Cerita Fiksi

Surat untuk Hari yang Telah Berlalu

Surat untuk Hari yang Telah Berlalu
Ilustrasi Gambar Surat Cinta untuk Hari yang Telah Berlalu (Sumber Gambar Gemini AI/Nano Banana)

Sudah hampir sepuluh tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat itu. Bangunannya tidak banyak berubah. Dinding yang mulai kusam masih dipenuhi rak-rak kayu tua, lampu-lampu kuning masih menggantung rendah di langit-langit, dan aroma kertas lama masih sama seperti yang ia ingat.

Hanya satu hal yang berbeda.

Orang yang dulu selalu menunggunya di sudut jendela kini tidak pernah ada lagi.

Namanya Kirana. Cinta pertama Arga, sekaligus orang yang paling ia sesali karena pernah ia tinggalkan.

Arga berjalan menyusuri rak bagian belakang, mencari buku-buku lama yang diminta kepala perpustakaan untuk dipindahkan. Tempat itu sudah hampir kosong. Hanya suara hujan yang mengetuk kaca dan bunyi jam dinding yang terdengar di antara kesunyian.

Saat hendak mengambil sebuah kardus, kakinya menyenggol sesuatu.

Sebuah kotak pos.

Ukurannya kecil, terbuat dari besi hitam yang sudah berkarat. Bentuknya seperti kotak surat zaman dahulu, dengan lubang sempit di bagian depan dan sebuah tulisan yang hampir pudar.

KIRIMKAN KEPADA HARI YANG TELAH BERLALU.

Arga mengernyit. Ia tertawa kecil. "Siapa yang taruh ini di sini?"

Di bagian bawah kotak terdapat sebuah celah kecil. Entah mengapa, Arga merasa seolah-olah benda itu sedang menunggunya.

Ia teringat Kirana. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dadanya terasa sesak.

Sepuluh tahun.

Selama sepuluh tahun, ia berharap bisa kembali ke satu hari yang sama.

Hari ketika Kirana berdiri di depan pintu perpustakaan dengan mata yang sembap, sementara Arga memilih pergi karena sebuah pertengkaran kecil yang ia kira tidak akan pernah menjadi akhir.

Hari terakhir mereka bertemu sekaligus hari sebelum tragedi itu terjadi.

Arga duduk di lantai. Tangannya gemetar ketika mengambil selembar kertas dari tas. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena rindu, mungkin karena penyesalan, atau mungkin karena manusia selalu ingin memperbaiki sesuatu ketika semuanya sudah terlambat.

Ia menulis.

"Kirana. Kalau surat ini bisa sampai kepadamu, aku ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya kukatakan sepuluh tahun yang lalu."

Ia berhenti, lalu menulis lagi.

"Maaf."

Hanya satu kata. Namun terasa jauh lebih berat daripada seluruh kalimat yang pernah ia ucapkan. Arga memasukkan surat itu ke dalam kotak pos. Tidak terjadi apa-apa. Ia hampir tertawa karena merasa bodoh.

Namun beberapa detik kemudian, terdengar bunyi kecil dari dalam kotak.

Klik.

Arga membukanya. Surat itu sudah tidak ada. Sebagai gantinya, terdapat selembar kertas lain di dalamnya.

Tulisan di atasnya membuat darah Arga seakan berhenti mengalir.

13 Agustus 2016.

Tanggal sepuluh tahun yang lalu.

Di bawah tanggal itu tertulis:

"Kirana menerima suratmu."

Arga berdiri dengan napas tertahan.

"Enggak mungkin..."

Malam itu, ia mencoba mengirim surat kedua. Kemudian surat ketiga. Setiap surat selalu menghilang, dan setiap pagi selalu ada jawaban.

Awalnya Kirana mengira seseorang sedang mengerjainya. Kemudian ia mulai percaya.

Mereka pun mulai berkomunikasi melalui surat.

Arga mengetahui bahwa pada masa itu Kirana masih duduk di bangku kuliah. Ia masih suka membaca novel di sudut perpustakaan, masih menyimpan tiket bioskop pertama mereka, dan bahkan masih menyimpan foto Arga yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihatnya.

Lalu Arga menulis sesuatu yang paling ingin ia tanyakan.

"Kenapa waktu itu kamu menangis?"

Jawaban Kirana datang keesokan harinya.

"Karena aku pikir kamu benar-benar meninggalkanku."

Arga menutup mata. Ia ingat hari itu.

Mereka bertengkar karena Arga mendapat tawaran pekerjaan di luar kota. Kirana meminta Arga untuk tidak pergi tanpa membicarakannya terlebih dahulu.

Arga menganggap Kirana terlalu mengekangnya. Ia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih menghantuinya.

"Kalau begitu, kita selesai saja."

Kirana menangis, dan Arga pun pergi.

Malamnya, Kirana meneleponnya berkali-kali, namun Arga tidak menjawab.

Keesokan paginya, tragedi itu terjadi.

Bus yang ditumpangi Kirana mengalami kecelakaan di jalan pegunungan, dan tidak ada kesempatan kedua bagi Arga untuk memperbaiki kesalahannya.

Setidaknya, begitulah yang selama ini Arga percaya. Kini ia memiliki kesempatan itu. Maka ia menulis dengan tangan gemetar.

"Jangan naik bus itu besok."

Tidak ada jawaban. Hari berikutnya, kotak pos tetap kosong.

Arga panik. Ia menulis lagi.

"Kirana, tolong dengarkan aku. Besok jangan pergi ke mana-mana. Jangan naik bus, apa pun alasannya."

Jawaban akhirnya datang.

"Arga, apa yang sebenarnya terjadi?"

Arga menatap tulisan itu lama. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya berasal dari masa depan. Namun ia harus membuat Kirana percaya padanya.

Ia menulis seluruh kejadian yang ia ingat. Jam keberangkatan, nomor bus, jalan yang akan dilalui, dan bahkan warna jaket yang dikenakan sopir bus.

Keesokan harinya, sebuah surat muncul.

"Aku tidak naik bus itu."

Arga menangis. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia menangis bukan karena kehilangan. Melainkan karena seseorang yang ia cintai masih hidup.

Namun surat berikutnya membuat senyumnya menghilang.

"Tapi Arga, kecelakaan itu tetap terjadi."

Arga membeku.

"Bus itu menabrak kendaraan lain. Banyak orang yang terluka. Kalau aku tetap naik, mungkin aku akan berada di sana. Tapi sekarang aku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang kita ubah?"

Arga menatap kotak pos itu. Ia baru menyadari sesuatu. Masa lalu bukan halaman buku yang bisa dihapus dan ditulis ulang sesuka hati. Setiap perubahan pasti memiliki konsekuensi.

Ia mengirim surat terakhir.

"Aku tidak ingin mengubah dunia, Kirana. Aku hanya ingin menyelamatkanmu."

Jawaban Kirana datang beberapa menit kemudian.

"Kalau begitu, jangan selamatkan aku sendirian."

Arga terdiam.

"Tapi selamatkan kita."

Malam itu, Arga menulis surat paling panjang dalam hidupnya. Ia meminta maaf. Bukan hanya karena meninggalkan Kirana. Tetapi karena selama bertahun-tahun ia menyalahkan hari terakhir mereka, seolah-olah tragedi itu adalah satu-satunya alasan mereka berpisah. Padahal sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka sudah sama-sama terluka.

Ia mengakui ketakutannya, ia mengakui kesombongannya, dan ia mengakui bahwa ia mencintai Kirana, tetapi tidak pernah cukup dewasa untuk mempertahankan cinta itu.

Di akhir surat, ia menulis:

"Kalau aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi, setidaknya aku ingin mengubah orang yang akan menjadi diriku setelah hari itu."

Surat itu dimasukkan ke kotak. Kali ini, tidak ada jawaban.

Arga menunggu. Satu menit, sepuluh menit, satu jam, hingga akhirnya terdengar bunyi klik.

Sebuah surat jatuh ke lantai. Tulisan tangan Kirana.

"Kalau suatu hari nanti kita bertemu lagi, jangan pergi ketika aku memintamu untuk tinggal."

Arga menangis. Lalu kotak itu menghilang begitu saja, seolah-olah tidak pernah ada di situ sejak awal.

Keesokan paginya, Arga kembali ke perpustakaan.

Di sudut yang sama, ia menemukan seorang perempuan sedang duduk membaca buku. Rambutnya tergerai sampai sebahu. Jarinya membalik halaman dengan perlahan.

Arga berhenti melangkah, membuat perempuan itu mendongak hingga mata mereka saling bertemu.

"Kamu Arga, kan?"

Arga tidak mampu menjawab.

Perempuan itu tersenyum.

"Kenapa lihat-lihat?"

Air mata mengalir di pipi Arga. Ia tertawa kecil di antara tangisannya.

"Kirana?"

Perempuan itu mengangguk.

"Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?"

Arga menggeleng.

"Belum."

Kirana mengernyit.

"Lalu kenapa kamu menangis?"

Arga mengusap air matanya.

"Karena aku baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama hilang."

"Apa?"

Arga tersenyum.

"Kesempatan."

Kirana tertawa kecil.

"Kalau begitu, jangan disia-siakan."

Arga duduk di kursi di hadapannya. Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ia tidak pergi.

Hujan turun di luar jendela. Sama seperti malam ketika ia menemukan kotak pos tua itu. Namun kali ini, tidak ada penyesalan yang menunggu di balik suara hujan. Yang ada hanya dua orang yang sedang belajar mengenal satu sama lain lagi.

Dan di bawah meja, tanpa sepengetahuan mereka, selembar kertas tua tergeletak. Tulisan di atasnya perlahan memudar.

Surat terakhir telah dikirim. Masa lalu tidak perlu diubah. Cukup seseorang berani memilih pilihan yang berbeda, ketika kesempatan itu kembali datang padanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda