namun, esok harinya kami benar-benar memasang Teru-Teru Bozu sebanyak lima buah di jendela kamar dan pintu masuk.

Musim dan cuaca sialan yang benar-benar membuat kami semakin ketakutan. Satu minggu setelah kami memasang Teru-Teru Bozu, kondisi temanku benar-benar memburuk. Selama sepuluh tahun aku melihatnya sakit, ini adalah kondisinya yang paling parah. Kami memutuskan kembali ke panti asuhan. Sementara dia dirawat di rumah sakit, aku mencoba mencari sumbangan dari pihak mana pun yang bersedia memberi.

Saat aku mendengar dia tidak sadarkan diri, aku mulai berdoa. Mengais segala keajaiban yang ditawarkan Tuhan. Tuhan mana pun, Dewa apa pun. Aku menulis surat, lalu menerbangkannya dengan balon helium yang kubeli dari penjual di depan rumah sakit.

Aku menulis surat, lalu melarungnya ke laut saat aku sengaja ke sana untuk melarikan diri. Aku juga mengajak seluruh anak panti untuk membuat seribu origami burung. Mungkin aku terlalu takut atau mungkin naif saat itu. Segala bentuk keajaiban yang aku inginkan adalah harapan yang semu.

“Tolong tetap hidup saat aku mati,” kalimat ini diucapkan temanku saat kami selesai memasang Teru-Teru Bozu yang terakhir.

“Aku tidak tahu.”

“Hidup memang menakutkan, tapi kematian jauh lebih menakutkan. Kita sama-sama takut kalau harus mati. Tapi yang takut pada hidup hanyalah aku, bukan kamu.”

“Kita sudah berdoa kepada seluruh Tuhan dan Dewa, mustahil jika tidak ada yang mendengar barang salah satu di antaranya.” Aku mulai kesal sekaligus takut.

“Bagaimana jika jawaban Tuhan adalah dengan memanggilku pulang?”

Kami percaya Tuhan itu baik, lebih baik dari kami yang hanya seonggok manusia kecil di dunia ini. Aku juga mulai menyadari bahwa kekuatan doa akan lebih besar dari ketakutan yang menyelimuti segala yang fana bagi kami. Tuhan abadi dan adil. Maka ketika waktu penghabisan sabahatku tiba, aku ikut menutup mata.

Lalu, pertanyaan yang menjadi pungkasan obrolan kami hari itu ternyata menjadi jawaban yang Tuhan berikan atas seluruh permohonan kami. Kubayangkan rohnya melayang melintasi segala kesakitan dan ketakutan seolah saat itu lampion yang kami bakar membawa cahaya menuju keabadianmu di samping-Nya.

Saat seluruh tubuh temanku hilang ditelan gundukan tanah, aku diam-diam menyadari. Bagaimanapun dan apa pun upaya kami mencari keajaiban untuk tetap hidup, kami tidak akan dapat menghindari takdir. Sedangkan takdir yang pasti dimiliki setiap manusia adalah mati.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda