Cerita Fiksi

Genta yang Urung Berdentang

Genta yang Urung Berdentang
ilustrasi Genta yang Urung Berdentang (Gemini AI)

Ada sejenis aroma busuk yang hanya bisa tercium saat lembaran kertas ijazah bercampur dengan keringat dingin di bawah terik aspal yang membara. Mahasura meraba dadanya yang berdegup datar, berupaya keras memastikan segelintir harga diri yang tersisa di balik map plastik birunya belum sepenuhnya menguap menjadi fatamorgana jalanan. Di sela bibirnya yang mengering, pecah, dan mengelupas, sebatang rumput ilalang mencuat lesu, bergerak naik turun seiring helaan napasnya yang patah-patah dan sarat akan keputusasaan. Ia mendongak, menyaksikan bagaimana awan kelabu berarak lamban di langit kota, berkejaran tanpa arah yang pasti seperti kompas hidupnya hari ini. Dengan jaket denim lusuh yang melekat longgar di pundaknya yang kian tirus akibat didera lapar dan angan-angan, ia kembali menyeret langkah gontainya, menuju takdir yang entah di mana ujungnya berada.

"Kau masih mencari gedung dengan pilar marmer itu, Sura?" sebuah suara serak dan berat tiba-tiba menghentikan langkahnya di bawah rindang pohon akasia yang meranggas.

Seorang lelaki tua berkaus kutang dekil yang sedang sibuk menambal ban sepeda motor mendongak. Ia menatap Mahasura dengan sepasang mata keruh yang telah khatam membaca lembaran-lembaran kerasnya trotoar kota, mata yang menyimpan rekaman tentang ribuan mimpi anak muda yang mati muda di tepi jalan.

Mahasura memaksakan segaris senyum di wajah murungnya, sebuah topeng kepalsuan untuk menutupi remuk redam di dada. "Tinggal satu jawatan ini yang belum saya datangi, Pak. Formasi analis data. Di atas kertas, kualifikasi dan kompetensi saya masuk."

"Di atas kertas, semua anak muda di kota ini adalah calon menteri," potong lelaki tua itu sembari meludah ke tanah, menyemburkan kejengkelan pada realitas. "Tapi di atas aspal, kalian hanya antrean angka-angka statistik yang menunggu giliran untuk dilupakan oleh zaman. Pulanglah, ijazahmu itu terlalu bersih dan suci untuk dikotori oleh debu jalanan yang sekasar ini."

"Empat tahun saya bergulat dengan buku dan diktat kuliah, Pak. Ibu saya di kampung bahkan sampai menjual dua petak sawah peninggalan almarhum Bapak demi jaminan masa depan ini," bisik Mahasura, lebih kepada dirinya sendiri, mencoba mengais kembali remah-remah motivasi yang terserak. "Saya tidak bisa pulang dengan tangan hampa. Saya tidak boleh mengecewakan perempuan yang bertaruh nyawa demi gelar saya."

Lelaki tua itu hanya mendengus hambar, lalu kembali menekan ban dalam ke dalam wadah air yang keruh untuk mencari kebocoran. Ia membiarkan Mahasura kembali melangkah membelah sisa siang yang kian memanggang kulit.

Ketika kakinya menapak di pelataran Jawatan Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, bulu kuduk Mahasura meremang hebat. Bangunan megah itu berdiri angkuh dengan pilar-pilar batu kelabu yang kokoh, menjulang seolah menantang langit. Ia mendorong pintu kaca besar yang dingin, melangkah masuk ke dalam ruang resepsionis yang seketika membuai indra penciuman dengan aroma pinus hiasan dan kertas baru yang khas. Di balik meja melengkung yang mewah dari kayu jati, seorang wanita muda dengan riasan wajah tanpa cela sedang sibuk menatap layar monitor dengan jemari yang menari lincah.

"Selamat siang, Mbak," sapa Mahasura sembari mendekap map plastiknya erat-erat di depan dada, persis seperti seorang prajurit kalah perang yang mati-matian melindungi perisai terakhirnya. "Saya ingin menyerahkan berkas fisik untuk lowongan analis data."

