Cerita Fiksi

Tupi dan Wajah Muram Legendaris Penyelamat Hutan Rindang

Tupi dan Wajah Muram Legendaris Penyelamat Hutan Rindang
Ilustrasi Tupi dan Wajah Muram Legendaris Penyelamat Hutan Rindang (Gemini AI/Nano Banana)

Di Hutan Rindang, administrasi logistik musim dingin dikelola oleh Musa si Musang Koordinator di bawah pimpinan Pak Bera si Beruang Besar. Di mata Pak Bera, Musa adalah pekerja yang luar biasa rajin.

Setiap kali Pak Bera melintas, Musa selalu terlihat sibuk bukan main—berlari ke sana kemari, mengangkat ranting, dan mengelap batu pijakan hingga berkilau. Musa adalah master dalam menciptakan panggung pamer performa. Ia selalu memastikan hal-hal sepele yang kasat mata terlihat sempurna di depan sang bos besar.

Namun, kondisi di dalam Gua Arsip yang gelap dan pengap berbanding terbalik. Di sanalah Tupi tinggal. Tupi adalah seekor tupai muda, lulusan baru dari Sekolah Hutan yang paling junior di divisi tersebut. Meski bertubuh kecil, Tupi memiliki dedikasi tinggi. Ia selalu datang paling awal dengan rompi daun rajutnya yang disetrika rapi, tak pernah absen menyapa Pak Bera dengan ramah dan ceria.

Ketika melihat gulungan dokumen logistik berantakan dan robek karena Musa enggan menyentuh pekerjaan administratif, Tupi tidak mengeluh. Ia bahkan rela menyisihkan kacang dari tabungan pribadinya demi membeli getah perekat berkualitas tinggi dari Hutan Seberang untuk menambal dokumen yang rusak. Pak Bera dan rekan-rekan hewan lainnya sangat menghormati konsistensi serta kerajinan si tupai kecil ini.

Sayangnya, dedikasi Tupi membentur batas ketidakadilan. Bulan demi bulan berlalu, Musa semakin menelantarkan tugas utamanya. Pembagian makanan musim dingin terbengkalai, laporan stok buah membusuk, dan seluruh beban kerja nyata dialihkan secara paksa ke pundak Tupi.

Rekan-rekan Tupi—seperti tupai tanah dan burung pipit—mengalami nasib serupa, namun terlalu takut membantah senioritas Musa. Tupi berada di titik jenuh dan mengalami burnout hebat. Ketika meminta petunjuk, Musa hanya mengibaskan ekornya dan menyuruh Tupi mengurusnya sendiri dengan alasan Tupi masih muda dan harus banyak belajar, sementara Musa sibuk menata dekorasi bunga di depan gua Pak Bera.

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang terik. Tupi baru saja menyelesaikan perhitungan logistik yang rumit sendirian hingga matanya perih. Saat berjalan keluar dengan bahu merosot dan rompi daun yang kusut, ia melihat Pak Bera melangkah keluar untuk meninjau area kerja. Seketika itu pula, Musa langsung melompat, mengambil sapu lidi, dan membersihkan daun kering di dekat kaki Pak Bera dengan napas yang sengaja dibuat terengah-engah.

Biasanya, Tupi akan merapikan penampilan dan menyapa Pak Bera dengan riang. Namun hari itu, energi positifnya telah habis. Saat melintas persis di depan Pak Bera, Tupi sengaja tidak menyapa. Ia memasang wajah paling bete, cemberut, dan ketus. Matanya menatap lurus ke tanah dengan dahi berkerut dalam, memancarkan aura frustrasi yang teramat sangat, lalu melewati sang pemimpin begitu saja.

Begitu Pak Bera menjauh, Musa langsung menyergap Tupi dengan wajah merah padam. Ia mengomeli Tupi karena dianggap mempermalukan divisinya dan berpotensi membuat mereka diusir dari hutan. Tupi hanya menatap Musa dengan pandangan kosong; ia terlalu lelah untuk takut.

Namun, baik Tupi maupun Musa tidak menyadari bahwa Pak Bera pulang ke guanya dengan dahi berkerut penuh tanda tanya. Langkah Tupi yang lesu dan wajahnya yang muram terus berputar di pikiran Pak Bera. Sang pemimpin paham betul bahwa tupai seceria Tupi tidak akan merengut tanpa alasan yang sangat besar.

Malam itu, Tupi merenung di sarangnya. Ia sadar menegur Musa secara langsung adalah hal yang mustahil karena struktur jabatan. Namun, membiarkan sistem ini terus berjalan berarti membiarkan dirinya dan rekan-rekannya mati perlahan karena kelelahan. Tupi akhirnya mengambil langkah nekat: melompati rantai jabatan.

Ia menulis sepucuk surat singkat di atas daun kering dan menyelipkannya langsung ke sarang pribadi Pak Bera untuk meminta waktu bicara empat mata demi masa depan Hutan Rindang. Tupi tahu ini adalah taruhan besar yang berisiko membuat dirinya dipecat.

Di luar dugaan, respons Pak Bera secepat kilat. Khawatir kehilangan aset terbaiknya yang mendadak mengirimkan surat bernada mendesak, Pak Bera langsung berjalan cepat menuju area kerja logistik malam itu juga.

Melihat kedatangan bos besar yang mendadak, Musa langsung kelabakan dan berpura-pura sibuk mengelap pembatas jalan. Namun kali ini, Pak Bera bahkan tidak melirik Musa sedikit pun. Langkah beratnya berhenti tepat di depan meja kecil Tupi. Dengan suara berat namun lembut, Pak Bera bertanya tentang sebab wajah muram Tupi dua hari lalu dan isi surat yang dikirimkannya.

Di hadapan Pak Bera, dan di bawah tatapan nanar Musa yang mulai gemetaran, Tupi menegakkan punggungnya. Ia bertindak sebagai whistleblower bagi seluruh rekan-rekannya. Dengan tenang namun tegas, Tupi membeberkan semuanya: sistem administrasi yang terbengkalai, pelimpahan tugas sewenang-wenang oleh Musa, hingga aksi Musa yang hanya sibuk mencari muka. Tupi bahkan menunjukkan bukti gulungan dokumen yang ia perbaiki dengan modal tabungannya sendiri.

Mendengar penuturan itu, aura kepemimpinan Pak Bera berubah sangat tegas. Ia memberikan teguran keras kepada Musa di depan seluruh hewan, mengingatkan bahwa esensi seorang pemimpin divisi bukan dinilai dari seberapa bersih jalanan di depan gua bos, melainkan dari kerapian sistem dan kesejahteraan anggotanya.

Pak Bera tidak memecat Musa, tetapi memberinya kesempatan kedua dengan syarat mutlak: Musa diwajibkan duduk di dalam Gua Arsip dan menyelesaikan seluruh sistem administrasi yang terbengkalai di bawah pengawasan langsung Pak Bera.

Setelah hari itu, suasana kerja berubah total. Musa tak bisa lagi berpura-pura sibuk di luar karena harus fokus menyelesaikan tugas administratifnya yang menumpuk. Beban kerja Tupi dan rekan-rekannya kini terbagi dengan adil. Tupi akhirnya bisa tersenyum riang kembali mengenakan rompi daun rajutnya—semua berawal dari selembar surat nekat dan sebuah wajah bete yang legendaris.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda