Cerita Fiksi
Sepiring Nasi Goreng di Pinggir Jalan
Hujan baru saja berhenti ketika Liam menurunkan sebuah tas ransel hitam dari pundaknya. Ia berdiri di depan rumah yang sudah hampir tiga tahun tidak dilihatnya.
Rumah kecil dengan cat yang mulai mengelupas. Warung sederhana dengan atap di atasnya. Dan sebuah papan kayu bertuliskan:
NASI GORENG PAK DARNO
Tulisan itu masih sama seperti yang ia ingat. Hanya saja, kini cat putihnya tampak semakin pudar.
Liam menarik napas panjang. Ia sudah membayangkan kepulangannya berkali-kali selama perjalanan dari kota. Namun tidak satu pun dari bayangan itu membuat dadanya terasa seringan ini.
Ia gagal.
Lamaran pekerjaannya ditolak berkali-kali. Uang tabungannya habis untuk membayar kamar kos dan kebutuhan sehari-hari. Proyek kecil yang sempat ia bangun bersama temannya juga berakhir tanpa hasil. Pada akhirnya, ia pulang dengan satu tas pakaian dan harga diri yang terasa tertinggal entah di mana.
Dari dalam warung terdengar suara spatula beradu dengan wajan.
Klang!
Aroma bawang putih, kecap, dan nasi yang digoreng memenuhi udara.
Liam menoleh.
Seorang laki-laki tua berdiri di balik gerobak. Rambutnya sudah lebih banyak putih dibandingkan terakhir Liam melihatnya. Tubuhnya juga terlihat lebih kurus. Namun tangannya masih cekatan mengaduk nasi di atas kuali besar.
Ayahnya, Pak Darno.
Liam berdiri beberapa detik sebelum akhirnya melangkah mendekat.
"Ayah."
Tangan Pak Darno berhenti. Ia tidak langsung menoleh. Hanya beberapa detik, kemudian laki-laki tua itu melirik dari sudut matanya.
"Oh."
Satu kata. Seolah anaknya yang sudah bertahun-tahun pergi baru saja pulang dari membeli sesuatu di ujung gang.
Liam tersenyum hambar.
"Aku pulang."
Pak Darno kembali mengaduk nasi.
"Ya."
Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan tentang perjalanan. Tidak ada kalimat, Ayah merindukanmu. Yang ada hanya suara kuali yang kembali berisik.
Liam menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ia justru merasa sedikit kecewa. Padahal seharusnya ia sudah tahu. Ayahnya memang seperti itu.
Sejak kecil, laki-laki tua itu tidak pernah pandai menunjukkan perasaan.
Ketika Liam mendapat nilai bagus, ayahnya hanya berkata, "Pertahankan."
Ketika Liam memenangkan lomba menulis di sekolah, ayahnya hanya berkata, "Bagus."
Bahkan ketika Liam berangkat ke kota untuk mengejar pekerjaan impiannya, ayahnya hanya menyerahkan sejumlah uang dan berkata, "Jangan boros."
Tidak pernah ada kata bangga. Tidak pernah ada kata rindu. Setidaknya, tidak dengan cara yang Liam pahami.
"Ayah..."
"Hm?"
"Aku boleh bantu?"
Pak Darno menatapnya sebentar.
"Kamu tahu cara bikin nasi goreng?"
Liam terdiam.
"...Tidak."
"Ya sudah, cuci piring."
Liam hampir tertawa.
"Baik."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara. Liam mencuci piring, dan ayahnya memasak. Sesekali pelanggan pun datang.
"Nasi goreng satu, Pak!"
"Pedas?"
"Sedang."
Pak Darno mengangguk.
Gerakannya cepat dan terampil. Segenggam nasi masuk ke kuali, disusul telur, daun bawang, bumbu, kecap, dan sedikit minyak.
Sret!
Asap mengepul. Api menyala terang. Dalam hitungan menit, sepiring nasi goreng sudah tersaji.
Liam memperhatikan ayahnya dari kejauhan. Ia baru menyadari sesuatu. Selama bertahun-tahun, mungkin inilah kehidupan ayahnya. Bangun pagi. Berbelanja bahan makanan. Menyiapkan warung. Memasak hingga larut malam. Lalu mengulanginya lagi keesokan harinya.
Tanpa mengeluh, tanpa pergi ke mana-mana, dan tanpa mengejar sesuatu yang lebih besar.
Liam pernah menganggap kehidupan seperti itu membosankan. Sekarang, setelah merasakan kerasnya kota, ia justru melihatnya dengan cara berbeda. Ada sesuatu yang tenang di sana.
Sesuatu yang dulu tidak pernah ia pahami.
***
Hari-hari berikutnya berjalan sederhana. Liam membantu ayahnya di warung. Pagi digunakan untuk membeli bahan. Sore mereka menyiapkan gerobak. Dan malam mereka memasak sampai warung tutup.
Pada awalnya, semuanya terasa canggung. Mereka lebih sering berbicara tentang harga telur daripada tentang perasaan.
"Telur naik lagi."
"Berapa?"
"Seribu."
"Kurangi daun bawangnya."
Namun perlahan, percakapan kecil mulai berubah.
"Besok mau pergi ke pasar?"
"Iya."
"Bangunin Ayah."
"Jam berapa?"
"Jam lima."
"Jam lima pagi?"
"Memangnya pasar buka siang?"
Liam tertawa.
Ayahnya hanya mendengus. Tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Hubungan mereka tidak berubah dalam satu malam. Tidak ada percakapan dramatis. Tidak ada tangisan dan pelukan tiba-tiba. Yang ada hanya kebiasaan kecil.
Suatu malam, ketika warung sedang sepi, Liam duduk di kursi plastik sambil menatap jalan.
"Ayah."
"Hm?"
"Kalau aku gagal di kota... Ayah kecewa?"
Pak Darno yang sedang membersihkan kuali berhenti. Ia tidak langsung menjawab.
"Kenapa tanya begitu?"
"Karena aku pulang."
"Memangnya pulang itu dosa?"
Liam terdiam.
Pak Darno kembali menggosok kuali.
"Kalau kamu masih mau berdiri, ya berdiri lagi."
Liam menatap punggung ayahnya.
"Aku pikir Ayah bakal marah."
"Untuk apa?"
"Karena aku gagal."
Pak Darno meletakkan spons, kemudian ia menatap anaknya.
"Liam."
"Iya?"
"Orang tua itu bukan cuma bangga ketika anaknya berhasil."
Liam membisu.
"Kalau kamu jatuh, ya dibantu berdiri."
Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, dada Liam terasa sesak. Selama ini ia terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri sampai lupa bahwa ada seseorang yang sebenarnya tidak pernah meminta ia melakukannya sendirian.
"Kenapa Ayah nggak pernah bilang begitu dari dulu?"
Pak Darno mengangkat bahu.
"Memangnya harus bilang?"
Liam tertawa kecil.
"Nah, itu masalahnya."
ayahnya ikut tersenyum.
"Ya sudah. Sekarang kamu sudah tahu."
***
Beberapa bulan berlalu. Warung mereka mulai sedikit lebih ramai.
Liam membuat akun media sosial untuk warung itu. Ia memotret nasi goreng buatan ayahnya, menuliskan lokasi warung, dan mengunggahnya setiap malam. Awalnya hanya beberapa orang yang datang. Kemudian semakin banyak.
Ada mahasiswa, pengemudi ojek, pekerja kantoran, dan bahkan beberapa orang sengaja datang dari tempat yang cukup jauh hanya untuk mencoba nasi goreng Pak Darno.
Suatu malam, warung mereka penuh. Liam sibuk mencatat pesanan. Ayahnya memasak tanpa henti.
"Liam!"
"Iya?"
"Pesanan meja tiga!"
"Yang seafood?"
"Yang biasa!"
"Baik!"
Malam itu mereka hampir tidak sempat berbicara. Namun di tengah kesibukan, Liam melihat sesuatu.
Ayahnya tampak bahagia. Bukan bahagia yang besar dan mencolok. Hanya senyum kecil setiap kali pelanggan mengatakan nasi gorengnya enak. Senyum yang selama ini jarang Liam lihat.
Ketika warung akhirnya tutup, mereka duduk berdua di pinggir jalan. Dua piring nasi goreng diletakkan di atas meja plastik.
Sederhana. Tanpa lauk mahal. Tanpa restoran mewah. Hanya nasi, telur, ayam suwir, daun bawang, dan sedikit kerupuk.
Liam mengambil suapan pertama.
"Enak."
Pak Darno mendengus.
"Ya memang."
Liam tertawa.
Mereka makan dalam diam. Lampu jalan menerangi trotoar. Suara kendaraan terdengar sesekali. Angin malam membawa aroma sisa masakan dari warung.
"Ayah."
"Hm?"
"Terima kasih."
Pak Darno berhenti makan.
"Untuk?"
"Karena sudah membiarkan aku pulang."
Laki-laki tua itu menatap anaknya cukup lama. Kemudian ia menghela napas.
"Ini rumahmu."
Liam menunduk.
"Aku kira Ayah bakal bilang aku harus sukses dulu baru boleh pulang."
"Kalau begitu Ayah bodoh."
Liam tertawa.
Pak Darno mengambil kerupuk dari piringnya dan mematahkannya menjadi dua. Sebagian ia letakkan di piring Liam.
"Makan."
Liam menatap kerupuk itu. Kecil, sederhana, namun tiba-tiba ia memahami sesuatu. Mungkin inilah bahasa cinta ayahnya. Bukan kata-kata, bukan pelukan, dan bukan pujian. Melainkan nasi yang disisihkan ketika ia belum makan. Uang yang diam-diam diselipkan ke dalam dompetnya. Jemputan ketika hujan turun. Dan separuh kerupuk yang diberikan tanpa diminta.
Liam tersenyum.
"Ayah."
"Hm?"
"Aku belum sukses."
Pak Darno mengunyahnya perlahan.
"Siapa bilang?"
Liam menatapnya.
"Ayah punya warung. Aku punya pekerjaan. Kita masih bisa makan malam bersama."
Pak Darno diam. Kemudian ia mengangguk kecil.
"Berarti cukup."
Liam tersenyum lebih lebar.
Di bawah lampu jalan yang temaram, mereka menghabiskan nasi goreng masing-masing. Tidak ada percakapan besar malam itu. Tidak ada janji tentang masa depan. Hanya dua orang yang duduk berdampingan, menikmati makanan sederhana setelah hari yang panjang.
Untuk pertama kalinya, Liam tidak merasa dirinya sebagai seseorang yang gagal. Ia hanya seseorang yang sedang menemukan jalan pulang.
Sementara di sampingnya, seorang Ayah yang tidak pernah pandai berkata sayang sedang menunjukkan perasaannya dengan caranya sendiri. Lewat sepiring nasi goreng. Lewat warung kecil di tepi jalan.
Dan lewat sebuah rumah yang ternyata tidak pernah benar-benar menutup pintu untuknya.