Wanita itu menghentikan ketukannya di atas papan tik. Ia mengangkat wajah, menatap Mahasura dari ujung rambut, turun ke jaket denimnya, hingga berhenti di sepatu pantofelnya yang telah kehilangan kilau sejati akibat kikisan debu trotoar. Tatapan tersebut sangat pendek dan sekilas, namun cukup tajam untuk menguliti seluruh rasa percaya diri yang telah dikumpulkan oleh Mahasura dengan susah payah sejak subuh.

"Maaf sekali, Mas," ujar wanita itu dengan senyum profesional yang dingin, sebuah jenis keramahan yang tampaknya telah diotomatisasi oleh sistem birokrasi. "Untuk formasi analis data sudah ditutup sejak dua hari yang lalu."

Mahasura tertegun, seolah ada bongkahan es yang mendadak menyumbat tenggorokannya. "Ditutup? Tapi di laman resmi jawatan dan pengumuman daring, tenggat waktunya baru besok sore, Mbak."

"Kuota sudah terpenuhi lewat jalur penempatan khusus dari pusat," jawab wanita itu datar, tanpa beban, seolah sedang mengumumkan perubahan cuaca harian yang sangat sepele. "Saat ini kami sudah tidak menerima lowongan atau berkas apa pun lagi untuk lulusan baru."

"Apakah tidak bisa berkas saya disimpan dulu untuk pertimbangan mendesak atau cadangan, Mbak? Saya lulusan terbaik dengan predikat pujian," suara Mahasura mulai bergetar samar. Ada nada memohon yang amat sangat, sebuah harga diri yang merendah hingga ke titik nadir, yang berusaha ia sembunyikan di balik sisa ketegasannya sebagai seorang sarjana.

"Tidak bisa, Mas. Tiada lowongan lagi. Peraturannya sudah jelas dan mutlak," pungkas wanita itu. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke layar monitor, menganggap eksistensi Mahasura di ruangan itu telah selesai dan tidak lagi berarti.

Tiada lowongan. Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepala Mahasura, menjelma menjadi dengung ribuan lebah yang menyakitkan telinga dan menusuk otaknya. Ia melangkah mundur perlahan dengan kaki yang mendadak mati rasa, mengangguk patah-patah sebagai bentuk kesopanan terakhir yang tersisa, lalu membalikkan badan menghadapi pintu keluar. Saat pintu kaca otomatis terbuka, udara panas kota langsung menampar wajahnya dengan kasar, seolah menyadarkannya kembali dari mimpi buruk menuju realitas yang jauh lebih brutal.

Ia merosot di anak tangga teratas gedung megah tersebut, menatap halaman jawatan yang luas, bersih, dan steril dari kemiskinan. Dunia di sekitarnya mendadak kehilangan warna, berubah menjadi monokrom yang mencekam. Pohon-pohon palem yang berjajar rapi di tepi jalan kini tampak seperti tiang-tiang gantungan yang siap mengeksekusi sisa-sisa impiannya.

"Hei! Jangan duduk di tangga, mengganggu pemandangan tamu dan pejabat yang lewat!" bentak seorang petugas keamanan bertubuh tegap yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, dengan tangan kanan bertumpu angkuh di atas gada hitam di pinggangnya.

Mahasura mendongak lesu, matanya menyiratkan kelelahan yang teramat dalam. "Saya hanya menumpang duduk sebentar, Pak. Kaki saya kram dan kepala saya agak pusing."

"Kalau mau kram atau pusing jangan di sini. Di halte sana atau di bawah pohon seberang jalan," usir petugas itu tanpa perasaan, tatapannya penuh selidik seolah Mahasura adalah sebuah ancaman keamanan. "Gedung ini tempat orang-orang penting berkantor, bukan tempat melamun atau mengemis belas kasihan."

