Cerita Fiksi
Warung Makan Ibu Sari
Suara klakson yang bersahutan. Deru mesin motor yang tak pernah benar-benar berhenti. Pedagang kaki lima yang membuka lapak, pintu toko yang digeser, dan langkah kaki orang-orang yang terburu-buru mengejar waktu.
Di antara semua suara itu, ada satu suara yang hampir selalu terdengar setiap pukul enam pagi.
“Nasinya baru matang! Jangan sampai kehabisan!”
Suara itu milik Bu Sari. Warung makannya hanya berupa bangunan kecil beratap seng di pinggir jalan. Dindingnya dicat hijau muda, meski sebagian besar cat sudah mengelupas dimakan panas dan hujan. Di depan warung terdapat empat meja kayu panjang dengan beberapa bangku yang tidak seragam.
Tidak ada papan nama besar. Hanya selembar papan kayu bertuliskan:
WARUNG MAKAN IBU SARI
Hurufnya dibuat menggunakan cat putih yang mulai pudar. Namun, bagi orang-orang yang setiap hari melewati jalan itu, warung tersebut jauh lebih mudah dikenali daripada gedung-gedung tinggi di seberangnya.
Sebab di sanalah mereka makan. Di sanalah mereka berhenti. Dan terkadang, tanpa mereka sadari, di sanalah mereka merasa sedikit lebih manusiawi.
***
Setiap pukul sebelas siang, meja paling dekat jendela hampir selalu ditempati oleh tiga orang.
Raka, pegawai kantor yang kemejanya selalu rapi. Dina, karyawan bagian administrasi yang sering makan sambil memeriksa ponselnya. Dan Pak Joko, pengemudi ojek daring yang jaket hijaunya hampir tidak pernah dilepas.
Awalnya mereka sebenarnya tidak saling mengenal.
Raka pertama kali datang karena bosnya mengatakan bahwa makanan Ibu Sari murah dan porsinya banyak. Dina ikut karena kantin kantor terlalu mahal. Sementara Pak Joko datang karena ia pernah kehujanan dan Bu Sari mempersilakannya berteduh meskipun saat itu ia belum membeli apa-apa.
Lama-kelamaan, mereka selalu duduk di meja yang sama.
“Seperti biasa, Bu,” kata Raka suatu siang. “Nasi, ayam kecap, sama es teh.”
“Dina?”
“Telur balado, tumis kangkung. Jangan terlalu banyak kuah, Bu.”
Bu Sari mengangguk.
“Pak Joko?”
“Indomie rebus saja, Bu. Hari ini orderan sepi.”
Bu Sari berhenti sebentar. “Kenapa tidak nasi?”
Pak Joko tersenyum. “Biar hemat.”
Bu Sari tidak menjawab. Ia hanya kembali ke dapur.
Beberapa menit kemudian, semangkuk nasi lengkap dengan telur dan sayur diletakkan di depan Pak Joko.
“Ini apa, Bu?”
“Bonus.”
“Saya nggak pesan.”
“Ibu yang pesan.”
Pak Joko tertawa kecil. “Kalau begitu, terima kasih, Bu.”
“Besok kalau orderanmu ramai, jangan lupa bayar.”
“Kalau begitu besok saya bayar dua kali.”
“Jangan dua kali. Utangmu yang kemarin saja belum lunas.”
Meja itu langsung dipenuhi tawa.
Begitulah Warung Bu Sari. Orang datang membawa masalah masing-masing, tetapi sering kali pulang dengan tawa yang tidak mereka rencanakan.
***
Tidak jauh dari meja mereka, biasanya duduk dua mahasiswa.
Namanya Fajar dan Nisa. Mereka selalu datang menjelang sore, ketika kuliah selesai tetapi sebelum matahari tenggelam.
Dua gelas es teh dan sepiring gorengan menjadi menu wajib.
“Bu, boleh utang?”
Bu Sari bahkan tidak menoleh.
“Tidak.”
“Besok saya bayar.”
“Kalimat itu sudah kamu pakai sejak semester lalu.”
Nisa tertawa.
“Bu, Fajar jangan didengarkan. Dia memang miskin.”
“Bukan miskin,” Fajar membela diri. “Aku sedang menjalani gaya hidup minimalis.”
“Minimalis dari uang?”
“Minimalis dari segala sesuatu.”
Bu Sari tertawa sambil menggeleng. Namun, diam-diam ia tahu bahwa kedua mahasiswa itu memang sering kesulitan.
Suatu sore, Fajar datang sendirian. Ia duduk di meja paling ujung, dan tidak memesan apa-apa.
Bu Sari yang sedang membersihkan piring memperhatikannya dari kejauhan.
“Kamu kenapa?”
Fajar menggeleng. “Nggak apa-apa, Bu.”
“Kalau tidak apa-apa, biasanya orang tidak duduk sendirian sambil melihat lantai.”
Fajar terdiam. Kemudian ia menghela napas. “Uang kos saya belum bisa dibayar.”
Bu Sari duduk di depannya. “Berapa?”
Fajar menyebutkan jumlahnya.
Bu Sari tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Lalu ia berdiri. “Ambil nasi.”
“Bu, saya nggak—”
“Ambil.”
Fajar menurut. Hari itu ia makan nasi, ayam, sayur, dan telur.
Setelah selesai, Bu Sari memberikan satu bungkus makanan.
“Ini buat malam.”
Fajar menatap bungkus itu. “Bu...”
“Belajar yang benar. Kalau nanti sudah sukses, jangan lupa sama warung kecil ini.”
Fajar tersenyum. “Kalau saya sukses, saya belikan Ibu gedung.”
“Tidak usah.”
“Kenapa?”
“Ibu cuma minta satu meja.”
“Satu meja?”
“Iya. Biar Ibu tetap bisa jualan.”
Fajar tertawa. “Baik, Bu.”
Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kalimat itu akan menjadi salah satu hal yang paling ia ingat dari masa kuliahnya.
***
Waktu berjalan. Orang-orang datang dan pergi. Ada yang berhenti hanya selama sepuluh menit, ada yang berjam-jam, ada yang datang setiap hari, dan ada pula yang tiba-tiba tidak pernah terlihat lagi.
Warung Bu Sari menjadi saksi kecil dari perubahan mereka.
Raka pernah datang dengan wajah bahagia karena mendapat promosi. Dina pernah menangis diam-diam karena putus dengan kekasihnya. Pak Joko pernah datang membawa kabar bahwa anaknya diterima sekolah. Fajar pernah duduk berhari-hari mengerjakan skripsi di meja pojok. Dan Nisa pernah menghilang selama beberapa minggu karena pulang kampung.
Sementara itu, Bu Sari selalu ada. Dengan panci yang mengepul, dengan suara sendok beradu dengan piring, dan dengan pertanyaan sederhana yang kadang terasa lebih berarti daripada nasihat panjang.
“Sudah makan?”
“Capek?”
“Kenapa murung?”
“Besok datang lagi, kan?”
Pertanyaan sederhana. Namun, bagi orang yang hidup di kota yang begitu sibuk, terkadang perhatian sederhana adalah kemewahan.
***
Waktu berjalan. Orang-orang datang dan pergi. Ada yang berhenti hanya selama sepuluh menit, ada yang berjam-jam, ada yang datang setiap hari, dan ada pula yang tiba-tiba tidak pernah terlihat lagi.
Warung Bu Sari menjadi saksi kecil dari perubahan mereka.
Raka pernah datang dengan wajah bahagia karena mendapat promosi. Dina pernah menangis diam-diam karena putus dengan kekasihnya. Pak Joko pernah datang membawa kabar bahwa anaknya diterima sekolah. Fajar pernah duduk berhari-hari mengerjakan skripsi di meja pojok. Dan Nisa pernah menghilang selama beberapa minggu karena pulang kampung.
Sementara itu, Bu Sari selalu ada. Dengan panci yang mengepul, dengan suara sendok beradu dengan piring, dan dengan pertanyaan sederhana yang kadang terasa lebih berarti daripada nasihat panjang.
“Sudah makan?”
“Capek?”
“Kenapa murung?”
“Besok datang lagi, kan?”
Pertanyaan sederhana. Namun, bagi orang yang hidup di kota yang begitu sibuk, terkadang perhatian sederhana adalah kemewahan.
Suatu malam, hujan turun sangat deras. Jalanan di depan warung berubah menjadi lautan kecil. Sebagian besar toko sudah tutup. Kantor-kantor tinggi di seberang jalan masih menyala, tetapi orang-orang yang biasanya memenuhi trotoar sudah menghilang.
Bu Sari sedang membereskan kursi ketika sebuah motor berhenti di depan warung.
Pak Joko turun dengan pakaian yang basah kuyup.
"Ibu, masih buka?”
Bu Sari menatap jam. “Kalau kamu datang, berarti masih buka.”
Pak Joko tersenyum. Ia masuk dan duduk di meja kayu yang biasa ditempatinya.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan muda berlari menuju warung. “Permisi, Bu! Boleh berteduh?”
“Boleh.”
Perempuan itu masuk dengan napas terengah-engah.
Beberapa menit kemudian, seorang mahasiswa menyusul.
Lalu seorang pegawai kantor.
Kemudian dua pengemudi ojek.
Tanpa disadari, warung kecil itu kembali penuh. Tidak ada yang saling mengenal. Mereka hanya sama-sama menunggu hujan.
Bu Sari membuatkan teh hangat, meskipun tidak ada yang meminta.
“Bayarnya nanti saja,” katanya.
Mereka duduk mengelilingi meja-meja kayu. Awalnya diam.
Kemudian seseorang mengeluh tentang jalan yang macet. Orang lain menimpali. Seorang mahasiswa bercerita tentang dosennya. Pak Joko menceritakan penumpangnya yang salah alamat. Pegawai kantor mengeluhkan atasannya.
Tawa perlahan memenuhi ruangan. Hujan masih deras. Tetapi tak seorang pun merasa terlalu tergesa untuk pergi.
***
Malam semakin larut ketika hujan akhirnya berhenti.
Orang-orang mulai berdiri. Satu per satu mereka mengucapkan terima kasih kepada Bu Sari.
“Berapa, Bu?”
“Lima ribu.”
“Tehnya?”
“Sudah.”
“Lho, Bu, saya pesan dua.”
“Yang satu buat menunggu hujan.”
Perempuan muda tadi tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
Bu Sari hanya mengangguk. Setelah semua pergi, warung kembali sepi. Ia memandangi meja-meja kayu yang berantakan.
Ada bekas tetesan air, ada remah makanan, ada tisu yang terlipat, dan ada satu gelas teh yang belum habis.
Bu Sari mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja. Ia sudah menjalani pekerjaan itu selama bertahun-tahun. Mungkin tidak ada yang istimewa.
Tidak ada restoran mewah, tidak ada lampu terang, dan tidak ada pelayan berseragam. Yang ada hanya sebuah warung kecil di pinggir jalan. Namun, tanpa disadari siapa pun, warung itu menyimpan begitu banyak kehidupan.
Di meja yang sama, seorang pegawai kantor pernah mendapatkan keberanian untuk mengundurkan diri. Di meja yang sama, seorang mahasiswa pernah menangis karena hampir menyerah dengan beban kuliah. Di meja yang sama, seorang pengemudi pernah menghitung uang untuk membeli susu anaknya.
Di meja yang sama pula, orang-orang yang awalnya tidak saling mengenal belajar bahwa ternyata mereka tidak sendirian.
***
Beberapa tahun kemudian, papan nama Warung Bu Sari akhirnya diganti.
Catnya baru, kayunya lebih bagus, namun meja-meja kayu lama tetap dipertahankan.
Fajar yang kini sudah menjadi seorang arsitek datang membawa papan nama baru itu. Ia menaruhnya di depan warung.
“Bu, bagaimana?”
Bu Sari melihatnya.
“Bagus.”
“Cuma bagus?”
“Bagus sekali.”
Fajar tersenyum. “Dulu saya janji mau belikan Ibu gedung.”
Bu Sari tertawa. “Ibu tidak pernah minta gedung.”
“Saya tahu.” Fajar memandang warung kecil itu. “Ibu cuma minta satu meja.”
Ibu Sari tersenyum.
“Dan meja itu masih ada.”
Mereka kemudian duduk bersama, di meja kayu yang sama.
Dari jalan terdengar suara klakson. Motor berlalu-lalang. Orang-orang berjalan tergesa. Kota masih sibuk seperti biasa. Tetapi di sudut kecil itu, waktu terasa berjalan sedikit lebih lambat.
Bu Sari menyodorkan sepiring nasi. “Makan.”
Fajar tertawa. “Bu, saya sudah sukses.”
“Orang sukses juga harus makan.”
Fajar mengambil sendok. “Iya, Bu.”
Ia menyuapkan nasi ke mulutnya. Dan untuk sesaat, ia kembali menjadi mahasiswa yang dulu duduk di meja yang sama, dengan uang pas-pasan dan mimpi yang masih terlalu besar untuk dirinya sendiri.
Warung itu mungkin kecil. Tetapi cerita yang tumbuh di dalamnya tidak pernah benar-benar kecil.
Sebab di tengah kota yang mengajarkan manusia untuk berlari, Warung Makan Bu Sari mengajarkan mereka satu hal sederhana. Sesekali, berhentilah. Duduk, dan makanlah. Dengarkan cerita orang lain. Karena mungkin, di antara kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, kehangatan justru ditemukan di tempat yang paling sederhana.
Di sebuah meja kayu. Dengan sepiring nasi hangat. Dan seseorang yang bertanya,
“Sudah makan?”