Tanpa membantah, karena ia tahu argumennya tidak akan bernilai di hadapan seragam, Mahasura bangkit. Ia melangkah meninggalkan pelataran berpagar besi itu menuju pembatas jalan, lalu berlindung di bawah bayang-bayang pohon akasia yang meranggas daunnya. Ia membuka tas ranselnya yang berbau apek akibat peluh berhari-hari, kemudian mengeluarkan lembaran kertas tebal bersertifikat bertuliskan namanya dengan tinta kaligrafi yang indah, yakni Mahasura, S.Stat.

Gelar sarjana statistik itu sekarang terasa seperti sebuah eufemisme yang sarkastis, sebuah ejekan visual yang sangat nyata. Empat tahun lamanya ia bergelut dengan distribusi normal, regresi linear, pengujian hipotesis, dan teori probabilitas. Namun, ia sendiri tidak mampu memprediksi probabilitas perutnya untuk tetap kenyang pada esok hari. Logika matematika dan sains data yang selama ini diagungkannya di ruang kuliah runtuh berantakan di hadapan realitas pasar kerja yang tidak mengenal angka mati atau kurva prestasi, melainkan relasi hidup, kekuatan uang, dan kedekatan darah.

Sore mulai merangkak naik ketika langit berubah warna menjadi kirmizi yang pekat dan menyakitkan mata, sewarna dengan kain selendang toga yang melingkari lehernya saat hari wisuda penuh tawa dulu. Mahasura menatap awan berarak yang kini mulai berpendar keemasan di ujung barat, sangat kontras dengan kegelapan yang mulai menjalar di hatinya. Wajah murungnya semakin tenggelam dalam remang senja yang mulai turun mencuri cahaya bumi.

Ijazah ini, benda lembaran kertas tebal yang dibelinya dengan harga keringat, air mata, dan darah ibunya di desa, kini tidak lebih dari selembar kertas pembungkus gorengan jika dilihat dari sudut pandang utilitas perut yang lapar dan sedang meronta. Sia-sia. Benarkah semua pengorbanan ini berakhir sia-sia? Malam-malam panjang yang dihabiskan dengan meminum kopi instan murah penahan kantuk, mata yang perih dan merah menatap layar laptop pinjaman milik temannya, dan argumen-argumen akademis yang meledak-ledak penuh idealisme di ruang seminar. Apakah semua itu hanya lelucon kosmis yang sengaja diciptakan oleh Tuhan atau semesta untuk menertawakan kemiskinannya?

Setengah putus asa dan kehilangan pegangan, Mahasura merosot ke tanah yang berdebu, menyandarkan punggungnya pada tiang lampu jalan yang belum menyala. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan yang mulai kasar karena kerasnya hidup. Di balik kegelapan yang diciptakan oleh jemarinya sendiri, sekelebat bayangan sang ibu yang sedang duduk di ambang pintu rumah panggung kayu mereka di desa muncul dengan begitu jernih, bagai proyeksi sinematik yang menyakitkan. Sang ibu sedang memandangi jalan setapak, menanti debu jalanan mengepul sebagai tanda kepulangan sang sarjana kebanggaan keluarga dengan senyum lebar yang belum luntur sejak hari pelantikan itu.

Air mata Mahasura akhirnya luruh juga, terasa hangat dan asin, membasahi sela-sela jarinya, melarutkan debu jalanan yang sedari tadi melekat erat di kulit wajahnya. Bibirnya yang retak bergerak tanpa suara, melafalkan sebuah kalimat pengakuan dosa yang paling ditakutinya untuk diucapkan sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di terminal kota ini.

"Maaf, Ibu. Anakmu gagal menjadi genta yang berdentang nyaring di menara kota. Anakmu hanya berakhir menjadi sebutir debu yang terselip di sela-sela roda gerobak kaum pemenang."

Malam benar-benar jatuh memeluk kota dengan hawa yang dingin, dan Mahasura masih terpaku di sana, mendekap jubah toganya di dalam tas yang mulai basah oleh air mata yang tak kunjung surut. Di langit atas, awan-awan telah sepenuhnya berubah legam, menyembunyikan bintang-bintang yang barangkali juga sedang enggan, atau mungkin terlampau malu, untuk menyaksikan kekalahan telak seorang sarjana muda di kolong belantara beton.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda